Perlukah kita mengonsumsi multivitamin?

Kita mengira bahwa dengan sekadar menelan sebuah pil ajaib, maka semua masalah kita akan menguap dan kita dapat kembali menikmati hidup kita.

1,772 views   |   4 shares
  • Kata multivitamin sudah umum bagi telinga kita. Biasanya kita hubungkan kata tersebut dengan kesehatan. Kalau badan lesu, gampang sakit, dan tidak bertenaga, tanpa gejala kesehatan yang jelas, biasanya kita dianjurkan untuk meminum multivitamin.

  • Biasanya tanpa pikir panjang, kita langsung saja menggunakan multivitamin yang banyak dijual di apotik maupun di super market. Pilihan multivitamin yang berjumlah ratusan tersebut mungkin membingungkan. Janji multivitamin tersebut mungkin berupa agar awet muda hingga tubuh tetap bugar dan langsing. Sebenarnya, apa saja yang terkandung dalam multivitamin tersebut?

  • Kalau kita cermati betul, maka akan nampak dengan nyata bahwa kebanyakan (sesuai dengan namanya) adalah vitamin yang lengkap sebanyak huruf abjad kita, mulai dari A mungkin hingga Z ditambah dengan mineral dan antioksidasi (antioxidant). Vitamin yang paling populer di dunia adalah Vitamin C.

  • Apabila Anda membeli multivitamin perhatikan daftar labelnya. Semua multivitamin tentu mengandung vitamin 'ajaib' tersebut, di samping vitamin dengan huruf abjad yang berbeda.

  • Tidak semua vitamin larut dalam kimiawi tubuh manusia dalam proses yang sama dan diproses oleh jaringan tubuh yang sama. Misalnya, Vitamin C larut dalam air, sehingga kelebihan dosis yang kita pakai akan dibuang lewat air seni kita yang diproses oleh ginjal. Sedangkan Vitamin A larut dalam lemak dan diproses oleh lever kita. Perbedaan tersebut perlu diketahui karena Vitamin A cenderung mengendap dalam tubuh seseorang.

  • Walaupun Vitamin C larut dalam air dan tidak mengendap dalam tubuh kita, tetapi menggunakan Vitamin C secara belebihan akan memberatkan kerja ginjal tubuh seseorang. Apabila input ke dalam ginjal di luar kemampuan ginjal untuk mengeluarkannya, maka akan terjadi mengendapan juga dan ada risiko kesehatan yang harus dihadapi seseorang.

  • Di samping Vitamin tersebut biasanya supplement multivitamin tersebut ditambahkan bahan mineral, seperti zinc, zat besi, kalsium, dan lain-lain termasuk beberapa bahan antioksidasi. Sama seperti Vitamin, bahan mineral tersebut dapat menolong tetapi mungkin akan mengganggu keseimbangan kimiawi dan organ tubuh seseorang yang memprosesnya. Contoh yang sekarang sedang ramai diperbincangkan adalah kalsium. Dulu dianjurkan terutama untuk kaum wanita di atas 40 tahun atau pada usia menopause, karena dikhawatirkan mereka akan menderita osteoporosis atau tulang keropos. Tetapi, sekarang justru anjuran tersebut dibantah, karena ternyata penambahan kalsium atau zat kapur ke dalam jajaran menu kita, tidak mencegah atau mengurangi risiko terkena serangan tulang keropos. Jajaran makanan kita sudah cukup mengandung zat kapur sehingga penambahan zat kapur justru akan memberatkan kerja ginjal dan kemungkinan terjadi pengendapan di sana.

  • Advertisement
  • Bahan-bahan antioksidasi (selenium, beta carotene, dan lain-lain) atau antioxidant ditambahkan ke dalam multivitamin karena dipercaya dapat mencegah beberapa penyakit dan membuat seseorang awet muda. Tubuh kita sendiri menggunakan oksidasi sebagai proses merubah makanan menjadi kalori. Limbah yang dihasilkan dari proses oksidasi tersebut adalah radikal bebas yang dapat merusak sebagian (tidak semua) jaringan DNA. Oleh sebab itu dipercaya bahwa dengan menambahkan antioksidasi ke dalam tubuh seseorang, maka kerusakan tersebut dapat dicegah atau diperkecil. Ternyata teori tersebut salah. Dengan menambahkan antioksidasi ke dalam tubuh, maka proses alami tubuh seseorang menjadi kacau dan justru dapat memicu munculnya penyakit yang berhaya seperti kanker.

  • Lalu bagaimana? Kesimpulannya adalah sebagai berikut:

    • Kalau tidak mengalami defisiensi atau kekurangan Vitamin atau bahan mineral sebagai penyebab suatu keluhan, atau tinggal di daerah tertentu, lebih baik tidak menggunakan bahan kimia apa pun. Bahan makanan kita yang lengkap sebenarnya sudah cukup untuk menunjang kehidupan kita sehari-hari.

    • Bila ingin menggunakan Vitamin dan bahan mineral, hendaknya dipelajari lebih dahulu tentang sifat-sifat bahan kimia tersebut dalam tubuh seseorang. Ketahui juga dosis atau ukuran yang sepantasnya digunakan.

    • Perhatikan reaksi tubuh Anda setelah menggunakan bahan-bahan kimia tersebut. Bila terjadi kelainan, seperti mual, sembelit, atau sebaliknya, seperti diare, atau tanda -tanda fisik lain maka hentikan penggunaannya atau minta nasihat pada petugas medis.

    • Selama menggunakan multivitamin minumlah air yang banyak untuk membantu proses pelarutannya dan organ tubuh yang bekerja untuk melarutkannya.

  • Sumber: http://www.nbcnews.com/health/diet-fitness/calcium-supplements-or-dairy-doesnt-strengthen-bones-study-finds-n435726

  • dan

  • Calcium supplements or milk may not protect your bones
Bagikan kepada teman-teman Anda!

Sebagai penulis, Effian sangat terinspirasi dengan karya-karya John Grisham, Michael Creighton, David Baldacci, James Patterson dan Dan Brown. Kegiatan favoritnya selain menulis adalah memasak dan melukis.

Perlukah kita mengonsumsi multivitamin?

Kita mengira bahwa dengan sekadar menelan sebuah pil ajaib, maka semua masalah kita akan menguap dan kita dapat kembali menikmati hidup kita.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr