Jurnal Pribadi: Sebuah Jembatan Bagi Keturunan Kita

Menulis jurnal pribadi bukanlah hal yang kuno, bukan pula hal yang membuang-buang waktu, itu adalah kebiasaan yang luar biasa. Ketika kita menulis jurnal pribadi kita, sesungguhnya kita sedang membangun jembatan antara kita dan keturunan kita kelak.

1,365 views   |   shares
  • Saya tidak pernah mengenal kakek dan nenek buyut saya. Saya lahir jauh setelah mereka meninggal dunia. Tetapi saya tahu kalau kakek saya adalah perantauan dari negeri Tiongkok, dan memulai semua dari nol di Indonesia sebelum kemudian menikah dengan nenek buyut saya yang adalah seorang wanita pribumi yang sederhana. Saya tahu bahwa kakek buyut saya adalah seorang pekerja keras, begitu juga nenek buyut saya. Darimana saya tahu semua itu? Anak lelaki mereka, yang adalah kakek saya dan cucu lelaki mereka yang adalah ayah sayalah yang bercerita kepada saya tentang mereka. Walau saya tidak pernah mengenal kakek dan nenek buyut saya secara langsung, tetapi dengan cerita-cerita yang saya dengar, itu membangun sebuah ikatan antara saya dan buyut saya. Menumbuhkan rasa hormat dan kagum saya pada mereka.

  • Kakek saya, yang suka bercerita tentang kakek buyut saya tersebut, sudah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu. Dia adalah kakek yang hebat. Dan saya ingin anak-anak saya kelak juga mengenal dan bisa belajar dari teladan serta nasihat-nasihatnya sebagaimana saya mengenal dan belajar dari beliau. Dan itu hanya bisa terjadi jika saya bercerita kepada mereka. Sayalah jembatan yang menghubungkan mereka dengan kakek saya, seperti juga kakek dan ayah saya telah menjadi jembatan penghubung bagi saya dan kakek nenek buyut saya. Karena jika saya tidak melakukan hal itu, anak-anak saya tidak akan pernah mengenal leluhur mereka, dan belajar dari nilai-nilai yang ditanamkan oleh para pendahulu tersebut. Dan itu sangat disayangkan. Banyak pelajaran dan nilai-nilai yang bisa kita ajarkan ketika kita bercerita tentang leluhur kita kepada anak-anak- kita. Banyak dari pengalaman hidup mereka yang walaupun berada di jaman dan budaya yang berbeda dengan kita, tetapi tetap bisa menjadi pelajaran yang sangat baik untuk diterapkan pada kehidupan kita. Saya ingat salah satu cerita nenek tentang bagaimana dia bertahan ketika hidup di zaman penjajahan Jepang. Pengalamannya mengajarkan kepada saya tentang ketabahan dan semangat untuk tidak menyerah.

  • Ketika memikirkan tentang hal itu, terlintas di pikiran saya, betapa akan jauh lebih baik jika saja kakek dan nenek buyut serta kakek dan nenek saya bisa menulis, dan mereka memiliki jurnal pribadi. Mereka bisa mewariskannya kepada kami keturunannya, dan kami pun bisa mendapatkan lebih banyak cerita, yang berarti lebih banyak pelajaran hidup, daripada yang sekedar mereka ceritakan secara verbal. Karena saya percaya, kapasitas otak manusia terbatas. Tidak setiap kejadian bisa diingat secara detil.

  • Advertisement
  • Budaya menulis jurnal pribadi, terutama dewasa ini, menjadi sedikit terlupakan kalau tidak bisa dibilang hampir hilang. Bagi sebagian orang, kebiasaan itu kalah telak dibanding hal-hal lain yang dianggap jauh lebih penting dan lebih modern. Bagi sebagian orang lagi, hal itu dianggap kebiasaan kuno yang ketinggalan jaman. Bagi sebagian orang yang lain, yang tenggelam dalam irama kehidupan masa kini yang serba cepat, dan instan, waktu mereka menjadi terlalu berharga untuk sekedar digunakan menulis jurnal pribadi. Andai saja mereka sadar bahwa jurnal pribadi yang proses penulisannya tidak membutuhkan waktu berjam-jam itu akan menjadi hal yang sangat berharga bagi anak cucu kita, hal yang akan menghubungkan mereka dengan kita.

  • Apa sajakah yang hendaknya kita tulis dalam jurnal harian kita? Jawabannya adalah apa saja. Sejauh apa yang kita tulis itu adalah pengalaman-pengalaman yang akan memberi dampak positif terhadap mereka yang membacanya. Jurnal pribadi kita bisa berisi pengalaman-pengalam kita, perasaan-perasaan kita, bagaimana sikap kita terhadap hal-hal yang terjadi dalam hidup kita. Dan tentu saja momen-momen penting yang terjadi dalam hidup kita. Beberapa orang berpikir jurnal harian itu adalah buku harian, yang identik dengan rahasia-rahasia yang kita tidak mau orang lain membaca, atau tentang keluh kesah dan cerita-cerita curahan hati yang bertele-tele. Memang benar jurnal pribadi itu buku harian, tetapi ketika membuatnya, pikirkan tentang keturunan-keturunan kita yang akan membacanya, dan pikirkan juga tentang bagaimana jurnal jika akan menginspirasi dan membantu mereka dalam kehidupan mereka. Hindari untuk menulis hal-hal yang tidak terlalu penting dalam jurnal pribadi kita.

  • Menulis jurnal pribadi bukanlah hal yang kuno, bukan pula hal yang membuang-buang waktu, itu adalah kebiasaan yang luar biasa. Ketika kita menulis jurnal pribadi kita, sesungguhnya kita sedang membangun jembatan antara kita dan keturunan kita kelak. Agar mereka mengenal kita, agar pengalaman-pengalaman kita bisa menjadi pelajaran bagi mereka, agar setiap nilai yang kita dapatkan dalam hidup kita, bisa diwariskan kepada mereka.

Bagikan kepada teman-teman Anda!

It is my sincere desire and hope that my writing will positively influence readers, and help them be better and happier.

Jurnal Pribadi: Sebuah Jembatan Bagi Keturunan Kita

Menulis jurnal pribadi bukanlah hal yang kuno, bukan pula hal yang membuang-buang waktu, itu adalah kebiasaan yang luar biasa. Ketika kita menulis jurnal pribadi kita, sesungguhnya kita sedang membangun jembatan antara kita dan keturunan kita kelak.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr