Cara jitu menghadapi setiap fase dalam pernikahan

Menjalani pernikahan pasti mengalami pasang surut hubungan. Sepanjang waktunya, pasti melewati beberapa fase. Kita pun bisa saja gagal, bisa saja berhasil dalam ujian-ujian setiap fasenya.

3,696 views   |   44 shares
  • Setiap pengantin baru, pasti memiliki harapan yang sama yakni menginginkan pernikahannya berlangsung seumur hidup hingga maut memisahkan, betul? Tetapi, Susan Shapiro Barash, dalam bukunya "The Nine Phases Of Marriage: How To Make It, Break it, Keep it" menemukan bahwa dari 10 orang perempuan yang telah menikah bertahun-tahun, 6 orang di dalamnya ternyata enggan menikahi orang yang sama.

  • Ya, Shapiro telah melakukan penelitian kepada 200 wanita yang berusia antara 21 tahun hingga 85 tahun untuk menulis buku tersebut. Ia menyatakan bahwa wanita yang telah menikah dan memiliki anak, akan melewati 9 fase berbeda, sepanjang pernikahannya. Nah, terima kasih kepadanya, karena dengan mengetahui Anda kini berada di fase yang mana, maka hal itu akan membantu Anda untuk membuat hubungan dengan pasangan, semakin kuat.

  • Fase pertama: Pengantin Baru Penuh Harapan

  • Fase ini adalah yang paling ideal dari seluruh fase lainnya, karena di saat-saat awal, keduanya masih menikmati "bahan pokok" yang dapat membuat pernikahan terasa bahagia: gairah, keintiman, dan komitmen.

  • Tips: gairah dan keintiman amat mudah didapatkan dalam tahapan ini, maka untuk membuat pernikahan langgeng di fase-fase berikut, keduanya harus membangun persahabatan.

  • Fase kedua: Istri Sempurna

  • Sebelum menikah, sudah terjadi kesepaktan bahwa setelah menikah nantinya, Anda dan suami akan saling berbagi tugas dan pekerjaan dalam mengurus rumah, juga rumah tangga. Namun, dalam dua hingga tiga tahun menjalaninya, Anda mulai merasa menjadi pengarah kehidupan sosial, pengurus rumah tangga, dan penanggung jawab segala urusan. Dan hanya Andalah satu-satunya yang dapat melakukan ketiga hal itu dalam satu waktu. Anda mulai kewalahan dan merasa tak dihargai.

  • Tips: Saat kebiasaan-kebiasaan buruk pria muncul ke permukaan, memang pasti menjengkelkan. Tetapi ingatlah, tak ada pernikahan ideal. Carilah solusi yang paling efektif, dan banyak-banyak bertoleransi.

  • Fase ketiga: Segala Perhatian Untuk Anak

  • Jika Anak sudah lahir, maka istri mulai berubah. Sebab, kini seluruh perhatiannya tercurah pada si kecil. Ia tak lagi memerhatikan kebutuhan suami, seperti di fase sebelumnya. Hal ini mengakibatkan banyak wanita yang seolah kehilangan arah dalam hubungan, bahkan tidak lagi berminat pada hubungan seks.

  • Tips: Menjadi ibu bukan berarti berhenti menjadi istri. Jaga hubungan pernikahan, dan bahkan libatkan suami dalam menentukan masa depan anak dan arah keluarga.

  • Fase Keempat: Satu tempat tidur, Dua mimpi

  • Advertisement
  • Fase ini biasanya muncul di tahun pernikahan ke sembilan atau sepuluh. Banyak istri di masa ini menyatakan bahwa terpisah beberapa hari dari suami, terasa seperti liburan. Meski kebanyakan istri tetap ingin bertahan dalam pernikahan, namun kebencian mulai terbangun.

  • Tips: Turunkan standar pernikahan ideal di mata Anda. Sebab, Anda akan selalu merasa kecewa jika larut dalam perubahan dalam pernikahan. Belajarlah mengelola kadar ekspektasi.

  • Fase Kelima: Jarak

  • Setelah 15 tahun menikah, dan anak-anak sudah lebih besar, banyak istri yang ingin kembali bekerja. Bergaul lagi di luar, berkenalan dengan orang baru, membuka kemungkinan istri berselingkuh. Tidak selalu dengan fisik, namun juga pikiran. Dan biasanya si istri ini akan menyukai rekan kerja yang sifatnya sangat bertentangan dengan suami. "Si kekasih memiliki apa yang suaminya tak punya," Kata Susan.

  • Tips: Jika jarak antara Anda dan pasangan sudah terasa, maka lakukan upaya sekuatnya untuk menghabiskan banyak waktu dengan suami.

  • Fase Keenam: Perceraian Separuh Baya

  • Untuk para istri yang sudah berusia separuh baya, dan telah menikah 20 tahun atau lebih, perselingkuhan yang terjadi di fase kelima, adalah penyebab perceraian di Fase keenam. Sebab, di tahapan ini, wanita mulai berpikir apa yang telah didapat dari pernikahan ini. Mereka kini sudah bekerja, dan anak-anak sudah besar, jadi tak banyak pertimbangan untuk bercerai.

  • Tips: Berusahalah terlebih dahulu, temui psikologi pribadi sebelum berhadapan dengan konselor pernikahan.

  • Fase Ketujuh: Renegosiasi

  • Tahapan ini terjadi saat pernikahan telah berlangsung 15-30 tahun. Biasanya, Anda akan mulai melakukan evaluasi ulang dan memutuskan bahwa lebih baik bertahan dalam pernikahan. Anda mulai menyadari bahwa kehidupan teman-teman yang menjanda tak sebahagia yang pernah terpikir. "Tidak bisa hidup dengannya, namun tak mau hidup tanpanya," Adalah ungkapan yang tepat untuk fase ini, menurut Susan.

  • Tips: Mulailah berusaha memperbaharui hubungan. Diskusikan rencana-rencana masa depan yang seru dengan pasangan.

  • Fase Kedelapan: Keseimbangan

  • Nah, setelah 30-40 tahun menikah, Anda sudah mengenali kekuatan dan kelemahan Anda, begitu juga si suami. Biasanya kelahiran cucu mulai membantu keseimbangan hubungan.

  • Tips: tetaplah bersyukur dan berikan dukungan yang melimpah kepada suami. Fokuskan diri menjadi sahabatnya.

  • Tahap Kesembilan: Cinta yang penuh kasih

  • Tiba saatnya Anda dan suami merayakan tahun perak atau tahun emas pernikahan. Para istri sudah memahami pentingnya tidak meremehkan suami, dan belajar memaafkan. Finansial masih menjadi isu penting, sebetulnya. Pensiun, juga bisa mengakibatkan rasa frustasi.

  • Advertisement
  • Tips: Jadilah tempat paling aman bagi masing-masing pasangan. Tak perlu membahas masa lalu. Dan lepaskan segala amarah juga dendam.

Klik pilihan berbagi di bawah ini

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Cara jitu menghadapi setiap fase dalam pernikahan

Menjalani pernikahan pasti mengalami pasang surut hubungan. Sepanjang waktunya, pasti melewati beberapa fase. Kita pun bisa saja gagal, bisa saja berhasil dalam ujian-ujian setiap fasenya.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr