Depresi dan kaitannya dengan kekurangan Omega-3

Tahukah Anda, sebetulnya Anda bisa saja mencegah terjadinya depresi atau tindak kekerasan dari makanan yang masuk kedalam tubuh? Ya, benar. Ternyata asupan Omega-3 dari makanan alami sangat berpengaruh pada kondisi psikologis

2,369 views   |   11 shares
  • Tahun 2004 silam, ada sebuah film Dokumenter berjudul "Super Size Me" besutan sutradara Morgan Spurlock. Film ini bercerita tentang "kegilaan" Spurlock mengonsumsi makanan cepat saji yang mereknya amat terkenal di seluruh dunia, setiap hari, selama satu bulan penuh. Tak hanya itu, dalam kisahnya ini juga ia mengambil sebuah liputan di satu sekolah di Amerika.

  • Anak- anak di sekolah ini adalah mereka yang tadinya masuk ke dalam kategori nakal, tidak bisa diatur dan bermasalah. Tidak ada terapi atau tindakan terkait psikologi yang dilakukan. Sekolah hanya mengganti makanan yang biasanya disediakan di kantinnya. Ya, mengganti makanan cepat saji yang rendah gizi tersebut, dengan makanan yang dimasak sendiri dari bahan-bahan segar, tanpa pengawet dan penyedap rasa. Makanan sehat yang berasal dari bahan alami.

  • Hasilnya, sekolah tersebut berhasil memerbaiki perilaku murid-muridnya. Seluruh masalah perilaku yang tadinya memusingkan para guru dan kepala sekolah, lenyap tak bersisa. Anak-anak itu pun bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Fakta yang mengejutkan, bukan?

  • Mungkin sama juga mengejutkannya dengan fakta penelitian dari Alan C. Logan dalam salah satu artikel ilmiahnya yang bejudul "Neuro behavioral Aspects of Omega-3 Fatty ACIDS: Possible Mechanisms and Therapeutic Value in Major Depression". Dalam tulisannya tersebut, ia memaparkan hubungan erat antara rendahnya kadar Omega-3 (Asam Lemak Esensial) pada diri seseorang dengan kejadian depresi yang menyertainya.

  • Wah? Jadi, depresi bisa disebabkan oleh kurangnya konsumsi omega 3?

  • Dalam tulisan ini, Logan mengungkapkan bahwa omega 3 disebut esensial karena tubuh manusia tidak dapat membuat sendiri, jadi harus diasup- melalui konsumsi nutrisi sehari-hari. Ada dua sumber omega 3 di alam, yakni dari tumbuhan (flex, canola, kacang walnut, dan hemp) juga dari ikan (khususnya ikan laut seperti sardin, tersi, salmon dan mackarel). Namun, ikan tetap merupakan sumber terbaik omega 3, selama tidak tercemar logam berat di perairan seperti merkuri, buangan limbah serta logam berat lainnya.

  • Hal ini juga diamini oleh Dr Tan Shot Yen dalam bukunya Sehat Sejati yang Kodrati. Menurutnya, pola hidup masyarakat kini menyebabkan anjoknya produksi omega 3 dalam tubuh manusia modern. "Hal yang sama sedang terjadi pada hampir seluruh penduduk dunia, termasuk Indonesia, yang memiliki pergeseran gaya hidup dan pola makan." Katanya. Kebanyakan manusia kini mengonsumsi karbohidrat dengan indeks glikemik tinggi, yang terdapat pada produk makanan turunan gula, terigu, beras dan pati, hingga meningkatkan insulin.

  • Advertisement
  • Peningkatan insulin ini menekan omega 3 hingga mencetuskan sederet reaksi kimia dalam tubuh manusia yang menyebabkan peradangan kronik. Dalam jangka panjang, katanya, peradangan ini akan menyerang fungsi normal sistem kekebalan tubuh manusia dan mengacaukan koneksi persyarafan di otak. "Jelas ini berhubungan dengan risiko terjadinya depresi atau skoofernia," katanya.

  • Selain konsumsi karbohidrat dari pati yang tinggi, penyalahgunaan asupan omega 6 yang tidak disadari dalam bentuk minyak goreng juga dapat mengakibatkan anjloknya omega 3. Penelitian lain terkait hal ini adalah riset di Inggris yang dituliskan dalam jurnal ilmu kedokteran jiwa, yakni riset yang melibatkan 231 napi dewasa muda dengan usia antara 18-21 tahun. Mengkaji pendapat bahwa suplemen vitamin, mineral dan asam lemak esensial dapat menurunkan kejadian kekerasan.

  • "Hal tersebut merupakan pembuktian yang sangat luar biasa, bahwa gizi buruk memainkan peran kunci dalam mencetuskan prilaku agresif dan kekerasan," kata Dr Tan. Jadi, tambahnya, rendahnya kadar omega 3 jelaslah merupakan karakteristik gejala depresi dan sifat agresif. Salah satu komponen omega 3 yaitu DHA, juga berfungsi sebagai tiang penyangga struktur. Artinya, jika asupan omega 3 menjadi rendah, maka sel saraf berubah menjadi kaku. Nah, otomatis menyebabkan transmisi saraf dari sel satu ke yang lainnya ikut terhambat. "Bisa dibayangkan benturan saraf yang amburadul pasti terjadi, dari depresi hingga agresi" ujar Dr Tan.

  • Oke. Menjadi menarik karena ternyata, isi film dokumenter besutan Spurlock tadi ternyata dapat dijabarkan dengan detail. Bahwa memang malnutrisi, dan terlalu banyak mengonsumsi makanan tidak sehat, bukan hanya mampu menjadikan manusia obesitas, tetapi juga menyebabkan depresi dan agresi.

  • Masih ada waktu, sebelum terlambat. Mari ubah gaya hidup kita menjadi lebih berimbang, dan kita cegah terjadinya tindakan kekerasan atau depresi, yang ke depannya hanya akan merugikan diri sendiri juga keluarga tercinta.

Anda suka artikel ini? Bagikan..

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Depresi dan kaitannya dengan kekurangan Omega-3

Tahukah Anda, sebetulnya Anda bisa saja mencegah terjadinya depresi atau tindak kekerasan dari makanan yang masuk kedalam tubuh? Ya, benar. Ternyata asupan Omega-3 dari makanan alami sangat berpengaruh pada kondisi psikologis
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr