Dikucilkan dari negaranya akibat memperjuangkan hak-hak kemanusiaan

Peter Norman melakukan sesuatu yang luhur bagi sesamanya, tetapi sungguh tidak adil, usahanya ini dinilai sebagai pemberontakan terhadap negaranya sendiri dan sejak itu hidupnya dipersulit.

431 views   |   1 shares
  • Tanggal 18 Januari merupakan hari peringatan Martin Luther King Jr. di AS. Pejuang persamaan hak-hak azasi yang pidato terkenalnya "I have a dream..." membangunkan semangat kemanusiaan orang yang mendengarnya, menemui akhir hayatnya secara tragis. Seseorang dengan keji menembaknya untuk mengakhiri impiannya. Namun, cita-citanya yang mulia diteruskan oleh banyak orang lainnya.

  • Salah seorang yang mendukung cita-cita Martin Luther King Jr. adalah Peter Norman, seorang kulit putih dari Australia. Peter memenangkan medali perak untuk kejuaraan lari dalam Olimpiade 1968 di Mexico City. John Carlos memenangkan medali emas dan Tommie Smith medali perunggu. Keduanya berkebangsaan Amerika keturunan Afrika dan mereka ingin menunjukkan dukungan mereka terhadap perjuangan Dr. King yang dibunuh beberapa bulan sebelumnya. Mereka berniat mengenakan sarung tangan hitam yang merupakan lambang Black Panther, sebuah organisasi perjuangan persamaan hak di AS yang beranggotakan orang-orang berkulit hitam.

  • Pada saat pemberian medali John dan Tommie akan mengacungkan tinju mereka ke atas sebagai isyarat bagi dukungan mereka. Selain itu mereka akan mengenakan lencana bertuliskan Olympic Project for Human Rights. Mereka juga akan bertelanjang kaki untuk menunjukkan kemiskinan yang diderita orang-orang kulit berwarna.

  • Mendengar rencana mereka, Peter Norman menyatakan keinginannya untuk berbuat hal yang sama. Dia berhasil memperoleh sebuah lencana tetapi karena hanya ada sepasang sarung tangan hitam, John dan Tommie masing-masing akan mengenakan satu sarung tangan.

  • Sekembalinya ke AS kedua orang pelari tercepat di dunia ini menghadapi tantangan berat, bahkan terancam mati. Namun dengan berlalunya waktu mereka terbukti benar dan dianggap sebagai pejuang persamaan hak-hak manusia. Patung mereka berdua menghias Universitas San Jose di California. Sayangnya Peter Norman tidak dianggap pahlawan bahkan oleh negaranya sendiri. Seorang atlit yang dilupakan, dihapus dari sejarah, bahkan di Australia, tanah airnya. Saat itu Australia mempunyai peraturan ketat yang membatasi imigran kulit berwarna dan kehidupan penduduk pribuminya.

  • Pada tahun 1972 Peter Norman tidak diikutsertakan dalam tim lari Australia di Olimpiade Munich, Jerman. Padahal dia memenuhi syarat dalam regu lari 200 meter sebanyak 13 kali dan 5 kali dalam regu lari 100 meter. Dia meninggalkan pertandingan atletik sesudah kekecewaan ini dan tetap lari dalam tingkat amatir.

  • Peter Norman diperlakukan sebagai orang asing, keluarganya dikucilkan, dan sulit untuk mencari pekerjaan. Dia bekerja sebagai guru olahraga sementara tetap memperjuangkan persamaan hak sebagai anggota union, kadang-kadang dia bekerja di tempat jagal. Dia mengalami luka menahun yang membuat dia depresi dan kecanduan alkohol.

  • Advertisement
  • Kata John Carlos, "Kami diserang habis-habisan, tetapi Peter dikucilkan seluruh negerinya dan menderita seorang diri." Selama bertahun-tahun dia hanya memiliki kesempatan satu kali untuk menyelamatkan dirinya: kalau dia mau mengutuk tindakan rekan-rekan atlitnya, John Carlos dan Tommie Smith, dia akan diampuni.

  • Pengampunan akan memungkinkan dia memperoleh pekerjaan tetap di Komite Olimpiade Australia dan mengambil bagian dalam mengorganisir Olimpiade Sidney 2000. Peter Norman tidak mau menyerah dan tidak pernah mengutuk tindakan kedua orang Amerika itu, rekan-rekannya di Olimpiade Meksiko 1968.

  • Dia adalah pelari terhebat sepanjang sejarah olahraga Australia dan pemegang rekor lari 200 meter, namun dia tidak diundang ke Olimpiade Sidney. Justru Komite Olimpiade Amerika yang mengundang dia ke grup mereka begitu mereka mengetahui keadaannya. Mereka juga mengundang dia ke perayaan ulang tahun pemenang olimpiade Michael Johnson yang menganggap dia seorang pahlawan dan pejuang persamaan hak.

  • Peter Norman meninggal karena serangan jantung di tahun 2006 tanpa mendapat permintaan maaf dari negaranya atas perlakuan mereka terhadap dia. John Carlos dan Tommie Smith, teman-temannya sejak Olimpiade 1968, mendukung peti matinya ke tempat pemakamannya.

  • Baru pada tahun 2012 pemerintah Aurstralia secara resmi meminta maaf, mengembalikan status Peter Norman sebagai juara olimpiade dan menganggap dia pejuang persamaan hak-hak kemanusiaan.

1 menit saja untuk membagikan artikel ini..

Irma Shalimar graduated from BYU-Idaho in 2004 majoring in English Literature and minoring in Family Science and Spanish. She met her husband because of Superman and has 2 grown-up kids. You could know her better through

Situs: https://joojoo.com

Dikucilkan dari negaranya akibat memperjuangkan hak-hak kemanusiaan

Peter Norman melakukan sesuatu yang luhur bagi sesamanya, tetapi sungguh tidak adil, usahanya ini dinilai sebagai pemberontakan terhadap negaranya sendiri dan sejak itu hidupnya dipersulit.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr