Puteriku terkasih, inilah pesan ibu ‘jilid kedua’ sebelum engkau memutuskan untuk menikah

Tujuan menikah adalah mendapatkan nilai lebih dari pada hidup seorang diri. Nilai lebih tentang cinta, rasa hormat, kesetiaan, kemesraan dan karunia untuk mendapatkan keturunan.

2,134 views   |   28 shares
  • Di saat-saat hari-harimu semakin dekat untuk membuat salah satu keputusan penting dalam hidupmu untuk membina rumah tangga, ibu merasa perlu segera menyelesaikan surat ibu padamu. Tujuan menikah adalah mendapatkan nilai lebih dari pada hidup seorang diri. Nilai lebih tentang cinta, rasa hormat, kesetiaan, kemesraan dan karunia untuk mendapatkan keturunan. Semuanya ini seakan menjadi mimpi indah yang dinantikan oleh semua pasangan. Agar engkau lebih siap menempuh perjalanan rumah tanggamu, ibu melanjutkan surat ibu ini padamu.

  • 1. Ingatlah ada dua insan yang berbeda

  • Ketika ibu berteman dengan ayahmu sebelum kami serius berpacaran, ibu memperhatikan bagaimana dia menjalani hidupnya setiap hari. Waktu itu rasanya dia adalah pria sempurna bagi ibu. Sewaktu ayahmu mengungkapkan cintanya pada Ibu, hmmm ... rasanya seperti disiram air embun pagi, sejuk dan berbunga-bunga. Ibu tak sabar menunggu kebersamaan kami dan menikmati impian ibu. Tak lamu setelah bulan madu kami berakhir, ibu tersentak mendapatkan bahwa kami berbeda, ada saja yang membuat ibu kesal, lalu tersadar bahwa semua perbedaan adalah nyata dan harus diterima.

  • 2. Menikah dengan keluarganya

  • Konsep ini tidak sepenuhnya ibu pahami karena keluarga ibu sebenarnya orang perantauan. Tidak banyak keluarga dekat yang sering berhubungan. Ketika kami berpacaran, ibu dibawa menemui semua keluarga dekatnya. Semua saudaranya sedemikian dekat satu sama lain dan ibu menangkap harapan mereka agar ibu berbaur dengan kekerabatan ini. Awalnya sulit ibu akukan karena ibu berpikir hanya menikahi ayahmu bukan dengan semua keluarganya. Perlahan ibu menyadari bahwa dalam budaya etnisnya, ada pepatah 'mangan ra mangan sing penting ngumpul - makan atau tidak makan asalkan berkumpul'. Jadi ibu membiasakan cara ini dan ternyata menikmatinya.

  • 3. Hargai 'culture' nya

  • Ibu dibesarkan di kota Jakarta dan bertemu ayahmu di sini. Bagi ibu, culture kami seharusnya sama karena sama-sama orang Indonesia, walaupun kedua orangtua kami dibesarkan di kepulauan yang berbeda. Anggapan ibu tidak sepenuhnya benar. Perbedaan culture itu nyata dan masing-masing harus mempelajarinya dan bersedia menyesuaikan diri.

  • 4. Berbeda pendapat bukan bertengkar

  • Ibu mengakui memiliki kesulitan membedakan antara beda pendapat dan bertengkar, jadi ibu cenderung bertengkar bila berbeda pendapat di awal-awal pernikahan kami. Ibu sering kesal karena pendapat ayahmu seringkali bukan seperti yang ibu mau, jadi ibu marah karena merasa tidak didukung dan diperhatikan. Karena tuduhan ibu, ayahmu marah juga karena merasa tidak demikian. Ketahuilah, bertengkar itu merusak hubungan sedangkan berbeda pendapat itu bisa membangun dan mempersatukan.

  • Advertisement
  • 5. Belajar memasak

  • Semasa remaja banyak waktu ibu habiskan untuk sekolah dan mengikuti kegiatan ekstra kurikuler olahraga, belajar memasak tidak ada dalam daftar prioritas ibu. Ternyata ayahmu bukan tipe pria yang suka makan di warung. Suatu saat ayahmu terkena sakit tipus karena makanan-makanan yang kami beli di luaran. Hal ini menyadarkan ibu untuk belajar memasak sendiri. Putriku, belajarlah memasak sebelum terlambat.

  • 6. Dekorasi rumah

  • Rumah haruslah menjadi tempat yang nyaman untuk beristirahat dan bercengkerama. Suasana ruangan tentu harus dijaga selalu bersih, rapi dan artistik. Ibu sedikit demi sedikit belajar mendekorasi rumah. Menyusun foto-foto yang mencerminkan nilai-nilai yang ibu impikan. Di dinding ada foto keluarga dan lukisan-lukisan bernuansa agama. Ada pula dedaunan hijau, dan pernak-pernik kerajinan dari berbagai daerah Nusantara. Sesekali ibu membuat kejutan dengan merubah dekorasi khususnya untuk menyambut ayahmu pulang dari tugas luar kota.

  • Putriku, selamat menentukan pilihan dan dengan penuh semangat menjalani perjalanan panjang atas pilihanmu.

1 menit saja untuk membagikan artikel ini..

Falsafah hidup saya adalah "Jangan pernah menyerah, karena hidup harus maju terus"

Puteriku terkasih, inilah pesan ibu ‘jilid kedua’ sebelum engkau memutuskan untuk menikah

Tujuan menikah adalah mendapatkan nilai lebih dari pada hidup seorang diri. Nilai lebih tentang cinta, rasa hormat, kesetiaan, kemesraan dan karunia untuk mendapatkan keturunan.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr