Persiapan psikologis si kecil masuk sekolah

Si kecil kini sudah semakin besar, tantangan berikutnya bagi orangtua adalah memikirkan sekolah. Ya, sudah siapkah ia masuk sekolah? Apa saja yang harus diperhatikan, dan bagaimana mempersiapkan dirinya untuk berhadapan dengan dunia baru?

628 views   |   3 shares
  • Sekolah, adalah institusi yang cukup penting dalam kehidupan seseorang. Namun, seperti kata Toge Aprilianto, pemerhati dunia anak; "Sekolah itu perlu, bukan harus. Yang perlu adalah orangtua, bukan anak. Karena orangtua perlu bantuan dalam mengajarkan berbagai macam hal yang tidak dikuasainya kepada anak,"

  • Kalimat tersebut sebetulnya cukup menohok bagi orangtua ya? maka, sebelum memasukkan anak ke sekolah, ada baiknya pertanyakan lebih dahulu kepada masing-masing orangtua: "Anak sekolah untuk siapa?" Untuk kebahagiaan orangtua atau kebahagiaan anak? Supaya anak belajar hal-hal yang kita tidak mumpuni untuk mengajarkan sendiri pada mereka, atau supaya orangtua punya me-time?

  • Jadi fokuslah pada apa yang dibutuhkan anak, bukan orangtua. Dari sini, sekolah dikatakan OK bila dengan bersekolah memberi manfaat untuk anak.

  • Lalu, apakah memang usia masuk sekolah itu berdasarkan umur atau kemampuan anak? Dr. Frieda Mangunsong, M. Ed dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia menjelaskan tentang kesiapan anak bersekolah.

  • Sekolah zaman sekarang beda dengan dulu. Kalau dulu patokan usia anak mulai sekolah adalah tujuh tahun, sekarang tidak lagi. Menurut Frieda, umumnya sekolah sekarang menerapkan ketentuan pencapaian kematangan sekolah anak sebagai tanda. Beberapa ciri kematangan tersebut antara lain:

    1. Kemandirian. Anak sudah bisa ditinggal sendiri tidak selalu 'nempel' dengan ibunya. Kemandiriannya sudah terbentuk. Misalnya, ketika ingin buang air, anak bisa melakukannya sendiri tanpa bantuan guru. Atau ketika memakai sepatu, ia bisa melakukannya sendiri

    2. Motorik Halus Baik. Dia sudah bisa menggenggam pensil dengan baik dan dapat menggunakannya dengan baik.

    3. Paham Konsep Ruang. Anak sudah memahami konsep ruang. Luas, lebar, dan bentuk-bentuk sederhana ruang. Ini berguna ketika belajar membedakan huruf "p" dan "b" atau "d" dan "p".

    4. Paham Instruksi. Si kecil memahami dan menjalankan instruksi yang diberikan. Ini bermanfaat ketika guru menerangkan pelajaran dan memberikan tuga-tugas tertentu.

    5. Mampu Menerima Tugas. Anak mampu mengerjakan tugas tertentu dalam jangka waktu yang telah ditentukan.

  • Nah, selain itu, Toge juga menekankan kesiapan sekolah adalah saat anak sudah bisa masuk level ke-4, karena sekolah bagi beberapa anak termasuk sesuatu yang tidak enak. Ya, karena harus bangun dan mandi pagi setiap hari sekolah, harus mengikuti aturan, tidak bisa bermain seenaknya seperti di rumah.

  • Advertisement
  • Bila anak belum bisa menyukai kegiatan bersekolah, memilih bekal tidak seru, baju seragamnya tidak keren, teman-temannya nggak asyik, gurunya dibilang galak, dan proses bersepakat juga tidak berhasil, mungkin anak memang belum siap untuk sekolah. Kadang-kadang bersepakat berhasil untuk hari-hari pertama sekolah, tapi seterusnya memerlukan daya juang si anak untuk bisa konsisten bersekolah. Lingkungan sekolah juga harus mendukung. Jadi, selain memastikan anak siap sekolah, pastikan juga sekolah siap menerima anak.

  • Lalu, pastikan juga agar orangtua memastikan untuk memilih sekolah dengan guru-guru, bukan juru-juru. Apa bedanya?

  • Juru menginstruksi dan memacu, tanpa mengindahkan kebutuhan dan kemampuan anak. Guru memberdayakan dan membangun kemampuan yang ada pada anak dengan optimal. Hati-hati, juru bisa membuat anak jadi mogok sekolah, ditingkatan manapun. Sementara guru pasti akan dicintai murid dan mata pelajarannya biasanya akan jadi favorit. Guru akan memahami bila anak kita maunya mengerjakan tugas sambil duduk di lantai misalnya, karena dengan begitu anak lebih enjoy dan tugas selesai dengan baik ketimbang dipaksa duduk manis di kursi tapi karena gelisah malah tugasnya amburadul.

  • Untuk itu, orangtua wajib melakukan survey sekolah sebelum memutuskan. Cari tahu dengan detail mengenai guru-gurunya, metode pengajaran, hingga turn over-nya. Apakah guru sering berganti-ganti atau tidak. Sekolah yang gurunya sering berganti, tidak dianjurkan. Selain itu perhatikan juga fasilitas sekolah, apakah mendorong perkembangan anak atau tidak. Kemudian, perhatikan dengan seksama, apakah sekolah tersebut cocok atau tidak dengan karakter dan cara belajar anak Anda. Yang terpenting tentunya, mengajak anak dan menanyakan pendapatnya.

Baca, hidupkan, bagikan!

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Persiapan psikologis si kecil masuk sekolah

Si kecil kini sudah semakin besar, tantangan berikutnya bagi orangtua adalah memikirkan sekolah. Ya, sudah siapkah ia masuk sekolah? Apa saja yang harus diperhatikan, dan bagaimana mempersiapkan dirinya untuk berhadapan dengan dunia baru?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr