Menyamakan perbedaan dalam pernikahan, pentingkah?

Setiap pasangan pasti memiliki perbedaan, dan kadang, meski kecil dan terasa tak penting, perbedaan itu bisa mengakibatkan kehancuran dalam pernikahan. Tapi benarkah menyamakan perbedaan merupakan satu-satunya solusi?

1,065 views   |   3 shares
  • Tidak ada satupun manusia yang bisa benar-benar sama persis. Tak ada juga jaminan bahwa pasangan yang memiliki banyak kesamaan bisa menjalani hubungan langgeng hingga akhir hayat. Sebab pernikahan, sebetulnya adalah mengenai komitmen dan menjalin sebuah mekanisme kerja sama seumur hidup.

  • Maka, siapa pun, dari latar belakang ekonomi, pendidikan, hobi, keluarga apapun, bisa saja dipertemukan dalam pernikahan. Memang perbedaan yang terjadi biasanya kecil; misalnya perbedaan sifat, cara pandang akan suatu hal, kegemaran, cara menjalani hidup, cara mengatur uang, menata rumah, mendidik anak, hingga tugas-tugas rumah tangga. Namun, hal-hal yang dianggap kecil inilah yang biasanya menjadi konflik dan bisa membesar lalu merembet ke mana-mana.

  • Karena itu, tidak sedikit pasangan yang kemudian memutuskan untuk berpisah dengan alasan perbedaan yang tak bisa dijalani. Padahal semestinya tidak harus demikian. Karena hal yang terpenting untuk dilakukan saat sudah menjalani pernikahan adalah mampu melakukan adaptasi secara terus menerus, karena hal-hal baru akan terus ditemukan di sepanjang jalannya.

  • Menurut Landis. P.H, dalam bukunya Your Marriage and Family Living, adaptasi pernikahan merupakan suatu proses yang berkepanjangan dalam rangka mendapatkan titik temu dari suatu isu perbedaan dan mengusahakan cara hidup bersama. Ya, titik temu. Inilah kata kunci satu-satunya dalam menghadapi perbedaan yang terjadi dalam pernikahan.

  • Kesepakatan, adalah solusi berikutnya yang harus dicapai saat berhasil melewati proses adaptasi dan mendapatkan titik temu dari perbedaan tersebut. Pasangan dianggap memiliki kualitas penyesuaian pernikahan yang baik bila minimnya derajat perbedaan yang menimbulkan ketegangan antar pribadi, memiliki rasa kedekatan yang kuat dan berbagi kebersamaan, dapat mengungkapkan rasa sayang yang saling disetujui pasangan, serta merasa puas dan berkomitmen terhadap hubungan pernikahan.

  • Di sinilah peran komunikasi dan kemampuan berdiskusi antar pasangan menjadi amat penting. Hal-hal yang harus dibicarakan adalah mendiskusikan peran keluarga dan peran pernikahan yang diharapkan dari pasangan dan juga diri sendiri. Apa yang dia mau, dan apa yang kita mau. Akan seperti apa hubungan pernikahan ini ke depannya, dan apa saja yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut.

  • Setelah itu, mulailah menjalaninya dengan saling menyesuaikan kebiasaan pribadi, juga melakukan penyesuaian peran serta tanggung jawab masing-masing. Usai penyesuaian dilakukan, pengembangan pun harus dilakukan. Sebab, berpartner seumur hidup dengan seseorang mewajibkan kita terus belajar untuk menjadi lebih baik lagi setiap harinya. Karena itu, marilah sama-sama mengembangkan keterampilan komunikasi, berbagi ide dan perasaan lekat satu sama lain, membangun prioritas karier dan keluarga, mengutarakan masalah yang dihadapi, berbagi suka dan duka serta belajar bagaimana menegosiasikan perbedaan yang ada untuk memperkuat pernikahan.

  • Advertisement
  • Menurut Worthington (2005), salah seorang pakar psikologi pernikahan, pernikahan yang kuat dan berkualitas dapat terjadi ketika pasangan selalu menumbuhkan dan memupuk cinta, memiliki keyakinan terhadap pasangannya dan pernikahannya, serta selalu aktif berusaha keras mempertahankan pernikahannya.

  • Cara-cara yang dapat dilakukan antara lain:

  • 1 . Membuat visi dan misi pernikahan yang jelas, bahkan lebih baik bila dapat dijabarkan secara jelas dan berjangka waktu. Deskripsikan pula hal-hal yang dapat mendukung dan menghambat perwujudan visi-misi tersebut dan cara-cara yang mungkin untuk mengatasinya. Buat secara sendiri-sendiri, lalu didiskusikan bersama pasangan.

  • 2 . Kenali bahasa cinta Anda sendiri dan pasangan Anda. Bahasa cinta (ungkapan kasih sayang) secara umum terbagi lima, yaitu: kata-kata cinta, sentuhan dan kedekatan fisik, perilaku melayani, ketersediaan waktu yang berkualitas, dan hadiah. Jangan malu atau ragu untuk menanyakannya kepada pasangan atau memberitahukan bahasa cinta Anda kepada pasangan

  • 3 . Perbanyaklah berlaku positif kepada pasangan Anda. Jangan hanya menunggu atau mengharap pasangan Anda yang melakukannya kepada Anda.

  • 4 . Perbaiki atau tingkatkan komunikasi yang baik antara Anda dengan pasangan. Hindari saling kritik, saling bersikap defensif (mempertahankan pendapat pribadi atau merasa paling baik pendapatnya), saling menyalahkan, dan tidak mau memberi respons atau membatasi respons.

Luangkan waktu sejenak dan bagikan!

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Menyamakan perbedaan dalam pernikahan, pentingkah?

Setiap pasangan pasti memiliki perbedaan, dan kadang, meski kecil dan terasa tak penting, perbedaan itu bisa mengakibatkan kehancuran dalam pernikahan. Tapi benarkah menyamakan perbedaan merupakan satu-satunya solusi?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr