9 ancaman bagi keutuhan pernikahan yang terabaikan

Komunikasi selalu dijadikan sumber kesalahan utama bagi setiap permasalahan dalam hubungan pernikahan, padahal bukan itu saja penyebabnya.

1,873 views   |   6 shares
  • Saya sering merasa iba pada komunikasi dalam pernikahan, karena selalu dijadikan kambing hitam pada setiap persoalan yang terjadi. Dari generasi ke generasi, dari satu survei ke survei lainnya, komunikasi selalu menjadi penyebab konflik nomor satu dalam pernikahan. Padahal tidak...

  • Komunikasi dalam pernikahan selalu mendapatkan "hukuman". Hal ini seperti seorang anak yang melawan serangan di tempat bermain. Pengawas tempat bermain mendengar pertengkaran dan hanya melihat kejadian saat seorang anak berusaha memberikan perlawanan atas serangan yang dihadapinya. Bukan ia yang memulai konflik, ia hanya memberikan reaksi pada sebuah aksi. Namun ialah yang tertangkap, dan dikirim ke kantor kepala sekolah. Atau, dalam kasus komunikasi pernikahan, kantor terapis pernikahan.

  • Saya merasa iba pada komunikasi dalam pernikahan, karena setiap orang seolah bersekongkol untuk menghujatnya. Meski realita berkata lain. Dalam "taman bermain" di dunia pernikahan, komunikasi yang dianggap salah ini seringkali hanyalah bentuk reaksi dari si pembuat masalah yang sebetulnya memulai pertengkaran. Siapakah ia? Perkenalkan mereka, si biang kerok:

  • 1. Kita menikahi seseorang karena menyukai ia apa adanya

  • Setiap orang pasti berubah. Rencanakanlah hal itu sebelum menikah. Jangan pernah menikahi seseorang karena ia adalah dirinya apa adanya, sekarang. Apalagi menikahi sosok yang ingin Anda ubah menjadi sesuai keinginan, nantinya. Nikahi dia karena Anda bisa melihat tekad dan niatnya bagi diri sendiri, Anda dan keluarga kecil Anda nantinya. Kemudian berbahagialah dengan perubahan-perubahan tersebut, saat pernikahan sudah berjalan. Seperti dirinya pun yang berbahagia dengan perubahan Anda.

  • 2. Pernikahan bukan sarana menghapus kesendirian

  • Menjalani hidup artinya menjalani kesendirian. Hal ini adalah kondisi dasar seorang manusia. Pernikahan tidak dilakukan untuk mengubah kondisi dasar manusia. Pernikahan tidak dapat menghapus kesendirian. Jika Anda menikah untuk menghilangkan rasa kesendirian, nanti, saat Anda masih merasa kesepian, Anda akan menyalahkan pasangan. Menganggapnya tidak benar, dan mulai mencari lagi hubungan lain di luaran. Pernikahan adalah sarana untuk dua orang manusia berbagi kesendiriannya. Saat-saat berbagi itulah, keduanya akan menciptakan momen kebersamaan dan tak lagi merasa sendirian, untuk sementara.

  • 3. Setiap orang pasti punya aib

  • Kita menghabiskan begitu banyak waktu di masa remaja dan jelang dewasa untuk menutupi aib dan hal yang memalukan kemudian menganggapnya tak ada. Maka, saat pasangan memicu konflik yang memunculkan aib tersebut, kita akan menyalahkan dia karena menciptakan aib. Lalu memaksanya untuk melakukan perbaikan. Kenyataannya, bukan ia yang menciptakan aib, dan ia takkan bisa memperbaiki. Karena itu, kadang, terapi pernikahan yang terbaik adalah terapi individual. Dengan itu kita bisa berkerja keras untuk menyembuhkan rasa malu akan aib yang pernah terjadi dalam kehidupan di masa lalu. Agar ke depannya dapat berhenti menyalahkan hal itu pada pasangan.

  • Advertisement
  • 4. Memenangkan gengsi

  • Kita semua punya rasa "Ke Akuan", ego, atau biasa disebut gengsi. Hal ini mungkin muncul pertama kali di kelas empat SD saat seorang anak menghina kita. Bahkan mungkin muncul lebih awal jika ada anggota keluarga yang lebih dulu memberikan celaan pada kita. Hal ini sebetulnya baik, karena membantu menjaga emosi seseorang agar tidak mengalami depresi. Namun saat dewasa dan menikah, ego yang selalu dimenangkan, akan menjadi dinding pemisah. Sudah saatnya ia turun tahta. Lebih baik bersikap terbuka, ketimbang mempertahankan gengsi. Lebih baik memaafkan, ketimbang balas dendam, meminta maaf ketimbang menyalahkan. Bahkan lebih baik menjadi rentan ketimbang adu kekuatan. Bersikap ikhlas selalu lebih baik ketimbang merasa berkuasa.

  • 5. Hidup adalah kumpulan kekacauan, dan pernikahan adalah hidup

  • Ha! Jadi arti dari pernikahan adalah bagian dari kekacauan dan masalah. Jika hal ini tidak disadari, saat ada sesuatu yang tidak berjalan sesuai dengan keinginan, kita mulai menyalahkan pasangan sebagai pencipta konflik. Kita memberikan tambahan masalah, untuk hidup dan hubungan percintaan yang sudah merupakan bagian dari masalah. Berhentilah menyalahkan orang lain dan jalinlah hubungan dengan baik. Dengan itu, kita berdua bisa mulai masuk, dan melewati, seluruh kekacauan dalam kehidupan ini, bersama-sama.

  • 6. Berempati itu sulit

  • Empati dalam hubungan antar pasangan tidak akan muncul bersamaan, secara alami. Pasti ada salah seorang yang memulai. Sayangnya, tak ada jaminan pihak lain akan langsung memberikan balasan yang sama. Hal ini berisiko dan merupakan bentuk pengorbanan. Karena itu, kebanyakan dari kita akan menunggu pasangan yang memulainya duluan. Dia yang memulai, berisiko mengalami kebuntuan. Sebab biasanya, saat seorang mulai berempati dan mengalah, ia akan terus menerus jadi pihak yang diam dan tak bisa menyatakan pendapatnya lagi. Oke, kenyataannya, orang yang kita sayangi itu adalah manusia biasa yang bisa berbuat salah dan takkan pernah menjadi sosok sempurna yang kita idamkan. Mampukah kita mencintai dia sepenuhnya, dengan berani mengambil risiko mengalah lebih dulu?

  • 7. Kita lebih perhatian pada anak-anak, ketimbang kepada pasangan

  • Kebutuhan dan segala urusan anak-anak amat penting untuk diperhatikan, namun seharusnya tidak boleh membuat kita menomorduakan hubungan dengan pasangan. Jika anak-anak lebih penting, mereka akan memanfaatkannya dengan bersikap di atas angin dan seenaknya. Jika anak-anak tidak diperhatikan, mereka akan melakukan segala cara agar dijadikan prioritas. Membangun keluarga adalah tentang konsistensi, bekerja keras dalam mencari keseimbangan.

  • Advertisement
  • 8. Saling berebut kekuasaan

  • Kebanyakan konflik yang terjadi dalam pernikahan, adalah berusaha menyelesaikan masalah seputar keterkaitan, antar pasangan. Biasanya terjadi karena pihak lelaki tak ingin terlalu "lengket" dan pihak wanita sibuk dengan ingin dikabari terus setiap saat, ingin suami selalu ada, ingin tahu setiap urusan suami hingga merasa berhak membuka-buka seluruh pesan di ponsel dan sebagainya. Kadang keadaan juga bisa terbalik. Sayangnya, setiap pertengkaran yang terjadi karena hal ini sebetulnya berujung pada sebuah pertanyaan besar yang tak pernah keluar: siapa yang berhak memutuskan akan sejauh apa jarak yang dijaga di antara keduanya? jika pertanyaan tersebut tidak pernah dikemukakan secara langsung, maka keduanya akan terus bertengkar untuk meributkan hal itu secara tak langsung. Selamanya.

  • 9. Tidak tahu caranya mempertahankan ketertarikan pada satu orang atau satu hal

  • Kita hidup di dunia yang amat semarak, hingga mampu menarik perhatian ke jutaan arah yang berbeda. Selalu ada hal baru yang akan membuat kita tertarik, dan kemudian beralih. Karena itu, meditasi—memusatkan perhatian pada satu hal, dan selalu kembali lagi ke hal itu saat kita mulai terdistraksi—adalah seni yang penting untuk dipelajari. Saat perhatian kita mulai teralihkan ke hal-hal atau orang lain, di kala kejenuhan menerjang, menjadikan hidup sebagai area meditasi kepada orang yang kita cintai adalah tindakan yang revolusioner. Dan amat penting untuk mempertahankan pernikahan.

  • Sebagai seorang terapis, Saya bisa selalu mengajarkan pasangan untuk melakukan komunikasi yang baik dalam waktu satu jam saja. Namun, berurusan dengan si pemicu masalah yang merupakan penyebab utama terjadinya pertengkaran? Wah. Ini membutuhkan waktu seumur hidup.

  • Namun,

  • Waktu seumur hidup itulah yang akan membuat kita menjadi orang yang jauh lebih baik dan menyenangkan. Kita akan menjadi orang yang dapat menanggung beratnya rasa kesepian, mampu mengikhlaskan aib, bisa meruntuhkan dinding pembatas dan mengubahnya menjadi sebuah jembatan kokoh. Kita selalu merangkul kekacauan dan menerimanya sebagai bagian dari menjalani kehidupan, mau menerima risiko dari mengalah dan melupakan rasa kecewa, mampu menyayangi setiap orang dengan porsi sejajar, selalu bisa memberi dan menerima juga berkompromi. Kita akan berubah menjadi orang yang mendedikasikan diri dalam kehadiran, kesadaran dan perhatian, selama-lamanya. Dan inilah bayaran dari perjuangan seumur hidup tersebut.

  • Advertisement
  • Artikel ini diterjemahkan oleh Yasmina Hasni dari artikel asli berjudul "The 9 most overlooked threats to a marriage" oleh Kelly Flanagan.

Anda suka artikel ini? Bagikan dengan teman-teman

Kelly adalah seorang praktisi psikologi klinis di Chicago. Ia juga seorang penulis dan blogger dari drkellyflanagan.com, yang di dalamnya berisi tentangkisah-kisah pribadi. Ia menulis buku berjudul Marriage Manifaesto: Turning Your World Upside Down.

Situs: http://drkellyflanagan.com

9 ancaman bagi keutuhan pernikahan yang terabaikan

Komunikasi selalu dijadikan sumber kesalahan utama bagi setiap permasalahan dalam hubungan pernikahan, padahal bukan itu saja penyebabnya.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr