Rasa cemburu, bisakah dikelola?

Setiap pasangan menikah pasti pernah dilanda rasa cemburu. Banyak orang yang bilang bahwa cemburu adalah bagian dari rasa cinta. Benarkah demikian? Lalu sebetulnya dapatkah kita mengelola cemburu agar tidak berbahaya?

1,647 views   |   29 shares
  • Seorang teman menikahi pria pujaan hatinya. Sebelum menikah, kami bersahabat akrab, begitu juga dengan si calon suami teman saya itu. Tiba-tiba satu bulan menikah, sahabat saya menelepon sambil menangis tersedu. Ia menjelaskan bahwa suaminya melarang dia berteman lagi dengan saya dan beberapa teman lain, yang kenal baik dengan mantan pacarnya terdahulu. Memang mantan pacarnya adalah salah satu teman kami.

  • Setelah itu, kami benar-benar putus kontak. Sahabat saya itu tak berani lagi diam-diam menghubungi kami, dan saya kehilangan salah satu sahabat terbaik. Hanya karena rasa cemburu. Saat itu, saya jadi meragukan kata-kata orang bahwa cemburu adalah bagian dari rasa cinta. Lalu cinta yang bagaimana, yang bisa memutuskan hubungan persahabatan?

  • Hal ini ternyata juga pernah dituliskan dalam sebuah artikel oleh Sarwendah Indrarani di Psikologikita.com. Menurutnya, cemburu tidak selalu menjadi ekspresi cinta. Cemburu itu seperti dua sisi dari keping mata uang di mana ada kalanya menjadi bukti cinta pada pasangan, ada kalanya menjadi tanda dari ketidaknyamanan atau kecemasan dalam diri seseorang.

  • Cemburu dapat menjadi bukti cinta ketika kita dapat mengolah secara positif. Contohnya, seorang suami akan merasa tersanjung ketika istri menunjukkan tanda cemburu. Hal ini membuktikan sang istri benar-benar menyayangi dirinya. Sedangkan, cemburu akan menjadi tanda ketidaknyamanan dalam diri ketika kita melarang pasangan untuk berteman dengan orang lain, memata-matai kegiatan pasangan, atau bertindak kasar pada pasangan.

  • Cemburu dapat berpotensi merusak hubungan ketika seseorang terlalu mengekang pasangannya. Misalnya, seorang istri terus menerus menghubungi suaminya ketika jam kerja untuk memantau keberadaan dan perilaku ketika di kantor. Hal ini tentunya dapat mengganggu kinerja suami. Terlebih lagi, jika istri bersikap memaksa atau menuntut suami untuk mengikuti keinginannya. Dalam jangka panjang, bukan tidak mungkin suami akhirnya merasa lelah dan menjauh dari istri.

  • Cemburu pada masa lalu pasangan masih dapat dibilang wajar asalkan tidak berlebih-lebihan dan masih dapat mengolah rasa cemburu tersebut dengan cara yang positif. Cemburu pada masa lalu pasangan disebut sebagai reactive jealousy di mana seseorang bersikap waspada dengan ancaman yang realistis. Misalnya, pasangan menyatakan pernah menyukai orang lain di masa lalu. Hal tersebut nyata terjadi dan tidak dapat diubah sehingga wajar muncul rasa cemburu. Berbeda dengan suspicious jealousy di mana seseorang terlal mencurigai pasangan dan kecurigaan tersebut tidak sesuai dengan fakta yang ada.

  • Advertisement
  • Cemburu dan posesif

  • Cemburu dan posesif memiliki keterkaitan. Rasa memiliki yang terlalu kuat (posesif) membuat orang tidak dapat berpikir secara realistis atau "cemburu buta" sehingga reaksi yang dimunculkan tampak berlebihan. Orang yang posesif menganggap pasangannya sebagai miliknya sendiri sehingga tidak membiarkan pasangan untuk bersosialisasi atau mengembangkan diri. Orang yang posesif ini akhirnya akan merusak hubungan dengan pasangannya sendiri. Oleh karena itu, cemburulah dengan wajar dan berusaha mengolah rasa cemburu secara positif.

  • Cemburu dan percaya diri

  • Rasa cemburu memiliki keterkaitan dengan kepercayaan diri. Namun, bukan berarti orang yang memiliki rasa percaya diri tinggi tidak pernah merasa cemburu. Karena dalam sebuah hubungan, hal yang terpenting adalah pandangan pasangan terhadap dirinya. Apakah pasangan merasa nyaman ketika bersama dirinya. Selain itu, tergantung pula seberapa besar pasangan membutuhkan dan menyukai dirinya daripada seberapa besar ia menyukai atau percaya terhadap dirinya sendiri.

  • Jika seseorang menjadi pihak yang kurang dibutuhkan atau disukai oleh pasangan, maka hal ini dapat menjadi potensi masalah. Karena ia akan beranggapan bahwa ada orang lain yang lebih baik untuk pasangannya. Akhirnya, ia akan merasa kurang pantas untuk menjadi pasangan dari suami atau istrinya. Jadi, wajar jika mereka bereaksi sangat keras ketika muncul "saingan" di antara hubungan mereka.

  • Cara mengelola cemburu dalam diri

  • Tahap pertama adalah mengenali rasa cemburu itu sendiri. Kita harus mengenali akar dari munculnya rasa cemburu, mengenali mengapa bisa muncul dan mengganggu pikiran. Kemudian hadapi ketakutan untuk mengenal pasangan dengan lebih mendalam. Ekspresikan rasa penasaran kita dengan cara yang baik. Cobalah bicarakan dan ungkapkan perasaaan cemburu pada pasangan. Tidak perlu membuat asumsi yang macam-macam tentang pasangan.

  • Selain itu, ubahlah kecemburuan dengan mengolahnya dengan cara yang baik. Berusaha tetap tenang dan menghindari merasa marah atau malu dengan adanya situasi tidak menyenangkan. Kita juga perlu lebih memperhatikan penampilan dan menunjukkan rasa percaya diri kita pada pasangan. Jika semua cara di atas telah ditempuh tetapi tetap mengalami cemburu berlebihan, mungkin sudah waktunya mencari bantuan psikolog atau konselor pernikahan untuk mengatasi perasaan dan pikiran irasional.

Luangkan waktu sejenak dan bagikan!

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Rasa cemburu, bisakah dikelola?

Setiap pasangan menikah pasti pernah dilanda rasa cemburu. Banyak orang yang bilang bahwa cemburu adalah bagian dari rasa cinta. Benarkah demikian? Lalu sebetulnya dapatkah kita mengelola cemburu agar tidak berbahaya?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr