Belum juga punya anak? Mungkin Anda kekurangan vitamin D

Anda dan pasangan sudah lama menikah, namun belum juga dikaruniai buah hati? Jangan buru-buru menghabiskan banyak uang untuk proses bayi tabung. Coba dulu kembali ke gaya hidup alami dan sehat, jangan-jangan Anda hanya kurang asupan vitamin.

4,681 views   |   11 shares
  • Belum lama ini saya mendengar seorang teman bercerita mengenai kesulitannya memeroleh anak, padahal telah enam tahun menikah. Ia mengeluh sampai menitikkan air matanya. Sebab berbagai upaya telah dilakukan, hingga terakhir kali ia mendengar pernyataan bahwa dirinya harus menurunkan banyak berat badan, agar bisa hamil. Dokternya bilang, ia terlalu gemuk.

  • Kisah tersebut membuat saya kembali membuka buku panutan kesehatan keluarga kami; Sehat Sejati yang Kodrati, tulisan Dr Tan Shot Yen. Ada bab dalam buku ini yang menjabarkan hingga detail mengenai masalah infertilitas. Lalu isinya membuat saya sedikit terhenyak. Ya, ternyata, obesitas memang berkaitan erat dengan infertilitas.

  • "Ada hubungan langsung antara obesitas dan ketidaksuburan. Karena telur-telur dari wanita gemuk tak mampu berkembang menjadi embrio sehat. Telur dirusak oleh tingginya lemak dan kolesterol. Inilah yang membuat pola makan menjadi faktor utama dalam mengarasi infertilitas sebagaimana terbukti dari riset yang diadakan Cadence Minge Adeleide University Research Centre for Reproductive Health, Australia." Kata Dr Tan dalam bukunya ini.

  • Namun, ia juga menambahkan bahwa ketidaksuburan tak semata-mata disebabkan salahnya pola makan perempuan, sehingga sel telur tidak dapat tumbuh. Hal ini juga dapat disebabkan oleh para pria dan kualitas spermanya. Sesuatu yang baru, saya temukan di buku ini. Menurut Dr Tan, kasus infertilitas yang saat ini sedang gencar diteliti adalah kaitannnya dengan rendahnya kadar vitamin D.

  • Seorang pakar kesuburan, Dr Anne Clark, menemui sepertiga dari 800 pria dengan masalah kesuburan mempunyai kadar vitamin D yang rendah, sehingga fragmentasi DNA pada sperma terganggu. Wah, bagaimana seseorang bisa mengalami hal ini? Dr Tan kemudian menjelaskan bahwa kekurangan vitamin D ini berkaitan erat dengan gaya hidup. Seperti banyak terlihat disekitar kita, pekerjaan dan keseharian manusia tak lagi berada di bawah matahari sebagai sumber terbaik vitamin D.

  • "Ketakutan akan kanker kulit dengan membatasi paparan cahaya matahari malah membawa masalah yang lebih besar karena kekurangan vitamin D, justru menyebabkan kanker payudara, prostat, paru-paru, kulit, usus besar dan kelenjar getah bening." ujarnya. Ia lalu menambahkan bahwa peran vitamin D saat ini sudah dianggap banyak ilmuwan sebagai hormon, ternyata meningkatkan serapan kalsium, memerbaiki diferensiasi sel, mengurangi penjalaran dan perbanyakan sel kanker, menekan terbentuknya jaringan pembuluh darah bagi sel/jaringan kanker.

  • Advertisement
  • Sebagai tambahan, ungkapnya, vitamin C juga meningkatkan jumlah sperma, gerak dan bentuk yang lebih sempurna. Dengan catatan; jika selaras juga dengan gaya hidup dan pola makan yang baik, tentunya. Sebab, masalah infertilitas pada pria sering terjadi karena gerak sperma yang sangat lamban, tidak gesit. Promosi diet yang gencar belakangan ini juga menjadi salah satu penyebab.

  • Sebab biasanya diet yang diiklankan adalah diet rendah lemak saja. Bukan mengubah gaya hidup. Hal ini mengakibatkan vitamin-vitamin yang larut dalam lemak, termasuk vitamin D dan E, mengalami hambatan absorbsi. Risiko kekurangan vitamin E berakibat turunnya kualitas sperma sudah lama diketahui. Namun, suplementasi vitamin E sangat menyesatkan juga bila asupan lemak yang sehat tidak diperkenalkan dalam makanan sehari-hari.

  • Sebetulnya masih ada begitu banyak hal yang bisa menyebabkan masalah dalam gerak dan jumlah sperma; misalnya kebiasaan mandi dan berendam dalam air panas atau sauna hingga pemakaian celana yang terlalu ketat, sehingga menyebabkan panas tubuh yang tinggi. Hal ini ternyata membuat sperma tak dapat diproduksi dengan baik. Uap bahan kimia, asap rokok, dan kebiasaan minum minuman beralkohol juga mengambil peran yang cukup besar. Hingga rutinitas mengonsumsi makanan dari wadah yang mengalami kebocoran bahan kimia berbahaya saat dipanaskan dengan microwave.

  • Namun inti dari semua hal ini adalah, kita harus lebih banyak lagi belajar, membaca dan waspada pada material di sekitar kita yang tidak alami. Menikah dan memiliki keturunan, menurut Dr Tan, merupakan proses yang sangat alamiah. Maka, mulailah beralih pada gaya hidup yang alami. Sebab kesuburan adalah perwujudan dari kesiapan untuk menerima kehidupan baru dalam diri seseorang.

  • Untuk itu dibutuhkan suasana imbang, juga makanan sehat. Sehat bukan melulu mengenai makanan, tapi masih ada "sabotase" lain seperti rokok, stres emosional, terlalu lelah bekerja, kurang olahraga, kurang paparan sinar matahari, misalnya. Selain mengubah gaya hidup, paradigma pun harus banyak berubah. Sebab, setiap pasangan harus percaya diri. Jangan terbawa dengan gaya "medikalisasi kehidupan" yang seakan-akan semua tahap dalam hidup adalah proses yang butuh campur tangan pakar kesehatan. Kembalilah pada alam, dan kenalilah tubuh Anda.

  • Ternyata begitu saja. Nampaknya cukup sederhana ya?

Bagikan pada teman dan keluarga..

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Belum juga punya anak? Mungkin Anda kekurangan vitamin D

Anda dan pasangan sudah lama menikah, namun belum juga dikaruniai buah hati? Jangan buru-buru menghabiskan banyak uang untuk proses bayi tabung. Coba dulu kembali ke gaya hidup alami dan sehat, jangan-jangan Anda hanya kurang asupan vitamin.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr