Menjadi istri profesional

Anda adalah seorang karyawan, bos, atau pebisnis handal yang profesional dalam menjalani pekerjaan, disukai setiap orang karena sikap yang baik. Lalu siapakah Anda saat berada di rumah? Apakah Anda juga istri yang profesional?

1,259 views   |   8 shares
  • Anda adalah karyawan kebanggaan di kantor, karena selalu profesional dalam mengerjakan tugas-tugas? Anda adalah bos yang paling digemari anak buah karena selalu bisa bertindak tegas namun amat memperhatikan kebutuhan karyawan? Anda adalah seorang pedagang dengan begitu banyak pelanggan, karena tidak pernah terlambat mengirim barang atau selalu mengupayakan yang terbaik bagi para pembeli?

  • Namun, apakah kebanggan, kegemaran, dan kepuasan tersebut dirasakan juga oleh suami Anda di rumah?

  • Apakah ia juga merupakan orang yang selalu mendapatkan perlakukan profesional, seperti ketika Anda harus berhadapan dengan klien, pimpinan, atau karyawan di kantor? Apakah Anda juga memberikan "pelayanan" yang sama, di rumah? Atau jangan-jangan seluruh keprofesionalan itu hanya terjadi di ruang lingkup pekerjaan, sementara di rumah, Anda adalah sosok yang penggerutu, pemalas, tak peduli dan tak murah senyum?

  • Fenomena serupa cukup banyak terjadi di masyarakat. Istri yang sanggup bersikap profesional dalam profesinya, justru gagal saat berhadapan dengan suaminya sendiri. Ia yang selalu berdandan rapi untuk pergi ke kantor, namun enggan memperlihatkan kecantikannya itu di rumah sendiri, di hadapan suaminya. Ia mengenakan baju seadanya, dan tak memerlihatkan sikap terbaik, seperti yang dilakukan di tempatnya bekerja.

  • Hal ini pernah diceritakan Asma Nadia, penulis, dalam sebuah artikel berjudul Orangtua Profesional. Di situ ia menuliskan bahwa seorang entertainer sejati (penyanyi, pemain musik, komedian, dan lain-lain) walaupun sedang mengalami tekanan perasaan, akan tetap memberikan pertunjukan terbaik bagi penonton atau penggemarnya. "Bersikap profesional bukan sekadar menjalankan tugas. Saat ini, istilah profesional sering dikaitkan dengan uang," katanya.

  • Benar juga ya? sebab sebetulnya yang membedakan profesional atau tidaknya, tidak terletak pada imbalan materi. Namun, lebih kepada perwujudannya dengan tindakan dan dengan hati. Maka, sudahkah kita menjadi istri yang profesional?

  • Ayo coba kita sama-sama berhitung, berapa kali kita marah dalam satu hari atau sepekan? Ya, kemarahan adalah hal yang amat wajar dilakukan oleh seorang manusia. Namun, menjadi tidak wajar saat dilakukan terus menerus tanpa alasan yang jelas. Bahkan dalam proporsi yang tidak tepat. Belum lagi tindakan drama, dan bersikap seenaknya pada suami. Tidak lagi mengindahkan etika dan kesopanan serta tidak lagi memperhatikan kebutuhan suami.

  • Misalnya, dengan alasan terbebani banyaknya pekerjaan kantor, maka sampai di rumah kita tak lagi menyediakan minuman dan makanan untuk suami. Kita bahkan tidak mengupayakan untuk bisa pulang lebih cepat agar bisa sampai rumah sebelum suami. Atau, setidaknya memberikan kejutan dengan tiba-tiba muncul di kantor suami membawakan makan siang. Tidak ada lagi keromantisan, bahkan berusaha menyenangkan hatinya.

  • Advertisement
  • Kelelahan bekerja dan tidak punya waktu cukup, selalu menjadi alasan agar diberikan pemakluman atas tidak ada makanan di rumah, atau keadaan rumah yang selalu berantakan dan tidak enak dilihat. Jika ditegur suami, yang terjadi bukanlah melakukan introspeksi, melainkan membalas tegurannya dengan kemarahan lalu tangisan dan bantingan pintu. Pernahkah kita melakukan hal tersebut kepada klien atau pimpinan di kantor?

  • Ya pastinya tidak pernah, kan? Lalu mengapa hal itu terjadi di rumah? Kepada suami sendiri? Di tempat bekerja, selelah apapun Anda, pasti akan ada senyum yang terpampang lebar di wajah. Meski hidung tersumbat dan kepala pusing karena flu, Anda pasti akan selalu berusaha menjadi peserta rapat yang responsif dan mengerjakan tugas yang diberikan dengan baik.

  • Bagaimana kalau hal tersebut mulai juga dilakukan di rumah, tak ada salahnya kan? Jika Anda ingin mengeluh pada suami, keluhkanlah dengan cara yang baik. Siapkan minuman, camilan, lalu bermanjalah di pelukan suami saat curhat. Mintalah ia memeluk Anda dengan lembut, karena pelukan sebetulnya amat efektif untuk meredakan kelelahan. Sebelumnya, tentu saja, bagi prioritas antara karier dan rumah tangga dengan manajemen waktu yang baik. Jalankanlah dengan disiplin, agar tak ada yang perlu dikorbankan.

  • Tetaplah menjadi pendengar yang antusias bagi suami, siapkan juga senyum paling lebar yang Anda punya. Karena senyuman itu pasti akan berbalas dengan senyuman lagi, tak kalah lebar. Tentu lebih menyenangkan, ketimbang saling memaki, bukan? Anda dan suami adalah rekan seumur hidup, bersamanyalah Anda akan menghabiskan seluruh fase dalam kehidupan ke depan. Tak ada gunanya bersikap buruk setiap saat. Memang pasti memerlukan perjalanan panjang dan tidak mudah, karena kita manusia, dan kadang khilaf. Namun, jadikanlah suami Anda sebagai penyejuk mata, dan jadikanlah diri Anda pun demikian.

Bagikan hasil Anda kepada teman..

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Menjadi istri profesional

Anda adalah seorang karyawan, bos, atau pebisnis handal yang profesional dalam menjalani pekerjaan, disukai setiap orang karena sikap yang baik. Lalu siapakah Anda saat berada di rumah? Apakah Anda juga istri yang profesional?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr