Menjadi dekat dengan si buah hati

Komunikasi yang baik sangat dibutuhkan sekali dalam hubungan antara orang tua dan anak. Ini adalah kunci utama untuk membangun kedekatan dan ikatan yang kuat.

3,829 views   |   0 shares
  • Beberapa orang berpikir bahwa ibu rumah tangga lebih dekat dengan anak mereka karena mereka berada di rumah dibanding ibu yang bekerja. Mungkin memang benar, tapi bukan berarti kedekatan itu tidak diusahakan. Meski berada di rumah dan dekat secara fisik dengan anak-anak, bukan berarti secara otomatis kedekatan emosional terjalin. Jika tidak diusahakan dengan bijaksana, alih-alih si anak merasa kedekatan emosional, dia justru merasa tidak nyaman berada di rumah karena ingin menghindari keberadaan sang ibu.

  • Banyak anak yang karena komunikasi yang buruk cenderung untuk menghindari orang tuanya meski keduanya selalu berada di rumah. Misalnya si anak langsung mengurung diri di kamarnya begitu pulang sekolah atau sebisa mungkin membatasi berbicara dengan ibunya. Biasanya gejala ini mulai muncul ketika si anak memasuki masa puber. Masa di mana mereka merasa sudah cukup dewasa walau pada kenyataanya belum sedewasa yang mereka pikir. Pada masa ini, jika tidak berhati-hati komunikasi yang buruk akan menyebabkan anak berpikir bahwa dia terlalu diatur. Misalnya ketika dia dinasehati hal yang sama berulang-ulang atau ketika si ibu tanpa sadar mengomel panjang lebar tanpa memberi waktu si anak untuk memberikan pendapatnya. Atau sebaliknya, bisa juga komunikasi yang buruk dikarenakan si ibu terlalu sibuk sendiri dengan pekerjaan rumah tangga dan tidak memiliki waktu berkualitas walau hanya untuk mendengarkan si anak. Atau bahkan si ibu menyerahkan pengasuhan anak kepada asisten rumah tangga, padahal jelas si ibu berada di rumah. Itu akan membuat anak merasa diabaikan.

  • Komunikasi yang baik dengan si buah hati tidak semata –mata ditentukan oleh seberapa sering hal itu dilakukan. Tetapi juga oleh kualitas komunikasi itu. Komunikasi yang hanya berisi omelan atau perintah yang lebih parahnya bisa berujung pertengkaran, tidak bisa dibilang berkualitas. Dan celakanya jika kita tidak bijaksana, itulah yang akan sering terjadi. Di bawah ini beberapa tips sederhana untuk menjalin komunikasi berkualitas dengan buah hati kita.

    1. Mendengarkan. Komunikasi yang baik adalah komunikasi yang berjalan dua arah. Bukan hanya dari pihak ibu yang berbicara panjang lebar tanpa memberi kesempatan anak untuk berbicara. Padahal seringnya anak juga ingin didengar. Biasakan anak kita untuk memiliki pemikiran bahwa dia didengarkan. Bahkan jika ceritanya bukan hal yang penting. Kebiasaan untuk berbicara dengan orang tuanya lebih penting daripada isi percakapan itu. Rasa nyaman untuk berbicara itu akan membangun kepercayaan si anak terhadap orang tua. Dan itulah landasan hubungan yang kuat antara orang tua dan anak. Mungkin nanti ketika anak kita beranjak dewasa, dia tidak akan lagi seterbuka dengan kita tentang semua hal. Akan tetapi pemikiran bahwa dia bisa berbicara dengan orang tuanya kapanpun dan tidak akan diabaikan akan selalu tertanam dalam dirinya.

    2. Hindari memotong pembicaraan. Ketika Anda bersedia mendengarkan, dengarkan dengan tuntas. Hindari kebiasaan memotong pembicaraan si anak, bahkan ketika Anda merasa ceritanya bertele-tele. Terkadang bercerita panjang lebar adalah kesempatan si anak untuk mengekspresikan dirinya secara tuntas. Dan dia pun akan puas dan merasa dihargai. Dan cara ini akan membuat orang tua lebih memahami pola pikir anak.

    3. Murahlah dengan pujian. Sesekali memberi pujian yang tulus akan membuat si anak lebih merasa dihargai. Bahkan untuk hal-hal yang sederhana yang dia lakukan. Hindarilah memberi pujian yang berlebihan.

    4. Perhatikan bahasa tubuh. Komunikasi bisa disebut baik bila orang tua dan anak dapat melakukan secara verbal maupun non verbal. Coba Anda bayangkan jika Anda sedang berbicara dengan seseorang, tetapi orang tersebut sibuk melakukan sesuatu yang membuatnya bahkan tidak melihat ke arah Anda sama sekali. Pasti itu menjengkelkan. Nah, hal yang sama juga terjadi pada anak-anak kita. Pastikan sesibuk apa pun Anda masih memberikan perhatian pada apa yang dia bicarakan. Semisal sesekali melihat kepadanya, dengan senyuman dan sentuhan agar anak merasa dihargai dan didengarkan.

    5. Perhatikan intonasi. Perhatikan intonasi suara saat berbicara. Hindari memakai nada tinggi yang menyiratkan kemarahan. Lebih baik berbicara dengan lembut dan santun kepada anak. Ini untuk menghindarkan anak dari ketakutan berbicara dengan orang tuanya.

    6. Gaya bahasa. Perhatikan gaya bahasa ketika berbicara dengan si anak. Sesuaikan gaya bahasa dengan taraf usia. Adalah berbeda ketika kita berbicara dengan anak kita yang masih berusia 7 tahun dengan yang berusia 17 tahun.

    7. Tidak ada batasan waktu. Komunikasi dalam keluarga dapat dilakukan kapan saja. Tidak ada batasan waktu tetap. Tidak ada jadwal rutin. Itu bisa dilakukan kapanpun. Karena pada dasarnya yang dibutuhkan adalah kesediaan untuk ada dan bersama-sama di saat pihak lain membutuhkan.

  • Advertisement
  • Komunikasi yang baik sangat dibutuhkan sekali dalam hubungan antara orang tua dan anak. Ini adalah kunci utama untuk membangun kedekatan dan ikatan yang kuat. Komunikasi yang baik akan membuat anak menjadi terbuka, tidak suka berbohong, lebih percaya diri dalam mengungkapkan pendapatnya.

Bagikan kepada teman-teman Anda!

It is my sincere desire and hope that my writing will positively influence readers, and help them be better and happier.

Menjadi dekat dengan si buah hati

Komunikasi yang baik sangat dibutuhkan sekali dalam hubungan antara orang tua dan anak. Ini adalah kunci utama untuk membangun kedekatan dan ikatan yang kuat.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr