6 kalimat yang dapat merusak perkawinan

Ingin meningkatkan mutu perkawinan Anda secara instan? Ada enam kalimat yang harus dihindari dari percakapan Anda sehari-hari.

8,290 views   |   24 shares
  • Ada banyak hal yang dapat merusak perkawinan: masalah keuangan, perselingkuhan, kecanduan yang tak terkendali. Semua ini perlu usaha dan waktu lama untuk diperbaiki. Namun ada satu hal yang dapat mengubah mutu perkawinan secara mendadak: apa yang Anda ucapkan kepada pasangan Anda sehari-hari. Jika Anda ingin menghindari atau memadamkan perselisihan, usahakan untuk menghindari hal-hal ini dalam percakapan Anda.

  • 1. "Kamu selalu/tidak pernah..."

  • Jangan pernah memulai percakapan dengan perkataan ini tidak peduli bahwa Anda merasa hal ini tepat. Sungguh tuduhan yang berlebihan bagi pasangan Anda bila Anda berkata "kamu tidak pernah mendengarkan" atau "kamu selalu terlambat pulang kerja" karena; a) hal itu tidak benar. b) Seringnya komentar ini dilontarkan ketika sedang sengit. Cara yang bijak untuk mengutarakan pendapat Anda ialah dengan menarik napas dalam-dalam katakanlah, "Kadang-kadang aku merasa kamu kurang memahami aku. Bisakah kita bicara sebentar? Ini penting buatku," atau, "Aku tahu kerja lembur berat buatmu. Keluarga kita juga merasakan itu. Mungkin kita bisa membahas bagaimana kita dapat melewatkan waktu bersama."

  • 2. "Aku dengar ada tempat senam yang baru dibuka. Kamu mestinya masuk jadi anggota."

  • Ini sama juga menampar wajah pasangan Anda dan menyatakan bahwa Anda menganggap potongan badan pasangan Anda payah. Jangan pernah berkomentar negatif tentang badan pasangan Anda. Jangan sekali-kali berbuat begitu.

  • 3. "Jika kamu cinta aku, kamu akan..."

  • Ini sama juga perangkap. Pada dasarnya Anda berkata bahwa pasangan Anda cuma mementingkan diri sendiri sehingga dia tidak melakukan hal itu buat Anda. Kenyataannya yang terjadi adalah sebaliknya. Orang yang berkata seperti ini mementingkan dirinya sendiri karena dia tidak mempertimbangkan perasaan pasangannya. Bagaimana kalau pasangan Anda tidak nyaman melakukan itu? Bagaimana kalau hal itu akan merusak anggaran belanja? Tidak saja perkataan ini menunjukkan sikap egois tetapi juga bersifat manipulasi dan berat sebelah. Tidak ada orang yang mau dipaksa melakukan sesuatu. Ketika membuat keputusan besar yang akan mempengaruhi kedua belah pihak, sebaiknya disetujui berdua, dan bukan karena tuntutan demi "cinta."

  • 4. "Aku rasanya lebih suka pergi kerja/lebih suka kamu pergi kerja."

  • Memang betul. Kita semua pernah merasa begitu. Liburan atau saat-saat bersama Anda kurang menyenangkan sehingga rasanya lebih baik menciptakan jarak. Sedikit jarak ada manfaatnya, bahkan sehat, untuk mendinginkan emosi dan menjernihkan pikiran. Tetapi mengatakan kepada pasangan Anda bahwa Anda atau dia perlu menjauh dan tidak ingin berada di dekatnya sungguh-sungguh menyinggung perasaan serta merendahkan nilainya sebagai pasangan maupun sebagai orangtua anak-anak Anda. Tidak peduli apa pun yang Anda pertengkarkan, ubahlah pernyataan Anda dengan perkataan seperti ini, "Maaf beberapa hari ini kita kurang sependapat. Mungkin besok kita dapat memperbaikinya."

  • Advertisement
  • 5. "Kamu sungguh (bego, tolol, gila, dll)"

  • Dia itu teman hidup Anda. Orang kepercayaan Anda. Kekasih Anda. Walau Anda merasa dia pantas disebut begitu—jangan katakan. Dinginkan kepala Anda. Jangan memulai pertengkaran. Cobalah menghindarinya dengan berkata, "Aku yakin kamu tidak berniat begitu. Sebaiknya kita bahas bila kamu sudah tenang." Atau, "Itu tidak benar. Bila kamu sudah siap untuk berbicara secara baik-baik, kita dapat memecahkan masalah ini bersama."

  • 6. "Yah, suami si ini (atau istri si anu) juga begitu..."

  • Membanding-bandingkan pasangan Anda dengan orang lain dapat membuat dia tersinggung dan merasa kurang percaya diri. Ada kata-kata bijak, "Pilihlah cintamu, dan cintailah pilihanmu." Cara Anda berbicara dengan pasangan Anda membuat perbedaan besar dalam bagaimana dia merasa aman dan dihargai bersama Anda. Ada cara yang lebih baik untuk menyampaikan perasaan Anda, "Aku merasa kamu menyayangi aku ketika kamu membantu aku mengerjakan urusan rumah tangga atau membantu anak-anak mengerjakan pekerjaan rumah."

  • Pernikahan itu rapuh. Marilah kita lebih bijaksana dalam berbicara dengan teman hidup kita. Nada suara yang tinggi, perkataan sembarangan atau amarah yang meledak dapat merusak perkawinan tanpa kita sadari. Ada sebuah kutipan dari Penasihat Keluarga F. Burton Howard dalam hal perkawinan, "Kalau Anda ingin sesuatu langgeng, Anda harus memperlakukannya dengan hati-hati."

  • Artikel ini diterjemahkan oleh Irma Shalimar dari tulisan asli "6 marriage killer phrases to avoid" karya Debbie Sibert.

1 menit saja untuk membagikan artikel ini..

Debbie Sibert, lulusan jurnalistik dari Utah Valley University. Ibu dari tiga anak yang hingga sekarang masih aktif menulis di blog seputar pengasuhan dan pengalamannya sebagai seorang ibu. Anda bisa menghubunginya di debbiesibert@gmail.com

6 kalimat yang dapat merusak perkawinan

Ingin meningkatkan mutu perkawinan Anda secara instan? Ada enam kalimat yang harus dihindari dari percakapan Anda sehari-hari.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr