Bahaya orangtua overprotektif

Menjadi orangtua artinya memiliki sejuta kekhawatiran pada anak. Sebab rasa terlalu sayang, kadang menjebak kita menjadi terlalu protektif. Layaknya porselen, anak tak boleh lecet. Namun ternyata sikap ini malah membahayakan anak, lho.

1,938 views   |   35 shares
  • Menjadi orangtua adalah anugerah yang tak terperi, rasanya. Namun, selain sebagai hadiah istimewa, anak juga merupakan tanggung jawab. Jadi, setelah bahagia, biasanya muncul rasa khawatir secara bersamaan.

  • Apalagi di zaman sekarang, saat pengaruh buruk bisa hadir dari mana pun. Saat anak bisa mengakses seluruh dunia hanya dari satu "klik" di jarinya. Saat begitu banyak makanan yang tak sehat berseliweran di sekitar, dan sebagainya. Maka, tak heran, ada begitu banyak orangtua yang kemudian berusaha keras menjaga anaknya dari lingkungan, kemudian berusaha membuat si anak tumbuh dengan sempurna.

  • Anak yang baik, cerdas, sehat dan bahagia. Tapi, tunggu dulu. Benarkah demikian? Apakah memanjakan rasa takut dan khawatir pada masa depan anak, harus menjadi begitu saklek dan penuh larangan? Harus membatasi segala gerak eksplorasi dan membuat anak ketakutan, karena kita sudah berubah jadi orang tua penegak hukum? Apakah ia akan bahagia, dengan orangtua yang membangun pagar setinggi-tingginya, dan terlalu khawatir akan hal-hal kecil, yang sebetulnya masih wajar?

  • Ada sebuah studi baru dari para ilmuwan di Institut Psikiatri, Psikologi dan Neuroscience di King's College London yang mengatakan bahwa orangtua overprotektif, hanya akan menjadikan anak mengalami kecemasan (anxiety disorder). Berbeda dengan rasa takut yang jelas objeknya, kecemasan terkadang tidak jelas objek mengapa seseorang menjadi cemas. Bahkan, jika seseorang sering cemas terhadap sesuatu, bisa mengembangkan kepribadian cemas.

  • Kecemasan (anxiety disorder) sangat berkaitan dengan perasaan yang tidak pasti dan tidak berdaya. Keadaan emosi ini tidak memiliki objek yang jelas. Terkadang, seseorang menghadapi kecemasan sebagai sebuah tantangan sehingga mempersiapkan sesuatu untuk menghadapinya. Hal ini yang akan memberikan hasil yang positif. Tetapi terkadang pula, kecemasan membuat seseorang tidak berdaya, dan merasa tidak mampu menghadapi kecemasan itu sehingga ingin lari dari masalahnya dengan mengembangkan defend mechanism (mekanisme pertahanan diri/ego).

  • Yang lebih mengerikan adalah; kecemasan yang terjadi bahkan memiliki dampak melumpuhkan. Dikatakan melumpuhkan karena rasa cemas telah menyebabkan ketakutan berlebih pada semua aspek kehidupan seperti rasa takut untuk melangkah, takut keluar rumah, takut mati, takut hidup ataupun ketakutan saat menjalani sesuatu. Jika terus dibiarkan, anxiety disorder bisa menurunkan kualitas hidup seseorang. Bahkan dalam taraf yang lebih serius, anxiety disorder dapat mengancam keselamatan seseorang.

  • Advertisement
  • Menurut salah satu penelitinya, Dr Robert Freedman, "Studi ini menjelaskan bahwa anxiety disorder, bukan merupakan penyakit keturunan karena berbagi genetik, namun lebih kepada cara orangtua membesarkan anaknya."

  • Gejala kecemasan yang disebabkan oleh orangtua yang over protektif ini akan mulai terlihat saat si anak berusia 11 tahun. Dan jika tidak ditangani dengan cepat maka akan semakin parah dan terbawa hingga ia dewasa. Ya, ini disebabkan oleh ketakutan berlebih yang dialami orangtua akan masa depan anaknya. Orangtua over protektif tidak akan membiarkan anaknya belajar dari rasa takut, dan tidak belajar membatasi dirinya sendiri.

  • Kecemasan (anxiety disorder) mulai terbangun perlahan karena ia tidak familiar dengan berbagai situasi dalam kehidupan, dan ia juga tidak pernah mengalami "bangun setelah terjatuh". Karena itu, anak yang dibesarkan oleh orangtua overprotektif akan mengalami banyak kesulitan dalam menghadapi dunia, seperti menemukan jodoh, pekerjaan bahkan rumah pribadi. Oh ya, hal ini baik sekali, jika, kedua orangtua berencana untuk terus memegangi tangan anaknya hingga ia meninggal.

  • Maka, ketimbang memiliki anak dengan kecemasan tak beralasan, akan lebih baik jika orangtua membiarkan anaknya tumbuh dengan tantangan dan keberhasilannya mengatasi ketakutan. Sebab, menjadi dewasa artinya seseorang itu harus bisa menjalani setiap cobaan dalam kehidupan. Dan, hal ini, harus diajarkan sejak dini.

  • Nikmatilah masa-masa anak kita, sebagai seorang anak-anak. Karena masa-masa ini akan berjalan dengan sangat ekspres. Tidak perlu "menularkan" kecemasan kita pada mereka. karena mereka anak kecil dan mereka butuh ruang untuk tumbuh serta belajar. Dunia, bukan tempat yang aman. Maka jadikan mereka kuat, baik hati dan bahagia. Dengan bekal itulah mereka akan menghadapi dunia. Sebab kita tidak akan pernah tahu kapan Tuhan mengambil nyawa kita, kan?

Bantu kami menyebarkan

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Bahaya orangtua overprotektif

Menjadi orangtua artinya memiliki sejuta kekhawatiran pada anak. Sebab rasa terlalu sayang, kadang menjebak kita menjadi terlalu protektif. Layaknya porselen, anak tak boleh lecet. Namun ternyata sikap ini malah membahayakan anak, lho.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr