Anak belajar sopan santun sejak dini, mungkinkah?

Sopan santun seringkali menjadi pelajaran yang sengaja ditunda oleh orangtua, karena anak dianggap masih kecil maka segala tindakan seenaknya dianggap wajar. Padahal ini akan terbawa hingga ia dewasa. Namun bisakah Anak belajar sopan sejak dini?

2,897 views   |   43 shares
  • Belakangan ini, banyak terlihat anak-anak hingga remaja dengan sikap yang tidak sopan. Dari mimik, sikap tubuh hingga cara berbicara, kerap tampil seenaknya. Bahkan banyak juga kejadian yang menampilkan citra bahwa anak-anak zaman sekarang berbicara kasar, pada orang lain, bahkan pada orang yang lebih tua.

  • Kata-kata seperti "maaf", "tolong", "permisi", dan "terima kasih" pun kini langka keluar dari mulut seorang anak. Berdasarkan hasil sebuah survei terhadap 100 responden yang terdiri dari para kakek dan nenek, anak-anak zaman sekarang jarang bilang "permisi" ketika meninggalkan meja makan serta enggan menatap mata lawan bicaranya.

  • Menurut pakar etiket ternama dari Amerika, Emily Post, "Kesopanan adalah salah satu elemen penunjang kesuksesan seseorang". Kelak, anak yang santun akan lebih mudah bersosialisasi dan beradaptasi dengan aturan yang berlaku di masyarakat. Jadi, bukan semata-mata mendidik balita menjadi juara kelas, orangtua juga perlu mendidik sang buah hati supaya lebih menghargai tata krama. Bagaimana caranya?

  • 1. CINTA DAN PENGHARGAAN

  • Pelajaran sopan santun sudah bisa dimulai sejak anak lahir. Pasalnya, inti dari sopan santun sebenarnya adalah awareness (kesadaran) terhadap apa yang dirasakan oleh orang lain. "Untuk memiliki kesadaran tersebut, seseorang perlu memiliki sensitivitas yang bisa mulai dibentuk sejak kecil. Caranya adalah dengan menciptakan suasana penuh cinta dan penghargaan sedari dia kecil. Jika sudah terbiasa dicintai dan dihargai, kemungkinan anak akan lebih mudah memberikan hal yang sama kepada orang lain," kata Post.

  • 2. PERMAINAN IMAJINER

  • Salah satu cara untuk mengajarkan sopan santun kepada balita adalah dengan permainan imajiner. Mengingat tata krama di meja makan lewat pesta minum teh mainan, misalnya, bisa menjadi cara yang menyenangkan untuk menyampaikan pelajaran tentang tata krama. Contoh: ajari cucu-cucu menaruh serbet di pangkuan, menawarkan ke arah kanan, tidak mulai makan atau minum sebelum semua mendapat hidangan, dan bahkan memperkenalkan para tamu: 'Halo, kenalkan teman saya, Bu Beruang," Gunakan orang-orang maupun mainan kesayangan si kecil untuk membantu menjelaskan bahwa para ksatria, putri raja, bintang rock, nenek, Winnie the Pooh, dan Elmo, semua bersikap sopan.

  • 3. AJARI "MAGIC WORDS"

  • "Sikap sopan wajib menjadi bagian dari keseharian," kata Robin Thompson, pemilik sekolah etiket Robin Thomson Charm School di Illinois, Amerika. Karenanya, Robin menganjurkan orangtua memperkenalkan kata-kata "ajaib" yang bisa digunakan sehari-hari seperti "maaf", "tolong", dan "terima kasih" sejak anak masih balita. Ajari anak bilang "maaf" ketika menyinggung orang lain, "tolong" ketika meminta sesuatu, serta "terima kasih" ketika mendapatkan sesuatu dari orang lain. Awalnya, anak memang belum begitu paham makna di balik pemakaian kata-kata tersebut. Tetapi, pemahamannya akan meningkat seiring pertambahan usia dan pengalamannya.

  • Advertisement
  • 4. BERPERILAKU SOPAN

  • Menyapa serta memberi salam merupakan adab kesopanan standar yang perlu dikuasai anak-anak. Keterampilan dasar ini penting dikuasai untuk mendukung kemampuannya bersosialisasi kelak. Selain cara menyapa yang dilakukan secara langsung, ajari pula balita Anda cara menyapa orang lain melalui telepon. Menginjak usia tiga tahun, kemungkinan anak-anak akan mulai tertarik berperan sebagai "petugas pengangkat telpon" di rumah. Sambil mengakomodasi minat barunya tersebut, Anda bisa sekaligus melatih keterampilan bersosialisasinya, bukan?

  • 5. KENALKAN BUDAYA MENGANTRE

  • Budaya mengantre perlu diketahui anak sejak dia mulai berinteraksi dengan orang lain. Contoh praktik budaya mengantre yang pertama-tama digunakannya adalah mengantre menggunakan mainan. Ajak dia menemani Anda mengantre di kasir minimarket, mengantre tiket busway, dan lain-lain. Jika sudah terbiasa melihat Anda melakukannya, akan lebih mudah baginya untuk menerapkan sendiri budaya mengantre di kemudian hari.

  • Jadikan kesopanan sebagai bagian dari percakapan. Memikirkan perasaan orang lain adalah akar dari sopan santun, jadi doronglah anak Anda untuk melakukan hal ini. Jelaskan bahwa ketika ia membantu tetangganya mencari kunci yang hilang di taman bermain, si tetangga merasa senang, begitu juga kita. Bicara tentang peduli terhadap orang lain pada anak-anak bisa membantu mereka menyerap nilai kebaikan meski mereka tak sepenuhnya memahami.

Bagikan hasil Anda kepada teman..

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Anak belajar sopan santun sejak dini, mungkinkah?

Sopan santun seringkali menjadi pelajaran yang sengaja ditunda oleh orangtua, karena anak dianggap masih kecil maka segala tindakan seenaknya dianggap wajar. Padahal ini akan terbawa hingga ia dewasa. Namun bisakah Anak belajar sopan sejak dini?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr