Saya tidak menikah dengan belahan jiwa saya

Saya mempunyai pilihan untuk menikah dengan pria yang ingin saya nikahi. Dan dia bukanlah orang yang saya kira belahan jiwa saya.

1,718 views   |   11 shares
  • Kisah ini mulanya diterbitkan oleh KSL.com. Diterbitkan ulang di sini dengan izin.

  • Ketika saya bertemu dia, kami mengobrol semalaman. Kami tertawa terbahak-bahak sampai saya takut terkencing-kencing di celana. Dia berumur 23 dan saya 21. Sungguh luar biasa bersama orang ini yang memiliki begitu banyak persamaan dengan saya, walau ada juga perbedaan di antara kami, namun itu malah membuat saya belajar sesuatu darinya. Hubungan kami tercipta secara spontan.

  • Ketika kami pergi berdua lagi saya tahu bahwa ini bukan yang terakhir kalinya. Belum pernah saya merasa begitu yakin tentang satu hal seperti ini: Dia adalah belahan jiwa saya.

  • Ketika saya pergi ke luar negeri selama 18 bulan, saya tahu dia akan menunggu sampai saya pulang. Bagaimana mungkin tidak? Saya mempunyai banyak pengalaman di mana saya merasa tidak yakin. Dalam hal ini saya tahu kami berjodoh.

  • Tentu saja dia akan menunggu sampai saya pulang.

  • Ternyata tidak.

  • Dua bulan sebelum saya pulang, dia menikah dan saya patah hati.

  • Siapa yang akan saya nikahi? Mungkinkah saya merasa begitu yakin dengan orang lain? Apakah saya akan puas dengan penggantinya? Apakah adil bagi orang yang akan saya nikahi? Mengapa Tuhan membiarkan semua ini terjadi pada diri saya?

  • Kebalikan dari belahan jiwa saya

  • Tanpa kami ketahui kami pergi ke SMA yang sama. Saya ingat pernah melihat dia di sekolah dan berpikir dia cakep. Saya bahkan mengisi buku kenangannya ketika lulus, tetapi tidak pernah benar-benar mengenalnya.

  • Pertama kali kami pergi kencan, dia mengendarai mobil Mustang keluaran 1988—mobil keren bagi anak muda. Cocok dengan kaosnya yang ketat. Di balik kaos itu menonjol dada dan lengan berotot yang pasti merupakan kebanggaannya. Rambutnya berdiri kaku dan dia mengenakan kalung lokan. Umur kami 23.

  • Dia menjemput saya di rumah orangtua saya. Sebelum keluar rumah saya berpaling ke arah saudara lelaki saya dan menjulurkan lidah saya. Saya kira semua ini tidak akan berhasil.

  • Travis tidak banyak bicara, saya tidak keberatan karena saya juga tidak akan mendengar perkataannya dengan derum mobil sekencang itu. Kami makan malam. Dia tidak banyak komentar kecuali mengatakan bahwa dia belum pernah melihat gadis yang makannya lebih cepat dari dia.

  • Sungguh ini tidak berjalan lancar. Saya pergi ke kamar kecil ketika dia membayar bon makan kami. Ketika saya keluar dia sudah tidak ada. Saya ke tempat parkir mengira dia menunggu di situ. Saya melihat seorang gelandangan yang minta-minta uang karena lapar. Saat itulah saya melihat Travis keluar dari restoran.

  • Advertisement
  • Dia tidak melihat saya dan mungkin mengira saya masih di kamar kecil. Saya melihat Travis membawa sebungkus makanan yang baru dibelinya dari restoran. Dia mendekati tunawisma tadi dan memberikan makanan serta uang $20, katanya, "Kamu pasti lapar."

  • Dia tidak tahu saya melihat semua itu.

  • Di perjalanan pulang saya berusaha mengenalnya lebih baik. Ketika dia mengantar saya pulang, saya sadar saya sudah salah menilai orang ini. Sayalah yang beruntung dapat berkencan bersamanya, bukan kebalikannya.

  • Sejak saat itu kami berkencan secara tetap. Kami tidak pernah ngobrol dan tertawa sepanjang malam. Saya tidak pernah merasa di awang-awang bila dia mencium saya. Dia juga bukan orang yang sering memuji. Namun dia penuh tanggung jawab dan baik hati. Kami bahagia bersama.

  • Saatnya tiba bagi kami untuk menikah atau berpisah. Saya tidak mau patah hati lagi atau menghabiskan waktu saya untuk sesuatu yang tidak diketahui tujuannya. Tapi kami tidak tahu apakah kami benar-benar cocok satu sama lain. Tidak ada tawa sepanjang malam. Tidak ada suara dari langit yang memberi garansi bahwa inilah jodohmu.

  • Yang saya tahu hanyalah saya merasa nyaman bersama Travis, dia orang baik, dia mengasihi Tuhan dan selalu berusaha melakukan apa yang benar. Saya jatuh cinta kepada orang yang sama sekali berbeda dari belahan jiwa saya dan saya mungkin juga jauh berbeda dari belahan jiwanya.

  • Nasihat terbaik

  • Tidak lama sesudah itu saya menerima nasihat terbaik yang pernah saya terima. Saya bertanya kepada seorang penatua bijak di gereja bagaimana saya dan Travis bisa tahu bahwa kami cocok satu bagi yang lain? Dia tertawa.

  • "Kalian berdua orang baik-baik, dengan iman yang kuat," katanya. "Adalah pilihanmu siapa yang akan kamu nikahi dan rumah tangga macam apa yang ingin kamu miliki."

  • Nasihat ini sederhana, tetapi tidak ada yang lebih jelas bagi saya saat itu. Mantan pacar saya tidak menikah dengan saya bukan karena Tuhan tidak mengizinkan, bukan karena ada orang yang lebih baik bagi saya atau dia dan mungkin bukan karena kami tidak cocok. Saya pergi jauh dan ada gadis menarik datang, dia memilih gadis itu. Sesederhana itu dan semuanya baik-baik saja. Hidup saya belum berakhir; kesempatan saya menemukan cinta sejati belum berakhir.

  • Saat itu saya sadar: Tidak peduli apakah kita menemukan belahan jiwa kita atau tidak. Belahan jiwa kita ialah orang yang kita pilih.

  • Diterjemahkan dan diadaptasi oleh Irma Shalimar dari artikel asli " I didn't marry my soul mate"_karya Kate Lee

  • Advertisement
1 menit saja untuk membagikan artikel ini..

Kate Rose Lee is a Utah native, mother of three and author. You can read more of her writing as well as her books at www.momentsofchunder.blogspot.com Contact her at momentsofchunder@gmail.com

Saya tidak menikah dengan belahan jiwa saya

Saya mempunyai pilihan untuk menikah dengan pria yang ingin saya nikahi. Dan dia bukanlah orang yang saya kira belahan jiwa saya.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr