Suami Istri bekerja, dapatkah rumah tangga berjalan harmonis?

Berkarier, sekaligus berumah tangga, adalah pilihan yang kini banyak dijalani. Ada begitu banyak rintangan yang harus dilewati, karena minimnya waktu dan kelelahan yang mendera. Maka, dapatkah rumah tangga tetap berjalan harmonis?

4,087 views   |   31 shares
  • Di zaman sekarang ini, menemukan rumah tangga dengan suami dan istri yang sama-sama bekerja adalah hal lumrah dan biasa. Alasannya bisa begitu banyak, dan tidak bisa disalahkan. Meskipun biasa saja dan banyak dilakukan, bukan berarti keputusan untuk sama-sama bekerja ini artinya terbebas dari persoalan rumah tangga. Ya, setiap rumah tangga pasti memiliki problemnya sendiri-sendiri. Beberapa hal yang biasanya menjadi masalah, adalah:

  • 1. Meski keduanya sama-sama bekerja, tipe manajemen rumah tangga yang diterapkan masih model istri di rumah dan suami bekerja. Yakni suami berharap mendapat pelayanan seperti suami lain yang memiliki istri seorang ibu rumah tangga. Padahal, kadang pekerjaan membuat istri harus pulang lebih larut atau bahkan dinas keluar. Pemahaman yang tidak berubah ini biasanya menimbulkan cekcok, karena istri yang juga sibuk tak banyak waktu untuk mengurusi segala tanggung jawab rumah tanggga yang seabrek.

  • 2. Saat keduanya bekerja pun, yang kerap terjadi adalah kurang komunikasi. Hal ini adalah urat dari seluruh masalah pada pasangan. Ya, biasanya terjadi karena gawai. Sudah banyak waktu yang dipakai untuk bekerja di kantor, saat bersama di rumah pun masih banyak pegang handphone atau laptop, ketimbang mengobrol. Alhasil, banyak salah paham yang terjadi, karena komunikasi yang dilakukan tidak berjalan efektif. Hal ini sudah pasti menimbulkan konflik.

  • 3. Urusan anak, biasanya menjadi lahan pertengkaran yang paling panas. Sebab biasanya, karena kedua orangtua bekerja, maka tugas mengurus anak didelegasikan pada orang lain. Entah pada baby sitter, atau kakek neneknya. Yang menjadi pemicu pertengkaran adalah gaya didik antar generasi yang bisa jadi berbeda. Belum lagi sindrom nenek dan kakek ke cucu, yang biasanya terlalu sayang dan tidak tegaan, sehingga cenderung memanjakan cucu. Di sini pasangan seringkali saling meyalahkan.

  • 4. Hubungan seks juga punya kemungkinan memburuk. Ya, sebab keduanya seringkali merasa terlalu lelah saat pulang bekerja. Sementara harus berangkat pagi, agar tidak terjebak macet. Dan akhir pekan biasanya harus dimanfaatkan untuk mengurus segala kebutuhan anak-anak.

  • 5. Masalah finansial, dan pembagian gaji juga seringkali menjadi pemicu keributan. Sebab, jika tidak dibicarakan dengan baik, suami kerap merasa tidak perlu memberi seluruh gajinya karena istrinya sudah bekerja. Padahal istri merasa uangnya adalah miliknya sendiri, dan suami tetap harus memberikan seluruh nafkah.

  • 6. Kerepotan urusan rumah tangga, akan menyebabkan waktu masing-masing untuk bekerja berkurang secara signifikan dibanding saat sebelum menikah atau sebelum punya anak. Jika sebelumnya bisa bekerja sepuas hati, kini waktunya menjadi terbatasi waktu untuk keluarga. Istri dan suami tak lagi bisa kerja lembur. Banyak kesempatan yang lewat di depan mata, tidak bisa diraih karena keterbatasan waktu. Kualitas kerja jadi terasa kurang maksimal. Kondisi ini semakin menyulut stres saat menyadari rekan kerja yang lain melesat jauh lebih cepat. Situasi seperti ini bisa menyebabka mudah uring-uringan. Dan tergelitik untuk menyalahkan anak atau pasangan.

  • Advertisement
  • Wah, banyak juga ya masalahnya? Namun, tidak ada masalah yang hadir tanpa solusi. Kunci utamanya tentu saja diskusi yang baik dan teratur, hingga mencapai kesepakatan bersama yang sama-sama adil. Misalnya, baik suami atau istri seharusnya paham betul akan keterbatasan masing-masing. Suami memahami bahwa istrinya bekerja, sehingga waktu untuk keluarga terbatas, maka tidak seharusnya menerapkan standar pelayanan "ibu rumah tangga" pada istrinya. Sebaliknya, suami perlu membantu istri mengurus pekerjaan rumah tangga.

  • Adalah hal yang sangat rasional jika tugas-tugas kerumahtanggaan perlu didiskusikan dan didistribusikan. Begitu juga dengan perihal mengurus anak. Tidak perlu menyalahkan siapa-siapa. Cari saja jalan tengah yang menenangkan hati. Misalnya dengan sama-sama membagi waktu untuk mengasuh, atau sama-sama coba memberikan pemahaman kepada pengasuh anak di rumah mengenai pendidikan seperti apa yang ingin diajarkan.

  • Mau tidak mau, pasangan bekerja harus sama-sama pasrah dengan keadaan si anak yang diasuh oleh kakek nenek atau babysitter. Jika tidak mau pasrah, kini banyak tempat penitipan anak yang memberikan program-program pendidikan juga pengasuhan sesuai gaya orangtua.

  • Sementara itu, usahakan untuk meminimalkan penggunaan gawai di rumah. Benda ini memang amat penting, namun harus diperhatikan dengan seksama dari berbagai aspek. Jangan sampai mengganggu komunikasi antar pasangan, dan bahkan hubungan seks yang seharusnya dilakukan dengan romantis dan menyenangkan.

  • Diskusi dan komunikasi efektif juga bersikap jujur amat diperlukan dalam mengatasi masalah finansial dan salah mengerti jika sedang uring-uringan. Kebiasaan pillow talk atau menelepon di jam istirahat sebetulnya amat baik, untuk menjaga komunikasi antar pasangan bekerja.

Klik pilihan berbagi di bawah ini

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Suami Istri bekerja, dapatkah rumah tangga berjalan harmonis?

Berkarier, sekaligus berumah tangga, adalah pilihan yang kini banyak dijalani. Ada begitu banyak rintangan yang harus dilewati, karena minimnya waktu dan kelelahan yang mendera. Maka, dapatkah rumah tangga tetap berjalan harmonis?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr