Biaya pernikahan, tanggungan siapa?

Pesta pernikahan memang tidak perlu mewah, namun, dirayakan dengan sederhana atau mewah, tetap saja membutuhkan biaya. Lalu siapa sebetulnya yang harus menanggung seluruh biaya tersebut?

26,654 views   |   120 shares
  • Menikah adalah hal besar yang menyenangkan. Namun di sisi lain ada begitu banyak hal yang harus dipikirkan, untuk memulainya. Biaya menjadi salah satu hal yang harus dipertimbangkan oleh calon pasangan yang ingin melangsungkan pernikahan. Tidak sedikit pasangan yang memiliki kemampuan finansial untuk membiayai pernikahan mereka sendiri. Meskipun demikian, tak sedikit pula orang tua ingin terlibat dalam membiayai pernikahan anaknya. Sebenarnya, siapakah yang bertanggung jawab dengan biaya pernikahan itu?

  • Menurut Perencana Keuangan Lisa Soemarto, orangtua memiliki kecenderungan untuk membiayai pernikahan anaknya. Namun, Anda dan calon pasangan perlu juga melihat bagaimana kondisi keuangan orangtua saat itu. Misalnya, orangtua sudah pensiun dan dana yang mereka miliki tidak cukup bila seluruhnya dipakai untuk biaya pernikahan.

  • Pertimbangkan pula bila Anda masih memiliki adik yang memerlukan biaya pendidikan dan sebagainya. Jika kondisi keluarga tidak memungkinkan, hindari memaksakan mereka agar tetap mewujudkan impian pernikahan Anda. "Tidak fair juga kan kalau terlalu mengharapkan orangtua. Jadi, kalau memang anak sudah memiliki kemampuan uang sendiri, sebaiknya menyiapkan dana sendiri," tambah Lisa.

  • Financial Planner, Freddy Pieloor, CFP, menjelaskan bagaimana semestinya pasangan memutuskan biaya pesta pernikahan.

  • Kesepakatan bersama

  • Banyak pertanyaan yang dilontarkan dan pernyataan yang disampaikan atas kewajiban membayar biaya pernikahan. Ada yang bilang bahwa biaya pernikahan dibayar oleh mempelai pria dan keluarganya. Namun ada juga yang berkata bahwa justru sang mempelai perempuan dan keluarganyalah yang harus membayar biaya pernikahan tersebut.

  • Apakah ada tertulis dalam Undang-Undang atau peraturan negara yang menyatakan bahwa biaya pernikahan dibebankan kepada seseorang atau sebuah keluarga saja? Apakah ada ayat dalam kitab suci agama yang menegaskan bahwa biaya itu wajib dibayar oleh pihak tertentu? Atau ada adat budaya secara tertulis menyatakan siapa yang harus membayar biaya pernikahan?

  • Seperti yang Anda ketahui bahwa pernikahan adalah sebuah kesepakatan dan komitmen dari kedua belah pihak, Anda dan si dia. Sehingga selayaknya biaya yang akan timbul ditanggung bersama.

  • Sesuai kemampuan

  • Perlu dicatat bahwa pernikahan yang elegan adalah pernikahan yang tidak dipaksakan dalam segala sudut. Termasuk dalam biaya pernikahan. Maksudnya adalah biaya pernikahan yang dibayarkan haruslah sesuai dengan kemampuan kedua belah pihak. Tidak berutang dalam menyelenggarakan pesta pernikahan.

  • Advertisement
  • Pernikahan ini adalah penyatuan dua pribadi menjadi sebuah keluarga inti baru, dan pesta pernikahan yang akan diselenggarakan layaknya atas inisiasi dan kehendak yang menikah. Keluarga besar (ayah dan ibu masing-masing pihak) hanya memberikan dukungan, dan bukan memaksakan gaya dan tata cara pernikahan sebuah adat yang membutuhkan biaya besar.

  • Sebuah pernikahan adalah sebuah kebahagiaan yang alami dan bukan sesuatu yang dipaksakan. Sehingga hendaknya sebuah pesta pernikahan pun dilakukan secara natural sesuai dengan kemampuan dari kedua belah pihak pengantin.

  • Freddy menyarankan jangan mengadakan pesta pernikahan dari berutang. Hal ini hanya akan memberatkan awal perjalanan dan keuangan keluarga yang baru dibangun. Tentunya Anda tak ingin melanjutkan suasana menyenangkan di pesta pernikahan, dengan penderitaan bertahun-tahun lantaran menanggung utang, bukan?

  • Hal senada juga disampaikan oleh Psikolog Anna Surti Ariani, S.Psi.M.Si. Menurutnya, biaya pernikahan lebih baik disepakati bersama. Kesepakatan tersebut harus dibicarakan secara terbuka dan asertif. Sikap yang asertif berarti mengemukakan semua pikiran Anda secara terbuka tanpa menyakiti orangtua.

  • Hindari bersikap agresif atau submisif saat berdiskusi dengan orangtua. Sikap agresif merupakan sikap menunjukkan keterbukaan, namun dengan cara menyakiti orang lain. Sebagai contoh, saat orangtua menuntut banyak hal dalam pernikahan, Anda langsung marah-marah mengungkapkan ketidaksetujuan tanpa mendengarkannya dahulu. Ini tentu bisa melukai perasaan mereka.

  • Sementara itu, submisif berarti tidak berani mengemukakan pendapat sebab khawatir menyakiti atau mengecewakan orang lain. Dalam hal ini, Anda merasa lebih baik memendamnya sendiri. Misalnya, Anda lebih baik berhutang karena biaya pernikahan di luar budget akibat memenuhi segala permintaan orangtua. Ini juga tidak baik. Selain merugikan diri sendiri, orangtua akan kecewa ketika tahu Anda berhutang demi keinginan mereka. Selain itu, biaya yang diperlukan selepas pesta pernikahan jauh lebih penting, misalnya untuk tempat tinggal.

Anda suka artikel ini? Bagikan dengan teman-teman

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Biaya pernikahan, tanggungan siapa?

Pesta pernikahan memang tidak perlu mewah, namun, dirayakan dengan sederhana atau mewah, tetap saja membutuhkan biaya. Lalu siapa sebetulnya yang harus menanggung seluruh biaya tersebut?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr