Bagaimana menyikapi hambarnya rumah tangga

Ya, Anda dan suami selalu bersama di rumah atau bepergian. Namun tidak ada komunikasi yang berarti, sebab masing-masing sibuk dengan gadget atau pikiran yang melayang ke mana-mana. Memang tidak bertengkar, namun terasa dingin. Hambar.

2,250 views   |   42 shares
  • Pernahkah merasakan makanan tanpa bumbu yang pas dan komposisi yang seimbang? Masakan yang rasanya hambar, dan tidak enak untuk dinikmati? Jika kehambaran ini terjadi pada makanan, rumusnya tak terlalu susah. Tambahkan saja berbagai bumbu lagi, atau semudah menambahkan cabe rawit bagi penggemar pedas. Maka, pasti masih bisa disantap.

  • Lalu bagaimana jika kehambaran ini terjadi pada rumah tangga Anda? Oh ya, begitu banyak keluarga yang merasakan rumahnya hambar. Tidak ada kehangatan sama sekali. Baginya, rumah sekadar tempat makan, minum, tidur, dan buang air saja. Sekalipun ada kebersamaan di dalam rumah, yang sering terjadi semuanya sibuk sendiri dengan gadget masing-masing, sehingga sekadar kedekatan fisik. Sementara hatinya berada di dunia masing-masing.

  • Pernikahan seperti ini, menurut buku Rumah Tangga Surga tulisan Ikhsanun Kamil dan Foezi Citra Cuaca, terlihat harmonis. Memang sih, terlihat tidak perang mulut, dan bahkan tidak ada kekerasan sama sekali. Namun, bila dicermati dengan baik, benarkah kondisi pernikahan seperti ini yang dahulu diimpikan?

  • Kondisi seperti inilah yang kerapkali menciptakan persepsi bahwa pernikahan sekadar tanggung jawab untuk memenuhi dan menjalankan kewajiban saja. Ya, masih, sebagai suami istri namun sekadar status semata. Boleh jadi juga karena tidak enak apa kata tetangga dan keluarga besar, jadilah memilih untuk sekadar bertahan.

  • Padahal rumah tanggga tanpa kehangatan, tanpa cinta seutuhnya, akan menyiksa penghuninya secara batin. Jika batin sudah tersiksa, sang penghuni akan mencari ""rumah" di luar sana. Yang bisa jadi rumah yang baik atau bisa juga rumah yang buruk. Banyak yang akan dirugikan, banyak masa depan yang akan dipertaruhkan, bermula dari kondisi rumah yang hambar.

  • Orang yang tidak terpenuhi kebutuhaan "rumah" nya akan menjadi "homeless". Meskipun tinggal dan tidur di rumah yang sama, sangat mungkin para penghuninya menjadi homeless. Menurut buku ini, suami yang homeless hidup dengan istri yang homeless, kemungkinan besar akan menghasilkan anak-anak yang homeless.

  • Tipikal keluarga semacam ini biasanya lebih mudah terbujuk ajakan yang tidak benar. Misalnya tergoda selingkuh, atau mengumbar aib pasangan di depan orang lain, tak hanya suami istri, anak yang homeless pun akan lebih mudah terbujuk menikmati sisi gelap dunia. Sayangnya, jika hal-hal seperti ini sudah terjadi, yang sering dilakukan adalah menyalahkan pihak ketiga.

  • Padahal yang harus dicermati terlebih dahulu, bukan hanya penyebab kehancuran melainkan akar masalahnya, bukan?

  • Advertisement
  • Lalu, jika akar masalahnya memang karena rumah yang hambar maka mari seluruh anggota keluarga menyadarinya. Mungkin rumusnya hampir mirip seperti sajian makanan yang hambar. Tambahkan bumbunya. Namun, untuk kasus dalam rumah tangga, mungkin harus lebih ekstrem. Singkirkan kehambaran, mulai lagi dari awal.

  • Anda ingin selalu romantis bersama pasangan? Saat kebutuhan dimanja masing-masing terpenuhi, kebutuhan kasih sayang terpenuhi, kebutuhan didengarkan terpenuhi, kebutuhan diakui dan dihargai terpenuhi. Sebelum berangkat kerja, Anda dan pasangan saling memberikan pelukan dan mendoakan. Saat istri lelah mengasuh anak atau suami lelah bekerja, labuhkan kepala Anda di pundak atau pangkuannya. Lalu pasangan memasang telinga dan mendengarkan segala keluh kesah Anda, memberi ide-ide segar, berdiskusi tentang kehidupan, masa depan berdua, masa depan anak, serta membuat Anda yang lelah menjadi ceria kembali.

  • Ingatlah, pernikahan yang harmonis, bukan berarti tak ada konflik sama sekali. Sebab perbedaan isi kepala dan ego menyebabkan pernikahan pasti bermasalah. pernikahan yang harmonis dan romantis adalah pernikahan yang penuh masalah, namun suami istri mampu menyelesaikan masalahnya secara dewasa, bukan mendiamkannya.

  • Menyelesaikan akar masalah dengan saling memberikan kehangatan, akan menjalin kedekatan, dan menjaga keakraban. Otomatis, kepercayaan pun kian meningkat dan Anda berdua dapat membangun cinta berkali-kali pada pasangan. Inilah bumbu yang paling penting dalam pernikahan, agar rasanya gurih, nikmat dan "mengenyangkan".

Bantu kami menyebarkan

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Bagaimana menyikapi hambarnya rumah tangga

Ya, Anda dan suami selalu bersama di rumah atau bepergian. Namun tidak ada komunikasi yang berarti, sebab masing-masing sibuk dengan gadget atau pikiran yang melayang ke mana-mana. Memang tidak bertengkar, namun terasa dingin. Hambar.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr