Jangan ungkapkan 10 hal ini kepada ibu dengan banyak anak

Pertimbangkan terlebih dahulu kata-kata yang akan dikeluarkan, sebelum Anda menghujani ibu yang memiliki beberapa anak dengan komentar yang tidak menghargai perasaannya.

838 views   |   1 shares
  • Ada beberapa orang yang merasa bahwa mengungkapkan seluruh isi pikirannya di muka publik adalah kewajibannya, entah apa alasannya. Ibu dengan banyak anak, seringkali menjadi korban dari si komentator bermulut pedas ini. Sebab, berapa pun jumlah anak yang dimilikinya, baik 3 atau 10 anak sekalipun, ibu-ibu yang kesehariannya teramat sibuk ini kerap menanggung beban yang lebih berat ketimbang ibu lainnya. Apalagi jika harus mendengar komentar dari orang asing mengenai kesibukannya. Atas nama ibu-ibu yang terlihat kelelahan di supermarket, berikut adalah kalimat-kalimat yang harus Anda hindari saat bertemu dengan ibu yang digelantungi anak setiap saat di sekitarnya.

  • "Wah, tanganmu terlihat penuh sekali ya!"

  • Ayolah, dalam keseharian, telinga, mobil, rumah dan hari kami juga sudah selalu penuh. Di tengah kesibukan dan ketegangan berbelanja bersama banyak (atau satu) anak, komentarseperti ini adalah hal terakhir yang ingin kita dengar, bukan?

  • "Aku tidak tahu bagaimana cara kamu menjalaninya"

  • Oke, sejujurnya, ada beberapa saat kami "tidak menjalaninya". Begini ya, banyak orang berpikir bahwa ibu dengan banyak adalah "Ibu Super" yang dapat melakukan segalanya. Ya, ada beberapa ibu yang memang bisa dan kemudian melakukannya, namun sebagian besar dari kami seringkali mengendur. Kami kelelahan. Jadi, kadang kami membiarkan piring-piring tak dicuci. Dan kadang juga, anak-anak tidur terlalu malam di hari-hari saat kami merasa menyerah, lalu yang kami lakukan adalah menenangkan diri dengan menganggap bahwa mereka tidur tepat waktu. Ada juga saatnya kami "melarikan diri" dengan mencuri waktu untuk membaca, membuka facebook, atau mandi lebih lama dari biasanya saat anak-anak dijaga oleh serial "Phineas and Ferb" atau "Daniel Tiger's Neighborhood" di televisi.

  • "Kamu sadar saat 'membuatnya', kan?"

  • Orang-orang selalu menjadikan kalimat ini sebagai bahan candaan. Tapi ya, jika kita tidak sadar saat melakukan kegiatan seks dan reproduksi ini saat anak pertama lahir, kami pasti sudah menyadarinya saat anak kedua lahir, oh, ya, atau saat yang ketiga.

  • "Kelihatannya Ayah sudah butuh kolam pemancingan"

  • Seseorang benar-benar mengatakan hal ini kepada saya di musim panas lalu, saat saya sedang berbelanja dengan enam anak saya yang masih kecil. Saya tidak tahu bagaimana menanggapi komentar ini, dan hanya membalasnya dengan,"Atau Ibu membutuhkan waktu seharian di spa!" Apa yang ia maksud, sebenarnya? Apakah artinya Ayah membutuhkan waktu istirahat dari mengurus anak-anak? Atau ia harus membawa anak-anaknya memancing ikan? Atau ia bermaksud ikut campur dalam kehidupan percintaan kami, dengan menyatakan bahwa Ayah membutuhkan hobi baru agar menjauhkannya dari kamar tidur? Komentar ini diungkapkan dengan santai, seolah tak ada tabu dalam aturan percakapan publik dengan orang asing.

  • Advertisement
  • "Ini semua anakmu?"

  • Tidak, saya membeli mereka di lorong sembilan. Yang benar saja, memangnya ada orang yang mau berbelanja dengan anak — dengan jumlah yang banyak, pula — yang bukan anaknya sendiri? Saya tidak mengerti kenapa ada orang yang bisa-bisanya mempertanyakan hal ini, dan kenapa mereka merasa bahwa hal ini adalah urusannya?

  • "Semua anak ini dari Ayah dan Ibu yang sama?"

  • Kalimat tersebut pernah diungkapkan kepada saya saat berbelanja dengan ketiga anak saya yang, kebetulan, warna rambutnya berbeda. Oke, rasanya saya butuh sebuah kaos yang bertuliskan "Saya hanya punya satu ayah-nya anak-anak" atau sejenisnya. Lagi-lagi, kenapa sih hal ini harus jadi urusan orang lain? Kenapa mereka harus tahu bahwa anak-anak saya memiliki ayah yang sama, atau diadopsi? Dari manapun mereka berasal bukan masalah selama anak-anak ini dicintai dan diperlakukan dengan baik, bukan? Meski saya memiliki banyak anak, bukan berarti Anda bisa menanyakan hal-hal yang terlalu pribadi pada saya.

  • "Enak ya, banyak yang bantuin belanja!"

  • Saya berharap bahwa komentar ini dilemparkan dalam bentuk sarkastik. Sebab, sejak kapan, kegiatan berbelanja di supermarket (atau kegiatan sejenisnya) menjadi lebih mudah, dengan "bantuan" dari anak-anak? Saya berasumsi, komentar tak berempati ini muncul dari; satu, orang yang tidak pernah memiliki anak. dua, orang yang sudah lama tak mengurus anak-anaknya, atau ketiga, kebanyakan dari mereka mengalami kerusakan otak yang disebabkan karena memiliki anak.

  • "Ini sudah semua?" atau "Ada rencana nambah lagi?"

  • Pernyataan ini benar-benar tak membutuhkan penjelasan tambahan, ya. Sebab, meski Anda sebegitu ingin tahunya, apakah kami sudah cukup gila untuk menambah anak lagi, atau merasa sudah cukup bereproduksi, keterangan selengkapnya hanya milik kami. Bukan urusan Anda.

  • "Nikmatilah hari-hari ini. Mereka akan tumbuh dengan cepat."

  • Pada akhirnya, ibu-ibu yang sibuk mungkin akan merindukan saat memiliki anak-anak kecil. Namun saat masih berada di tengah kekecauan, stres dan kelelahan, komentar untuk "menikmati" kegilaan setiap hari, hanya akan menambah ketegangan saja. Percayalah, kami sudah melakukan yang terbaik untuk menjalani setiap menitnya menjadi seorang ibu, tapi sebetulnya, yang terjadi setiap hari adalah usaha keras untuk tetap selamat.

  • Menatap dalam diam

  • Yang ini dijamin tak keluar secara verbal lewat ucapan, namun tetap saja membuat rasa canggung. Terus menatap ibu-ibu yang berjalan bersama banyak anak, dengan alasan apa pun, bukan ide yang bagus. Meski hanya menatap dalam diam sambil menghitung jumlah anak yang bersamanya, atau menatap dengan jijik. Simpanlah setiap dakwaan yang ada di kepala, dan tatapan tanpa belas kasih itu untuk diri Anda sendiri.

  • Advertisement
  • Merasa terkejut saat berpapasan dengan rombongan anak-anak kecil yang terlihat seperti parade atau sirkus di tengah supermarket, memang dapat dimengerti. Namun, tolonglah bantu ibu-ibu ini dengan mengendurkan kelelahannya. Sebab, kami mungkin sedang berusaha melakukan yang terbaik, yang kami bisa, untuk menjaga anak-anak ini agar tetap terkontrol, sementara kami menyelesaikan tugas. Jika Anda benar-benar ingin mengatakan sesuatu, pastikan ucapan tersebut sopan, tidak ikut campur, atau bahkan membantu. Cobalah:

    • "Anak-anak yang manis!"

    • "Anda hebat, Bu!"

    • "Aduh anak-anaknya baik sekali ya sikapnya."

  • Ucapan yang diberikan sebagai bentuk tepukan hangat di punggung (memberikan dukungan), selalu lebih baik ketimbang pernyataan atau pertanyaan yang malah menimbulkan ketegangan tambahan pada situasi pelik yang sudah terlanjur terjadi. Pertimbangkan dulu dalam hati, apa yang Anda rasakan jika seseorang menanyakan hal tersebut kepada Anda? Sebab, komentar yang keluar begitu saja tanpa dipikirkan biasanya akan terasa menyakitkan, seperti menaburkan garam di atas luka.

  • Jika Anda harus menyatakan sesuatu, jagalah agar tetap positif, dalam bentuk dukungan atau memberi bantuan moril bagi para ibu yang sudah melakukan segala yang terbaik, yang bisa ia lakukan. Ingatlah aturan utamanya, "Jika Anda tidak bisa mengatakan sesuatu yang baik, lebih baik diam."

  • Artikel ini diterjemahkan oleh Yasmina Hasni dari artikel asli berjudul 10 things you really shouldn't say to moms with multiple children oleh Wendy Jessen

Anda suka artikel ini? Bagikan..

Jangan ungkapkan 10 hal ini kepada ibu dengan banyak anak

Pertimbangkan terlebih dahulu kata-kata yang akan dikeluarkan, sebelum Anda menghujani ibu yang memiliki beberapa anak dengan komentar yang tidak menghargai perasaannya.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr