Persepsi seorang anak tentang ibunya yang "single parent"

Sebagai seorang anak tentu berpikir berbeda dari apa yang dipikirkan orang lain mengenai ibunya

1,883 views   |   22 shares
  • Sebagai seorang orangtua tunggal, tentu ada banyak hal positif dan negatif yang dilontarkan orang lain mengenai status yang sedang disandang. Tetapi sebagai seorang anak tentu berpikir berbeda dari apa yang dipikirkan orang lain mengenai ibunya.

  • Seorang anak tentu tahu persis bagaimana ibunya bersikap sebagai orangtua tunggal, pasca bercerai dari ayahnya. Apa saja yang dirasakan sang anak dan yang dipikirkan sang anak mengenai ibunya. Ini dia yang bisa saya tuliskan, sebagai refleksi bersama. Bahwa anak juga punya pendapat pasca orangtuanya bercerai.

    1. Ibu tidak pernah mengatakan sesuatu yang buruk tentang ayah. Sejak perpisahan mereka, tak pernah sekalipun aku mendengar ibu menjelek-jelekan ayah. Meski aku tahu, ibu menyimpan luka yang dalam. Tetapi ibu selalu dapat bersikap bahwa ayah, tetaplah menjadi ayah terbaik bagiku. Dan aku sangat bangga dengan hal itu. Karena ibu tidak pernah mau memutuskan hubungan darah antara aku dan ayah. Meski ayah kini sudah mempunyai keluarga baru.

    2. Ibu selalu membuat kesepakatan dengan ayah, untuk hal-hal yang berkaitan dengan diriku. Mulai dari sekolah, hingga pilihan aktivitas yang terbaik untukku. Dan aku tetap merasa mendapatkan dukungan dari keduanya. Meski saat ini ibu dan ayah sudah tidak lagi berstatus suami-istri, tapi mereka tetaplah orangtuaku.

    3. Ibu selalu mengajakku berdoa bersama, untuk kebaikan kami dan kebaikan ayah. Aku tahu ibuku bekerja sangat keras untuk kehidupan kami. Ibu yang dulu menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya, kini harus memutuskan bekerja. Tentu saja atas kesepakatan bersama denganku. Aku pun tahu, ibu mampu melakukan yang terbaik dan memilih pekerjaan yang memang diminatinya. Sehingga ketika ada orang lain berkata yang buruk tentang ibu, aku tahu, ibu melakukan itu semua untukku.

    4. Ibu selalu memelukku saat aku merindukan ayah. Ia bisa menjadi penenang dan pelindungku sekaligus. Dan ia tahu bagaimana bersikap saat aku bersedih dengan masa-masa di mana kami masih seperti dulu.

    5. Ibu akan mengambil libur kerja khusus di hari sabtu untuk melakukan aktivitas bersamaku. Ia tahu aku selalu menginginkan bahwa sabtu selalu menjadi hari keluarga kami, dengan berbagai macam aktivitas yang bisa kami lakukan bersama. Mulau dari bangun tidur dan tidur lagi. Sabtu selalu menjadi milikku dan ibu.

    6. Ibu selalu mau bercerita apa pun tentang kehidupan dan melibatkanku di dalamnya. Ia tidak pernah menganggapku hanya seorang anak. Ia selalu memposisikan diriku sebagai manusia, yang perlu banyak belajar tentang kehidupan. Apa itu pertemuan, perpisahan, kegagalan dan keberhasilan selalu menjadi kisah yang tidak pernah bosan kudengar dari ibu.

    7. Ibu tidak pernah menghilangkan kebiasaan-kebiasaan yang dulu dilakukan bersama-sama ayah. Ia selalu memposisikan dirinya bukan hanya sebagai ibu. Tetapi juga sebagai ayah. Selalu melakukan hal-hal yang dulu selalu kami lakukan bersama-sama.

    8. Ibu selalu mengajarkan kami untuk tidak patah semangat dan selalu berjuang saat terjatuh, meski itu rasanya sakit. Satu hal yang aku selalu kagumi dari Ibu, ia tidak pernah putus asa dan mudah menyerah. Meski cibiran terus dihadapinya. Ia mampu memberikan yang terbaik untukku anaknya.

  • Advertisement
Baca, hidupkan, bagikan!

Profil Penulis Irni, lulusan Sarjana Psikologi UBAYA. Saat ini menetap di Jepang mendampingi suami bersama dua buah hatinya. Aktif menulis di berbagai media dan buku Pengembangan Diri. Baginya menulis adalah media berbagi pada sesama.

Situs: http://www.irniis.com

Persepsi seorang anak tentang ibunya yang "single parent"

Sebagai seorang anak tentu berpikir berbeda dari apa yang dipikirkan orang lain mengenai ibunya
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr