Kata siapa menikah tidak boleh punya hobi?

Anda terbiasa menjalankan hobi dan kegemaran-kegemaran, sebelum menikah? Jangan menghilangkan waktu sendiri itu, jalankanlah dengan batasan yang disepakati bersama pasangan. Karena ternyata dampak jangka panjangnya sangat baik.

559 views   |   6 shares
  • Apa hobi Anda sejak sebelum menikah? Membaca buku, lalu berkumpul dengan teman-teman klub buku? Berolahraga teratur bersama gank di gym? Atau mengoleksi mainan dan berkumpul bersama kolektor-kolektor lainnya?

  • Setiap orang pada umumnya memang memiliki hobi, dan tidak ada yang salah dengan hal itu. Namun, di lain pihak, saat telah menikah, hobi kemudian menjadi tersisih, karena pasangan kerap protes jika kita terlalu asyik dengan kegiatan favorit itu. Bahkan hingga terjadi pertengkaran.

  • Jadi, apakah setelah menikah, kita tidak bisa lagi memiliki kegemaran dan waktu pribadi?

  • Tidak, tentunya. Justru memiliki waktu berkualitas dengan diri sendiri, merupakan salah satu cara untuk menjalin hubungan yang bahagia ke depannya. Ya, menurut sebuah artikel di laman pranikah.org, dikatakan bahwa seringkali dalam sebuah hubungan saat "saya" "kamu" menjadi "kita", pasangan sering melupakan bahwa di dalamnya masih ada "saya" dan "kamu".

  • Padahal, waktu "saya" dan waktu "kamu" juga penting dalam hubungan. Menurut psikolog Terri Orbuch, memiliki waktu berkualitas dengan diri sendiri dalam sebuah perkawinan justru lebih penting, ketimbang memiliki kehidupan seks yang baik. Wah, sampai sebegitunya ya? namun, kenyataannya, tidak mudah untuk sama-sama mengerti betapa pentingnya me time dalam hubungan.

  • Sebab tidak semua orang memiliki gaya yang nyaman dengan waktu bersama dirinya sendiri. Ada juga tipe orang yang merasa takut sendirian, maka ia akan merasa kesulitan mengizinkan pasangan untuk menghabiskan waktu bersama teman atau melakukan hobi tanpa dirinya. Untuk orang dengan tipikal ini, sebaiknya cepat menyadari bahwa "kita" yang terlalu dominan juga memiliki dampak buruk. Misalnya, menimbulkan ekspektasi bahwa pasangan adalah satu-satunya orang yang memberi kebahagiaan.

  • Stigma semacam itu, lama kelamaan bisa membuat seseorang kehilangan identitas dirinya. Bukan hanya berbahaya bagi dirinya, namun juga bagi pasangannya. Sebab ia akan merasa terbebani denga ekspektasi, yang bisa saja tidak konkrit atau terlalu ideal. Padahal salah satu ciri hubungan sehat, juga adalah memberi kesempatan pasangan untuk mengembangkan diri sendiri juga. Dengan melakukan itu, akan membantu meningkatkan kepercayaan diri. Pada akhirnya akan terkait juga dengan rasa percaya, sehingga tak lagi mudah cemas dan takut. Lebih jauhnya lagi, anak yang percaya diri juga tumbuh dari orangtua yang percaya diri dalam mengasuh anak.

  • Tetapi, perlu diingat juga, sepenting-pentingnya me time, tetap harus ada aturan mainnya. Yakni:

  • Advertisement
    1. Pastikan bahwa Anda dan pasangan sama-sama menyadari pentingnya me time sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kualitas we time

    2. Waktu untuk diri sendiri tidak dipergunakan sebagai pelarian dari masalah, tapi sebagai cara untuk lebih mengembangkan diri sendiri

    3. Waktu berkualitas dengan diri sendiri pun harus benar-benar dinikmati. Jangan sampai sedang memanjakan diri di salon atau mengutak atik mobil, Anda malah merasa bersalah pada pasangan.

    4. Jujur dan terbuka dengan pasangan. Kapan saja Anda merasa butuh waktu untuk me time, ke mana dan bersama siapa. Mandiri bukan berarti boleh melakukan tindakan berbohong dan menutup-nutupi

    5. Gunakan kata "Sabtu nanti aku ingin pergi sama teman-temanku nonton bola ya sayang" ketimbang "aku lagi butuh waktu sendiri sama teman-temanku" meski terdengarnya mirip namun efeknya bisa sangat berbeda.

    6. Setiap pasangan memiliki pertimbangannya sendiri mengenai kapan dan berapa lama waktunya. Karena itu mengomunikasikan kebutuhan untuk diri sendiri juga jadi penting. Sekalian belajar untuk negosiasi, karena pada saat memiliki anak, bisa saling membantu untuk memenuhi kebutuhan ini. Misalnya untuk bergantian menjaga anak saat salah satu sedang me time.

  • Jadi, menikah, memang menyatukan "saya" dan "kamu" menjadi "kita". Namun bukan berarti Anda kehilangan identitas diri sendiri. Tak juga berarti Anda tidak bisa lagi menikmati kegemaran bersama teman-teman. Tetap jadilah diri sendiri, dan jalanilah hobi Anda. Selama masih dalam koridor yang disepakati bersama pasangan, tak ada salahnya, kok.

Bantu kami menyebarkan

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Kata siapa menikah tidak boleh punya hobi?

Anda terbiasa menjalankan hobi dan kegemaran-kegemaran, sebelum menikah? Jangan menghilangkan waktu sendiri itu, jalankanlah dengan batasan yang disepakati bersama pasangan. Karena ternyata dampak jangka panjangnya sangat baik.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr