Berbagi Tugas dengan Pasangan? Kenapa Tidak?

Anggapan bahwa urusan domestik di rumah adalah urusan perempuan masih kuat mengakar di sebagian besar masyarakat kita. Padahal hakikatnya berjalan dan berhasilnya sebuah pernikahan dan rumah tangga itu adalah tanggung jawab berdua.

3,029 views   |   5 shares
  • Suatu kali saya terlibat pembicaraan serius dengan beberapa teman sesama ibu rumah tangga. Pembicaraan itu mengenai bagaimana sikap para suami terhadap tugas-tugas domestik di rumah. Dan mereka heran ketika bertanya tentang suami saya, dan saya menjawab bahwa ketika dibutuhkan suami saya akan bangun lebih pagi untuk mencuci baju, secara manual alias memakai tangan, dan membersihkan kamar mandi sebelum dia bersiap berangkat bekerja. Biasanya ketika saya sedang sakit atau terlalu capek. Sebaliknya para pasangan dari beberapa teman saya, sama sekali tidak peduli tentang urusan rumah tangga. Mungkin beberapa dari Anda yang membaca artikel ini akan berpikir, "ah, masak sih di zaman modern begini masih ada model lelaki begitu?" Masih ada percayalah, karena saya melihat sendiri kasus di mana para suami yang tidak akan pernah mau untuk bahkan hanya sekadar mencuci piring bekas makannya sendiri karena berpikir bahwa mencuci piring termasuk pekerjaan dapur, dan dapur identik sebagai ruang kerja wanita. Anggapan bahwa urusan domestik di rumah adalah urusan perempuan masih kuat mengakar di sebagian besar masyarakat kita.

  • Sebagian besar masyarakat kita masih mengkotak-kotakan tugas antara suami dan istri. Paradigmanya adalah, suami bekerja mencari nafkah sedangkan istri mengurus semua urusan rumah tangga. Yang lebih parah lagi, banyak istri yang juga bekerja mencari tambahan penghasilan sekaligus harus tetap mengurus urusan rumah karena, sekali lagi, urusan rumah itu identik sebagai “urusan wanita”. Padahal hakikatnya berjalan dan berhasilnya sebuah pernikahan dan rumah tangga itu adalah tanggung jawab berdua, suami dan istri. Dan bagian dari berkeluarga adalah tugas-tugas di rumah.

  • Pada dasarnya, landasan yang harus dimengerti adalah bahwa keberhasilan dalam pernikahan dan keluarga itu harus diusahakan bersama. Dan itu seharusnya menghapus batasan ini tugas siapa dan itu tugas siapa. Suami dan istri harus bekerja sama dalam membangun rumah tangga yang bahagia dan berhasil. Kalau landasan itu dipahami maka akan muncul saling pengertian dan kesediaan untuk bekerja bersama saling melengkapi antara suami dan istri. Suami tidak akan lagi keberatan untuk melakukan pekerjaan rumah tangga jika melihat istrinya kerepotan begitu pula sebaliknya, si istri juga akan melakukan yang bisa dia lakukan untuk menambah pemasukan jika memang diperlukan.

  • Bagi pasangan yang baru menikah, yang belum memiliki momongan, terkadang terjadi sebuah kekagetan yang membutuhkan penyesuaian. Semisal ketika si istri yang kaget dengan kebiasaan suami yang suka meletakkan barang dengan sembarangan dan malas untuk membereskan barang. Dan si suami yang merasa bahwa si istri terlalu banyak mengatur tentang kerapian yang menurut dia tidak menjadi masalah besar. Atau malah sebaliknya, si istri yang semasa lajang terbiasa makan di luar karena bekerja, tiba-tiba dihadapkan pada suami yang suka makan masakan rumahan. Yang paling dibutuhkan dalam menghadapi kekagetan semacam itu hanyalah komunikasi yang baik. Bicarakan bersama apa yang diinginkan dan apa yang dibutuhkan. Apa yang disukai dan apa yang membuat tidak nyaman.

  • Advertisement
  • Berbagi tugas juga termasuk hal yang seharusnya bisa dibicarakan dengan leluasa. Istri seharusnya tidak dianggap kurang ajar atau malah merasa sungkan ketika harus meminta tolong suami untuk membantu melakukan pekerjaan di dapur jikalau dia memang kerepotan. Sebaliknya ketika suami sudah bersedia dengan senang hati membantu, hargailah. Janganlah terlalu banyak berkomentar apalagi mengkritik hasil kerjanya, alih-alih ucapkan terima kasih yang tulus.

  • Ucapan terima kasih, walau terdengar sederhana, bisa menjadi sebuah cara yang sangat baik untuk menunjukkan penghargaan kita. Saya mengenal banyak suami yang akan mengucapkan terima kasih kepada istrinya yang sudah menyiapkan makanan untuknya, walau itu memang sudah dianggap si istri sebagai tugas sehari-harinya. Jangan meremehkan kekuatan sebuah ucapan terima kasih dalam memperkuat ikatan pernikahan. Jika Anda belum terbiasa untuk mengucapkan terima kasih pada pasangan Anda, meski hanya untuk hal yang biasa dia lakukan setiap hari, cobalah memulai, dan Anda akan mendapati pasangan Anda menjadi lebih bahagia dan lebih dihargai. Hal yang sama juga berlaku bagi para istri. Sesekali ucapkan terima kasih kepada suami karena dia sudah bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarga, walaupun dia tidak mengharapkan hal itu dan menganggapnya sebagai sesuatu yang memang harus dia lakukan.

  • Sekali lagi yang perlu diingat adalah bahwa pernikahan bukanlah pertunjukan tunggal, keberhasilannya tidak ditentukan oleh satu pihak saja. Suami dan istri harus bekerja sama, dalam segala hal untuk membuatnya berhasil.

Anda suka artikel ini? Bagikan dengan teman-teman

It is my sincere desire and hope that my writing will positively influence readers, and help them be better and happier.

Berbagi Tugas dengan Pasangan? Kenapa Tidak?

Anggapan bahwa urusan domestik di rumah adalah urusan perempuan masih kuat mengakar di sebagian besar masyarakat kita. Padahal hakikatnya berjalan dan berhasilnya sebuah pernikahan dan rumah tangga itu adalah tanggung jawab berdua.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr