Menikah, atau tidak menikah?

Menikah, adalah pilihan yang bisa dilakukan setiap orang. Namun begitu juga dengan tidak menikah. Lalu mengapa setiap kita bisa amat menghargai pilihan untuk menikah, sementara amat sulit menerima keputusan orang lain untuk tidak melakukannya?

2,442 views   |   36 shares
  • Menikah atau tidak menikah, adalah pilihan hidup seseorang yang tidak bisa diintervensi oleh siapa pun. Setiap orang memiliki alasannya masing-masing untuk keputusan terkait hidupnya tersebut. Sayangnya, orang lain di sekitar kita seringkali terlalu perhatian. Ya, kalau tidak mau dibilang ikut campur.

  • Pertanyaan "Kapan nikah?" adalah bentuk perhatian yang amat mendalam dari orang lain. Namun kadang terasa pedih jika didengar oleh kita yang sebetulnya sudah ingin menikah, namun belum mendapatkan jodohnya. Eh, tapi tunggu dulu, benarkah kita memang sudah ingin menikah? Apa alasannya? Jangan-jangan hasrat menikah itu muncul justru karena tekanan dari luar?

  • Psikolog Kasandra Putranto mengatakan bahwa terkadang, tekanan-tekanan sosial dari lingkungan sekitar yang seolah 'memaksa' seseorang untuk cepat menikah memang dapat mempengaruhi suasana hati. Apalagi jika tekanan sosial tersebut berasal dari keluarga sendiri. Wah, sayang sekali kan kalau pada akhirnya memutuskan untuk menikah, dengan alasan sesederhana "agar orang-orang senang"? padahal menikah kan adalah perihal besar.

  • Maka, patut diingat bahwa dia yang belum menikah mungkin memang memiliki alasannya sendiri.

  • Psikolog Indri Savitri, Manajer Divisi Konseling dan Edukasi LPTUI Jakarta, menjelaskan penyebab seorang masih melajang di usia matang. Salah satunya karena kondisi yang memaksa. "Mereka mau fokus dulu dalam karier untuk menopang ekonomi keluarga. Mungkin karena orangtua tak mampu secara ekonomi atau sudah meninggal. Hingga di usia mudanya, perempuan ini tak sempat membina hubungan dan hanya fokus pada pekerjaan," katanya.

  • Sementara Dini Rahma Bintari, S.Psi, M.Psi, dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, memberi alasan lain. Menurutnya keengganan para lelaki sekarang ini untuk menikah, entah karena kurang percaya diri dan sebagainya, otomatis membuat berkurangnya kesempatan perempuan untuk menikah. "Selain itu perempuan juga ingin mencapai prestasi yang tinggi hingga mengabaikan jalan untuk menemukan pasangan," tambahnya lagi.

  • Yang menyedihkan adalah, jangan-jangan orang tersebut memang tidak ingin menikah karena trauma masa kecil. Kita tidak akan pernah tahu apa yang disembunyikan dari semua orang. Hal ini bisa juga mewarnai cara pandangnya melihat pernikahan. Pengalaman ini kemudian menjadikannya melakukan generalisasi. Semua sama. Tak ada pintu lagi untukmu.

  • Apa pun alasannya, tak ada satu pun dari kita yang berhak menghakimi pilihan hidup seseorang yang telah dewasa. Jangan juga membuat seorang lajang kemudian menikah, hanya untuk menyenangkan orang lain. Alasan seperti ini tidak membuat pernikahan kuat berdiri seumur hidup.

  • Advertisement
  • Lalu bagaimana jika Anda yang berada dalam posisi lajang dan kerap mumet mendengar pertanyaan "kapan nikah?" itu. Oh, tenang, banyak hal yang bisa dilakukan. Ingatlah bahwa teman-teman Anda yang sudah menikah kemudian mengalami banyak keterbatasan waktu dalam berkarier, travelling, nonton film, baca buku, atau bahkan membuka bisnis.

  • Anda punya semua waktu itu. Wah, bayangkan ada begitu banyak hal yang seru dan selalu bisa dilakukan:

    1. Jika Anda bekerja di sebuah perusahaan, tak ada salahnya untuk lebih giat demi mengumpulkan pendapatan lebih banyak yang nantinya bisa dipergunakan untuk banyak hal.

    2. Bepergian jelajahi Indonesia, atau dunia, pun tak ada salahnya. Toh Anda sudah punya tabungan

    3. Ikuti kegiatan baru yang tidak pernah Anda dengar, atau tidak diminati sebelumnya. Kursus membuat sabun, ikut kursus menjadi barista, fotografi, belajar diving, memanah, atau menembak. Ada begitu banyak hal yang bisa diikuti dan menghabiskan banyak waktu Anda agar tak terbuang percuma. Bayangkan, akan begitu banyak keahlian Anda.

    4. Membuka bisnis juga bisa menjadi opsi. Bisa bisnis apa saja, dan Anda bahkan tidak perlu keluar kerja. Pilihlah sesuatu yang bisa mengisi akhir pekan Anda dengan ikut bazaar atau acara-acara besar. Selain mengeruk keuntungan, bukan tak mungkin juga Anda bertemu dengan jodoh, ya kan?

    5. Memelihara binatang kesayangan, akan meramaikan rumah Anda. Hewan peliharaan adalah teman terbaik yang takkan pernah mengkhianati Anda. Sayangi mereka, dan Anda akan mengisi ruang kosong di hati

    6. Penuhi rumah dengan film dan buku, lalu buatlah jadwal untuk menonton dan membacanya. Jadi Anda tak menyisakan waktu kosong sama sekali.

    7. Menjadi volunteer. Ini adalah kegiatan yang amat bermanfaat, berpahala, dan membahagiakan. Ingat kan, pepatah; jika ingin bahagia, bahagiakanlah dulu orang lain.

  • Jadi, tak perlu khawatir lagi, ya. Dan ingat saja untuk tak perlu terlalu memikirkan omongan orang lain. Anggap saja itu hanya bentuk perhatian, atau basa basi karena mereka tak tahu harus berkata apa pada Anda. Namun jika merasa tidak kuat menahan tekanan, menghindari pertemuan keluarga untuk sementara juga tak apa, kok.

Luangkan waktu sejenak dan bagikan!

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Menikah, atau tidak menikah?

Menikah, adalah pilihan yang bisa dilakukan setiap orang. Namun begitu juga dengan tidak menikah. Lalu mengapa setiap kita bisa amat menghargai pilihan untuk menikah, sementara amat sulit menerima keputusan orang lain untuk tidak melakukannya?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr