Puteriku terkasih, inilah ‘jilid pertama’ yang Ibu ingin engkau tahu sebelum memutuskan untuk menikah

Tujuan utama membina rumah tangga adalah mendapatkan kebahagiaan, mencintai dan dicintai. Hal itu bukan datang secara alami, perlu usaha terus menerus berapa pun lamanya pernikahan itu tidak menjadi soal.

3,597 views   |   12 shares
  • Mengalami sendiri perjalanan pernikahan selama 30 tahun, Ibu ingin berbagi bersamamu agar persiapanmu lebih baik daripada Ibu. Kemeriahaan pesta pernikahan ternyata tidak lagi menjadi hari yang paling penting dalam hidup Ibu. Hari-hari setelah pesta itulah yang lebih penting. Tujuan utama membina rumah tangga adalah mendapatkan kebahagiaan, mencintai dan dicintai. Hal itu bukan datang secara alami, perlu usaha terus menerus berapa pun lamanya pernikahan itu tidak menjadi soal.

  • 1.Komitmen kemesraan dan berjuang

  • Sebelum menikah, Ibu membayangkan cerita film Romy dan Yuli, bermesraan sepanjang perjalanan bersama orang yang Ibu cintai. Memang terbayang akan ada kesulitan, namun dalam angan-angan Ibu kesulitan itu seperti halnya mengerjakan soal matematika di sekolah. Bertanya pada guru dan persoalan selesai. Kenyataannya tidak segampang itu. Dalam mencari solusi perbedaan dan salah paham diperlukan kesediaan untuk diam, mendengar, dan kadang air mata. Lalu apa yang mengikat kami berdua? Adalah sebuah kata 'komitmen' yang memacu semangat untuk terus berjuang mengatasi kerikil-kerikil kehidupan dan menemukan kembali kemesraan yang ku impikan. Jadi anakku, kamu harus menemukan komitmen dan merasakannya sampai ke tulang sungsummu karena hanya dengan itu semangat perjuanganmu tidak akan pernah padam.

  • 2.Cari tahu pendapat pasanganmu

  • Ketika ayah kami meninggal Ibu masih berusia 13 tahun. Mau tidak mau Ibu harus belajar mandiri, membuat banyak keputusan sendiri, berjualan apa saja untuk membantu biaya hidup keluarga kami. Setelah lulus SMA Ibu mencari pekerjaan. Ibu terbiasa untuk membuat rencana dan keputusan sendiri apa yang akan dikerjakan dan inginkan. Beberapa hari setelah pesta pernikahan, Ibu tersentak, merasa bahwa kebebasan membuat keputusan dirampas oleh 'pernikahan'. Perlahan Ibu belajar bahwa ternyata banyak hal yang Ibu putuskan berdampak pada pasangan Ibu. Untuk itu Ibu perlu mendengar apa yang dia pikirkan, saling tukar pikiran dan bersepakat dalam membuat keputusan.

  • 3.Kemeriahan pesta pernikahan hanya satu hari

  • Kemeriahan dan tawa ria di pesta pernikahan sesungguhnya memang membahagiakan hati. Ibu menganggap hari itu menjadi hari yang paling penting dalam hidup. Ibu bayangkan keceriaan itu akan berlangsung terus. Tidak memerlukan waktu yang lama untuk sadar bahwa keceriaan tawa ria itu memang hanya satu hari saja. Sisanya adalah fakta hidup di mana ada tawa, tangis, canda dan lain-lain! Sekarang, hari 'besar' itu tidak lagi yang terpenting, itu adalah awal perjalanan panjang kehidupan.

  • Advertisement
  • 4.Rencana bisa berubah

  • Sebelum menikah, kami berusaha menjawab semua pertanyaan yang mungkin terjadi setelah pernikahan kami, tentang pekerjaan, tugas-tugas di rumah, karier. Ibu adalah pekerja kantoran dan sangat menikmati baik pekerjaan maupun pergaulan. Kami sepakat bahwa Ibu akan melanjutkan profesi Ibu bahkan bila anak-anak akan lahir dalam keluarga kami. Di saat anak kedua lahir, Ibu 'agak terpaksa' berhenti bekerja. Tiga bulan pertama sejak keputusan itu adalah masa yang paling sulit. Terbiasa dengan pekerjaan administrasi dengan banyak teman, menjadi ibu rumah tangga yang hampir tidak pernah ke luar rumah. Setelah melewati 'masa percobaan' itu, Ibu mulai menikmati kebersamaan dengan anak-anak, menyaksikan perkembangan mereka hari demi hari sambil mengajarkan mereka bekal hidup. Jadi, siaplah adanya rencana yang berubah.

  • Camkan apa yang Ibu ajarkan di atas. Mulailah menerapkannnya dalam pergaulanmu, agar kau terbiasa menjalankannya kelak. Dengan cara ini engkau sedang mempersiapkan diri memasuki mahligai rumah tangga dan merasakan kemesraan tanpa harus mencucurkan banyak air mata.

  • Dari Ibumu!

Bagikan hasil Anda kepada teman..

Falsafah hidup saya adalah "Jangan pernah menyerah, karena hidup harus maju terus"

Puteriku terkasih, inilah ‘jilid pertama’ yang Ibu ingin engkau tahu sebelum memutuskan untuk menikah

Tujuan utama membina rumah tangga adalah mendapatkan kebahagiaan, mencintai dan dicintai. Hal itu bukan datang secara alami, perlu usaha terus menerus berapa pun lamanya pernikahan itu tidak menjadi soal.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr