Untuk ibu yang mengalami operasi cesar

Ibu-ibu jangan biarkan masyarakat menentukan siapa Anda dengan hanya bagaimana Anda melahirkan atau dengan hanya pilihan Anda untuk menggunakan botol susu.

22,631 views   |   163 shares
  • Hampir 14 tahun lalu, ketika saya masuk rumah sakit untuk pertama kali sewaktu melahirkan anak lelaki pertama kami, saya kira saya telah tahu segala sesuatu yang dibutuhkan tentang melahirkan. Saya telah membaca buku-buku terkemuka sewaktu hamil. Saya telah menjelajahi ratusan artikel. Saya mendapatkan nasihat bijaksana dari ibu dan kakak perempuan saya. Saya siap menghadapi apa pun yang akan terjadi.

  • Sesaat setelah saya masuk, saya tinggal dalam kamar yang tersedia, diberi injeksi epidural (obat yang disarankan ibu dan kakak perempuan saya) dan mulailah proses melahirkan yang panjang dan melelahkan. 25 jam berikutnya adalah saat-saat tersulit dalam hidup saya. Saya tidak dapat makan. Saya tidak dapat tidur. Saya tidak dapat turun dari tempat tidur. Saya ingat saya mual luar biasa, muntah-muntah, perut kejang, berdoa memohon agar segera berlalu. Para dokter berbuat sebisa mereka untuk membantu proses melahirkan tersebut, tetapi tidak berhasil.

  • Setelah sepanjang hari merasa tersiksa, saya diberitahu bahwa oksigen bayi saya sudah sangat kritis. Operasi cesar segera dibutuhkan. Saya merasa hancur. Itu adalah sesuatu yang belum pernah saya baca, dan satu bahan yang belum saya pelajari. Saya percaya saya adalah seorang wanita yang sangat sehat dan mampu. Tidak mungkin saya harus menjalani operasi cesar. Saya tahu kelahiran lewat operasi cesar tidak baik bagi banyak orang, dan saya mulai mempercayainya. Jadi, ketika berita itu saya dengar, saya tidak tahu bagaimana menanggapinya.

  • Setelah melahirkan, saya baru tahu bahwa anatomi sayalah yang membuat saya tidak mampu melahirkan anak secara alami. Di samping itu, saya baru tahu bahwa saya adalah satu dari satu persen wanita yang tidak memiliki cara biologis untuk menghasilkan susu. Hidup saya jadi jungkir balik. Sebagai seorang wanita, saya benar-benar patah arang. Saya tidak mampu melakukan dua hal yang kebanyakan kaum wanita sanggup lakukan sebagai ibu.

  • Saya menyalahkan diri saya atas ketidakmampuan menjadi ibu yang saya kira seharusnya demikian, dan yang lebih buruk lagi, masyarakat juga ikut menyalahkan. Orang lain mulai menuduh saya sebab saya tidak mencoba melahirkan secara alami dengan anak kedua. Saya lebih memilih untuk mendengarkan nasihat dokter saya. Ketika saya duduk bersama ibu-ibu lain yang sedang menyusui, saya menggunakan botol susu, saya melihat pandangan yang menuduh secara diam-diam dan bisikan mereka. Saya merasa malu untuk ketidakmampuan saya melakukan apa yang sanggup mereka lakukan. Selama bertahun-tahun, saya merasa seperti saya memiliki kekurangan sebagai ibu yang tidak 'melahirkan' dan bergantung dari botol.

  • Advertisement
  • Saya membutuhkan bertahun-tahun untuk menerima kenyataan bahwa cara anak kita lahir ke dunia bukanlah masalah. Yang menjadi masalah adalah bagaimana kita membawanya ke mari. Saya hamil sembilan bulan yang sama seperti setiap ibu. Saya mengalami setiap gerak, setiap serdawa, setiap tendangan. Banyak bayi di dunia yang terbengkalai dan dibiarkan mati kelaparan, tetapi anak-anak saya tumbuh dengan sehat. Mereka tumbuh karena mereka memiliki seorang ibu yang mengasihi mereka, yang berkorban untuk mereka dan yang memahami masalah mereka.

  • Menjadi ibu adalah lebih daripada sekadar melahirkan dan menyusui. Seorang ibu yang baik menyediakan kehidupan yang baik dan seimbang.

  • Saya memiliki lima anak hasil operasi cesar, dan mereka adalah anak yang cakap-cakap. Saya bersyukur untuk teknologi modern yang memberi kesempatan saya menjadi seorang ibu yang memiliki bayi-bayi yang sehat sementara saya sendiri tetap sehat. Saya berhutang budi kepada para ilmuwan yang bekerja tanpa kenal lelah untuk menciptakan formula bayi yang mirip susu ibu. Mereka memberi nutrisi bayi-bayi saya ketika saya sendiri tidak mampu.

  • Saya menghargai ibu-ibu yang mendorong saya memahami bahwa kita menjadi ibu bukan hanya karena saat melahirkan atau dengan apa bayi diberi makan untuk tahun pertama dalam hidupnya. Ibu adalah pancaran dari setiap saat yang terdiri dari hari demi hari, jam demi jam dan menit demi menit —- saat-saat yang membentuk tahun-tahun penuh kebaikan.

  • Anak-anak saya bahagia, sehat dan penuh kehidupan. Mereka cerdas, pandai dan terhormat. Mereka adalah anak-anak yang manis, jujur dan dermawan. Mereka terbentuk oleh perbuatan mereka, oleh apa yang mereka lakukan dan siapa mereka sebenarnya. Hubungan pribadi saya dengan setiap anak saya membantu mengajar mereka hal-hal yang mereka butuhkan untuk menjadi orang baik.

  • Ibu-ibu jangan biarkan masyarakat menentukan siapa Anda dengan hanya bagaimana Anda melahirkan atau dengan hanya pilihan Anda untuk menggunakan botol susu. Jangan menjadi orang yang menghakimi orang lain. Kita semua lebih baik daripada itu. Kita semua mencoba membuat pilihan terbaik untuk anak-anak kita dalam cara terbaik yang kita tahu. Menjadi orangtua yang non tradisional tidak berarti nilai anak-anak kita kurang —- atau nilai kita kurang daripada ibu-ibu yang lain.

  • Akhirnya, bukan cara anak kita dilahirkan yang menentukan nasib mereka, tetapi bagaimana anak-anak kita memilih hidup —- dan itu, kawan-kawan, ditentukan oleh cara kita mengajar mereka dalam saat-saat berharga setelah mereka dilahirkan.

  • Advertisement
  • Diterjemahkan oleh Effian Kadarusman dari artikel asli berjudul "To the mom who had a C-section" ) oleh Tiffany Fletcher.

Bagikan pada teman dan keluarga..

Tiffany Fletcher, author of "Mother Had a Secret: Learning to Love my Mother and her Multiple Personalities".

Situs: http://motherhadasecret.blogspot.com

Untuk ibu yang mengalami operasi cesar

Ibu-ibu jangan biarkan masyarakat menentukan siapa Anda dengan hanya bagaimana Anda melahirkan atau dengan hanya pilihan Anda untuk menggunakan botol susu.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr