Dunia ibu-ibu yang kompetitif

Bersaing di kalangan bisnis atau pendidikan adalah hal yang wajar dan perlu dilakukan, dengan sehat. Namun ternyata persaingan ketat tak hanya terjadi di dua sektor tersebut saja, melainkan di dunia para ibu. Dan sayangnya, seringkali tidak sehat.

391 views   |   4 shares
  • Persaingan adalah hal yang biasa terjadi dalam kehidupan kita. Di satu sisi, memiliki kemampuan bersaing amatlah baik, agar mampu bertahan hidup. Namun, memiliki jiwa kompetisi tinggi, di sisi lain juga tak terlalu baik. Misalnya di dunia ibu-ibu.

  • Seperti yang dituliskan dalam sebuah artikel di The Telegraph. Kaum ibu terjebak di tengah kompetisi yang konstan terjadi antara satu dengan lainnya. Ya, persaingan untuk membuktikan kepada orang lain bahwa dirinya memiliki keluarga sempurna. Hal ini merupakan hasil survey "Sindrom ibu kompetitif".

  • Kebanyakan ibu yang di survey mengakui bahwa mereka sibuk memamerkan perkembangan anak-anaknya. Bahkan sejak bayi. Yang diceritakan biasanya setiap langkah terbaru yang dapat dilakukan anaknya, mulai merangkak, mulai bicara, mulai berjalan, hingga ke nilai di kelas, bagi orangtua dengan anak yang lebih besar.

  • Selain itu, ada juga yang sibuk pamer karena berhasil menurunkan berat badan pasca melahirkan dengan cepat, berhasil selalu menjaga kerapihan rumahnya, atau memiliki suami yang sukses. Terasa akrab di telinga ya? entah itu teman di sekitar, atau jangan-jangan diri sendiri? Ups.

  • Dan yang lebih mengherankan adalah, sebanyak 78 persen responden dari survey tersebut setuju bahwa perilaku sibuk pamer dan ingin jadi yang terhebat di sekolah itu, sangat konyol. Namun, mereka mengakui bahwa "Kami tidak bisa mengendalikannya". Seluruh nafsu bersaing ini bahkan membuat para ibu terlihat lebih hebat dan unggul dari para ayah.

  • Juru bicara dari MumPoll.com, situs riset market yang membuat studi ini, mengatakan: "Para ibu memaksakan dirinya dengan begitu banyak tekanan, untuk menjadi yang terbaik pada segala hal. Kita semua tahu bahwa memiliki rumah yang selalu rapi dan bersih sempurna, suami yang luar biasa dan sukses, sambil juga mampu membuat kue bantal terbaik di seluruh kota dan memiliki anak-anak jenius, adalah hal yang mustahil. Lalu mengapa semua ibu di mana pun berusaha melakukan hal itu?"

  • Sebagai ibu, pasti tahu betul rasanya, kan? Berdamai dengan waktu tidur yang selalu terasa kurang, menjaga anak-anak sejak pagi hingga malam, dari berpakaian, makan, bepergian, hingga bermain saja sudah terasa melelahkan. Apalagi harus ditambah dengan mempedulikan "apa kata dunia" dan "apa kata ibu-ibu lain"?

  • Terasa mengerikan, hasil survey kepada 3.000 ibu, menemukan bahwa mereka memiliki naluri berkompetisi sejak melahirkan anak pertamanya. Langsung, saat itu juga. Dan separuhya mengatakan bahwa mereka bersikap obsesif untuk memamerkan bayinya dari senyum pertama hingga kata pertama.

  • Advertisement
  • 39 persen dari 3.000 ibu tersebut menyatakan bahwa mereka sesumbar mengenai kesuksesan anaknya di kelas, sementara 27 persen lainnya mengakui bahwa mereka menjalani diet keras dan berolahraga hingga kepayahan agar bisa dengan cepat menurunkan berat badan, setelah melahirkan.

  • Seperempat kaum ibu dalam studi ini, menjelaskan bahwa mereka berusaha keras untuk menjadi orang yang paling terorganisir di "gang" nya, dan selebihnya juga membual mengenai suami terbaik di dunia. Eits, tapi jangan lupa, masih ada 39 persen lainnya yang merasa gagal dan tidak berharga. Mereka ingin sekali menjadi orangtua yang dapat memamerkan dirinya, keluarganya, anak-anaknya. Namun tidak bisa.

  • Wah, betul-betul mengerikan ya. Sebagian sibuk sombong, sebagian lagi sibuk menyesali diri dan kehilangan kepercayaan diri karena tuntutan yang terlalu besar di lingkungan. Jika Anda termasuk dalam 39 persen yang terakhir ini, sudahlah. Lepaskan saja. Jangan terlalu dipikirkan, sebab masih ada begitu banyak hal yang harus diurus, selain mengurusi pandangan orang lain. Ada beberapa tips untuk menghadapi tekanan para ibu yang sibuk pamer itu:

    1. Kejujuran adalah tindakan yang paling bijak: Jika telinga dan hati telah jengah mendengar kesombongan seorang teman, tanya saja secara langsung padanya; mengapa ia melakukan hal itu, dan membuat Anda merasa gagal? Katakan saja sejujurnya bahwa Anda terganggu. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi itu lebih baik ketimbang merasa gagal, kan?

    2. Balas tindakannya dengan cara yang sama: Anda sudah lelah mendengar seseorang pamer, dan tidak berhasil jujur. Maka, ungkapkanlah kesombongan yang lebih banyak. Katakan hal-hal yang putra putri Anda berhasil lakukan, dan anaknya tidak berhasil. Lalu katakan bahwa "Enggak enak, kan, dibanding-bandingkan?"

    3. Sudahlah tidak perlu khawatir, setiap bayi memang berbeda: Tuhan tidak akan menciptakan dua mahluk yang sama persis. Bahkan anak kembar saja berbeda. Jadi, kenapa harus khawatir?

    4. Kita semua melakukan hal yang sama, jadi cuekkin saja: Ya semua ibu berjuang di medan yang sama kerasnya. Apa pun kasusnya, setiap ibu punya caranya sendiri. Jadi biarkanlah, mungkin dia kurang perhatian, jadi butuh diperhatikan orang banyak.

    5. Jika memungkinkan, akan lebih baik jika Anda dan si tukang pamer berteman: Iya berteman, layaknya anak muda yang belum memiliki anak. Jadi teman, bukan jadi sesama ibu. Bahas hal yang lain sambil ngopi sore atau belanja.

  • Advertisement
Bagikan pada teman dan keluarga..

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Dunia ibu-ibu yang kompetitif

Bersaing di kalangan bisnis atau pendidikan adalah hal yang wajar dan perlu dilakukan, dengan sehat. Namun ternyata persaingan ketat tak hanya terjadi di dua sektor tersebut saja, melainkan di dunia para ibu. Dan sayangnya, seringkali tidak sehat.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr