Menghadapi orangtua sensitif

Semakin tua usia, wajar memang jika seseorang menjadi lebih sensitif. Mudah sedih, mudah marah, dan bersikap kekanak-kanakkan. Sebagai anak, kadang terasa amat sulit menghadapinya. Namun sebetulnya bisa kok.

8,087 views   |   48 shares
  • Di usia dewasa ini, saat telah menikah dan memiliki anak-anak sendiri, pernahkah Anda merasa belakangan orangtua Anda jadi lebih sensitif? Mudah marah, mudah menangis, banyak drama, dan tidak mau mendengarkan Anda?

  • Hal ini sebetulnya wajar. Apalagi jika orangtua Anda kini telah berusia jelang 60 tahun, atau bahkan 60 tahun ke atas. Dr. Petrin Redayani LS, SpKJ menuturkan lansia merupakan salah satu fase yang krisis, karena pada saat itu terjadi perubahan fisik (otot melemah dan lambat berpikir), perubahan emosional yang terkadang menjadi lebih sensitif, serta menjadi kurang aktif (yang tadinya bekerja sekarang sudah pensiun).

  • Perubahan-perubahan inilah yang membuatnya jadi susah ditebak, dan seperti orang yang berbeda dari yang kita kenal sebelumnya. Bahkan kadang mereka jadi kekanak-kanakan. Misalnya, sudah diberi tahu tidak perlu membersihkan kamar mandi tetap membersihkannya sampai akhirnya terjatuh dan memerlukan perawatan rumah sakit. Atau kita absen meneleponnya dua atau tiga hari, dan dia marah-marah seolah-olah kita telah menelantarkannya seumur hidup. Akrab juga kah dengan drama serba salah? Dibelikan tas besar, dia bilang terlalu besar. Lalu dibelikan yang kecil, dia bilang tak muat jadi tak bisa dipakai.

  • Ada banyak contoh yang dapat diberikan namun semuanya mencerminkan satu tema yang sama yakni mereka bersikap seperti kanak-kanak: Sukar taat dan seolah-olah ingin menguji batas kesabaran kita. Untuk itu, kita harus berupaya memahami alasan mengapa orangtua sering bersikap seperti itu dan belajar menghadapinya.

  • Agar dapat tetap sabar menghadapi sikap "menyebalkan" nya, coba kita mulai dari diri sendiri. Anda kini telah memiliki anak, dan tahu persis kan sulitnya mengasuh anak? Nah, sekarang bayangkan saja rasanya jadi orangtua Anda dulu. Ia telah berjibaku mengurus Anda, menghabiskan banyak waktunya, mengurangi tidurnya, membuat ia kelelahan jiwa dan raga, serta menghabiskan banyak uang juga. Namun mereka tak pernah menyerah mengasuh dan mendidik Anda. Kini, saat mereka bersikap layaknya anak-anak, apakah Anda akan menyerah, atau mengabaikan orangtua? Tentu tidak, kan?

  • Setelah Anda memahami, bahwa kini giliran Anda untuk merawat mereka maka waktunya mencari tahu akar permasalahan sikap orangtua Anda. Direktur Kesehatan Jiwa Direktorat Bina Kesehatan Jiwa, Eka Viora, menerangkan bahwa munculnya rasa sensitif dipengaruhi tiga faktor, yakni sosial, psikologis, dan biologis. Lebih dalam, Eka memaparkan sisi biologis memiliki gambaran, usia menua dan penyakit-penyakit bermunculan yang kerap menyusahkan anak dan cucu. Kemudian, aktivitas terbatas, misalnya dulu ke mana-mana jalan kaki namun sekarang pakai kursi roda.

  • Advertisement
  • Selanjutnya, sisi psikologis, dengan gambaran kehilangan dominasi untuk para pria. Dulunya dia kepala keluarga, beralih menjadi anak yang kini menolongnya. Sementara, faktor sosial contohnya kesepian. Jika salah satu kebutuhan tak tercukupi, hal itu akan memengaruhi suasana hati dan perilakunya. Yang biasanya membuat orangtua mudah marah ialah rasa tidak dihargai, atau merasa hampa di rumah sendiri.

  • Inilah saatnya para anak harus melakukan pendekatan berbeda. Misalnya, dengan berbicara lebih halus, memberi pengertian terlebih dahulu, dan jangan pernah memaksa. Pasalnya, kebutuhan sosial, psikologis, dan biologis orangtua kini sudah berbeda."Sebagai anak harus bicara dulu, mereka itu ingin dihormati dan dihargai," ujarnya. Caranya bisa dengan menjaga lingkungan sosialnya, membiarkannya bersosialisasi dengan teman sebaya, dan mendukungnya menggeluti hobi. Terpenting, mereka memiliki aktivitas dan rutinitas yang terjaga.

  • Selalu mengutamakan atau melibatkan mereka di dalam mengambil keputusan untuk hal-hal yang melibatkan mereka, juga bisa menjadi solusi. Tak perlu mengenai hal-hal yang penting. Misalnya saja dengan menanyakan kepada mereka mengenai menu makan malam, acara akhir pekan.

  • Jangan lupa juga untuk membawa mereka liburan atau refreshing secara berkala. Kehidupan di masa tua terkadang membosankan bagi orangtua lanjut usia. Untuk menguranginya, ajaklah orangtua liburan. Terakhir, pastikan bahwa anak-anak orangtua kita (saudara kita) selalu menemui mereka secara rutin. Orangtua mengambek seringkali karena kerinduan akan anak-anaknya. Untuk itu, pastikan mereka selalu bertemu dengan orang-orang yang dirindukannya secara rutin.

Bagikan hasil Anda kepada teman..

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Menghadapi orangtua sensitif

Semakin tua usia, wajar memang jika seseorang menjadi lebih sensitif. Mudah sedih, mudah marah, dan bersikap kekanak-kanakkan. Sebagai anak, kadang terasa amat sulit menghadapinya. Namun sebetulnya bisa kok.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr