Menjalani pernikahan dengan logika, bisakah?

Perasaan, adalah elemen penting dalam menjalani pernikahan. Namun, perasaan tanpa logika dapat mengakibatkan banyak hal buruk yang mengiringi hubungan. Apa sajakah itu, lalu bagaimana mengatasinya?

1,013 views   |   2 shares
  • Perasaan, adalah elemen yang amat penting dalam sebuah hubungan. Apalagi hubungan pernikahan sebab rasa cinta akan menguatkan dan mempererat pernikahan yang dijalani. Namun, ternyata selalu ada dua sisi dari setiap hal, termasuk rasa.

  • Sebab, jatuh cinta, tak hanya punya sisi baik namun juga dapat membutakan. Menurut psikolog keluarga, Roslina Verauli, saat kita sedang jatuh cinta, ada banyak kondisi yang membutakan kita sehingga semua serasa indah. "Yang bisa melihat kekurangan pasangan adalah orang di sekitar kita, misalnya orangtua atau teman-teman kita," katanya.

  • Mengedepankan rasa juga biasanya membuat pola pikir seseorang cenderung lebih subjektif. Hal ini bisa terasa sejak awal, bahkan sebelum menikah. Misalnya saat orangtua menentang pernikahan dengan pasangan. Tak ada salahnya jika kita mempertimbangkan apa yang menjadi sumber keberatan mereka tersebut. Di saat-saat seperti inilah pentingnya kita menggunakan logika.

  • Begitu juga saat pernikahan akhirnya terjadi dan berjalan melewati waktu demi waktu. Mengedepankan perasaan biasanya malah membuat kita terjebak dalam kecurigaan-kecurigaan yang tidak penting, namun menimbulkan pertengkaran yang tak ada habisnya. Misalnya saat pasangan harus pulang terlambat dari kantor, dan tidak mengabari.

  • Saat itulah imajinasi berkembang ke arah yang tidak-tidak. Membayangkan ia sedang berselingkuh, atau bersenang-senang tanpa sepengetahuan kita. Padahal yang terjadi adalah ia sedang terjebak macet, tanpa pulsa atau baterai di ponselnya hingga tak bisa mengabari. Lalu karena rasa lagi, ya, rasa gengsi, kita tidak bisa menerima penjelasannya. Dan terus saja tenggelam dalam curiga.

  • Mendahulukan perasaan juga seringkali membuat kita menjadi orang yang gemar menuduh. Pada teman lawan jenis pasangan kita, misalnya. Padahal mereka benar-benar hanya berteman. Namun rasa tak percaya ini membuat kita jadi tak suka. Yang terjadi kemudian adalah kita hidup dalam hubungan tanpa landasan percaya. Apapun yang dilakukan pasangan menjadi salah.

  • Lalu hubungan apa yang bisa dijalani seperti itu?

  • Pasangan tampil lebih rapi dari biasanya, mencurigakan. Pasangan menjadi lebih sering tertawa saat membaca pesan singkat di ponselnya, mencurigakan. Pasangan pulang terlambat setiap hari, mencurigakan. Pasangan mendadak menyukai satu jenis genre film atau satu jenis makanan, mencurigakan. Pasangan tiba-tiba sering pergi berolahraga setiap akhir pekan, mencurigakan.

  • Pernahkah Anda berpikir, jangan-jangan ia memang lama kelamaan jengah karena tidak dipercaya? Bukan tak mungkin, lambat laun ia melakukan hal-hal yang selama ini Anda curigai, karena Anda sendiri? Bahkan tak bisa juga dipungkiri jika pasangan Anda kemudian meninggalkan Anda begitu saja karena terlalu lelah dengan sikap anda yang cenderung posesif.

  • Advertisement
  • Perasaan yang terlalu dimanjakan tak hanya membuat kita menjadi curigaan, namun bisa juga sebaliknya. Contohnya, Anda sudah pernah memergoki pasangan Anda berselingkuh satu kali. Lalu karena Anda terlalu cinta maka tak pernah ada teguran atau ajakan untuk membicarakan mengenai hal tersebut. Anda membiarkannya dan akhirnya Anda menemukan ia berkali-kali selingkuh.

  • Wah, di sini juga Anda telah mengedepankan emosi dibanding logika. Betul memang pernikahan harus dipertahankan sekuat tenaga, namun, pada akhirnya hanya kita yang mengalaminya yang tahu persis; harus lanjut atau berhenti saja sampai di sini. Pertimbangkan dengan logika, masuk akalkah mempertahankan pernikahan jika dia berkali-kali selingkuh? Dan pertimbangkan juga, jika peristiwa itu hanya terjadi sekali dan karena khilaf sesaat saja, apakah harus berpisah?

  • Ingat, logika, adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri Anda, pasangan dan hubungan pernikahan. Pasangan Anda pulang terlambat dan tak mengabari? Tenang. Pikirkan ia dalam keadaan sehat, namun amat kelelahan. Saat ia sampai rumah, siapkan minuman hangat dan camilan. Peluk dan tersenyumlah padanya. Hingga Anda melihat senyumannya, baru tanyakan dari mana saja dirinya.

  • Banyak hal yang sebetulnya sangat sederhana, dan bisa usai dalam sekejap hanya dengan berbicara. Mengobrol santai, sebetulnya adalah cara terbaik untuk melegakan rasa ingin tahu Anda, dan juga pada pasangan Anda. Namun yang jelas, berpikiran tenang dan menggunakan logika pasti akan membuat Anda dan pasangan merasa sama-sama nyaman.

Baca, hidupkan, bagikan!

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Menjalani pernikahan dengan logika, bisakah?

Perasaan, adalah elemen penting dalam menjalani pernikahan. Namun, perasaan tanpa logika dapat mengakibatkan banyak hal buruk yang mengiringi hubungan. Apa sajakah itu, lalu bagaimana mengatasinya?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr