7 tanda dari suami ini menunjukkan istri terlalu emosional

Kejujuran itu kadang menyakitkan, namun menyikapi kejujuran dengan bijak adalah sikap terbaik jika Anda benar-benar peduli pada kelanggengan hubungan pernikahan.

6,176 views   |   34 shares
  • Pada dasarnya, kebanyakan wanita memang lebih emosional ketimbang lelaki. Sebetulnya hal ini tidak selalu buruk, asalkan emosi yang dikeluarkan tersebut didasari oleh rasa peduli dan empati. Namun yang akan dibahas di sini adalah luapan emosi yang berlebihan, dalam menghadapi kendala dalam hidup. Sebab sikap seseorang dalam mengatasi masalah, berkaitan erat dengan keharmonisan hubungan pernikahan.

  • Berikut adalah tanda-tanda yang menunjukkan bahwa suami merasa jengah dengan luapan emosi istrinya, yang dianggap keterlaluan.

  • 1. Ia mulai berbohong

  • Tidak semua wanita bisa menerima kejujuran. Mereka kerap merasa tak tahan, dan mulai marah. Jika ini terjadi terus menerus, respon pertama yang akan dilakukan suaminya adalah menyembunyikan kejujuran, agar tidak terjadi pertengkaran. Kaum lelaki tak tahan dengan kemarahan yang berlebihan, maka mereka berusaha menghindarinya. Meski ini berarti, ia harus berbohong.

  • 2. Ia mulai tidak romantis, seperti biasanya

  • Terlalu banyak emosi negatif yang Anda jejalkan, akan membuat keromantisan suami menipis. Bayangkanlah, betapa sulitnya merasa penuh kasih sayang, menjalin keintiman, dengan orang yang emosinya meluap-luap. Jika Anda mulai merasakan hal ini, coba berkaca dan mengingat seberapa sering kemarahan Anda meledak (oh, atau ngambek dan mendiamkan suami, juga termasuk di dalamnya). Hal tersebut jelas akan mematahkan semangat suami untuk terus menunjukkan cinta, dan membuatnya lebih rentan.

  • Shannon Ethridge, seorang konselor, pernah mengatakan "Saat suami mulai menjauh, secara emosional, sebetulnya istrilah yang pertama harus melakukan instrospeksi. Sebab ia mengambil peranan penting di dalamnya. Yang menyebabkan suami bersikap dingin, biasanya disebabkan oleh perilaku dan sikap istrinya. Bukan karena sudah tak ada cinta lagi dalam hubungan mereka; namun para lelaki mulai kehilangan rasa cinta, sebagai bentuk kejengahan akan sikap si istri pada dirinya"

  • 3. Ia berhenti menjadi pendengar

  • Suami mulai bersikap seolah telinganya tak bisa mendengar, dan pikirannya melayang jauh dari apapun kata-kata yang keluar dari mulut Anda. Ya, ia tidak mendengarkan. Sebab ia tidak ingin lagi menjadi pendengar. Penyebabnya adalah, suami merasa amat lelah mendengarkan suara Anda yang cenderung berteriak. Karena Anda terlalu sering mengekspresikan letusan emosi secara berlebihan. Lelaki tidak akan bisa menerima hal ini. Mereka seolah punya tombol "off" telinganya, sebagai bentuk pertahanan diri. Jadi, jika Anda ingin didengarkan, mulailah turunkan volume suara, dan bicara dengan rasional.

  • Advertisement
  • 4. Ia berhenti bercerita

  • Hal ini sedikit berbeda dengan berbohong. Sebab, ia hanya berhenti bercerita tentang appapun yang terjadi pada dirinya. Ini adalah bentuk keputusannya untuk menyimpan sendiri, kejadian demi kejadian dalam hidupnya. Dengan begitu, ia tidak perlu membohongi Anda. Ia benar-benar tidak mau membuat Anda kecewa, maka ia memilih diam. Anda, adalah istri yang tidak tahu apapun tentang suaminya, menyedihkan bukan? Mulailah bersikap lebih terbuka, karena dalam menjalani hubungan, Anda dan suami harus berkomunikasi dengan baik, juga bisa merasa nyaman saat mengobrol. Anda dan suami membutuhkan pengendalian emosi secara dewasa seperti itu, satu sama lain.

  • 5. Ia mulai tak betah di rumah

  • Tidak ada satupun lelaki yang mau pulang ke rumah lalu malah disambut dengan sambaran emosi dalam bentuk tangisan, merajuk dan banyak tuntutan. Kejadian seperti ini adalah beban yang tak sanggup dipikulnya. Ia akan mencari pelarian, tempat lain untuk dikunjungi, di mana pun, asal ia tak perlu menanggung beratnya beban disemprot kemarahan. Biasanya ia jadi lebih betah bekerja lembur. Atau bahkan lebih betah nongkrong di bar—-meski kedepannya akan mengakibatkan masalah baru lagi. Jangan biarkan kemarahan Anda menjadi penyebab suami melarikan diri ke tempat-tempat yang tidak sehat.

  • 6. Ia mulai kehilangan kesabaran

  • Kadang, saat sudah merasa terlampau lelah dengan kemurkaan istrinya, reaksi yang keluar adalah balas berteriak. Hal ini terjadi sebagai respons sederhana dari rasa putus asa, karena sudah tak tahu lagi harus berbuat apa, maka ia akan berteriak untuk meminta istrinya diam. Ia mulai meledakkan emosi, sebagai bentuk perlawanan pada penghinaan yang selama ini dilakukan istrinya kepada dia. Jika hal ini sudah terlanjur terjadi, tenangkan diri Anda. Ketenangan akan, secara ajaib, menular pada suami Anda yang sedang marah. Jika Anda ternyata bukan penyebab kemarahannya, Anda tetap harus melakukan evaluasi, sampai sejauh mana Anda berperan pada sikap tersebut.

  • 7. Ia mulai mencari orang lain untuk menghilangkan stres

  • Orang itu mungkin saja sahabatnya. Kongkow bersama mereka jauh lebih menyenangkan ketimbang harus berhadapan dengan istri yang hobi mengeluh dan cengeng. Sesekali menghabiskan waktu bersama para teman sebetulnya hal yang baik. Namun saat kegiatan ini menjadi jalan bagi suami untuk melarikan diri, Anda harus waspada. Sebab, tandanya ia tidak merasa nyaman bersama seorang istri yang emosinya naik turun tak keruan. Yang terburuk adalah, jika kemarahan tak terkendali Anda ternyata mendorong suami untuk jatuh ke pelukan wanita lain yang tenang dan penuh pengertian. Andalah yang harus menjadi satu-satunya wanita penuh pengertian dalam hidupnya.

  • Advertisement
  • Hikmah yang harus diambil

  • Belajarlah untuk mengendalikan emosi. Artinya, Anda harus lebih memperhatikan kebutuhan diri sendiri, terlebih dahulu. Konsumsi makanan sehat dan penuhi kebutuhan gizi tubuh Anda. Tidur cukup. Jalani kehidupan dengan lebih santai dan penuhi kebutuhan tubuh untuk lebih rileks. Beristirahatlah sejenak, lakukan hal-hal sederhana yang menyenangkan, misalnya dengan berjalan santai di bawah matahari pagi dan menghirup udara segar. Upayakan keseimbangan seperti itu, bukan hanya untuk menyenangkan hati suami saja, namun juga untuk membuat Anda sendiri merasa lebih bahagia.

  • Artikel ini diterjemahkan oleh Yasmina Hasni dari artikel asli berjudul "7 signs youre being too emotional for your husband' ) oleh Gary dan Joy Lundberg.

Bagikan kepada teman-teman Anda!

Gary adalah terapis keluarga dan pernikahan berlisensi sementara Joy adalah penulis dan penyair. Mereka sering mengadakan seminar dan menulis buku tentang hubungan, salah satunya "I Don't Have to Make Everything All Better".

Situs: http://garyjoylundberg.com

7 tanda dari suami ini menunjukkan istri terlalu emosional

Kejujuran itu kadang menyakitkan, namun menyikapi kejujuran dengan bijak adalah sikap terbaik jika Anda benar-benar peduli pada kelanggengan hubungan pernikahan.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr