Membiasakan anak mengantre, Anda mengajarkannya 8 pelajaran berharga ini

Seorang ayah dipanggil pihak sekolah berkaitan dengan kemampuan akademis anaknya dalam Matematika yang menurun. Ia berkata, “Saya tidak khawatir jika anak saya tidak pandai Matematika. Saya justru khawatir jika dia tidak pandai mengantre." Lho?

794 views   |   6 shares
  • Suatu hari, seorang ayah dipanggil pihak sekolah berkaitan dengan kemampuan akademis anaknya dalam mata pelajaran Matematika yang menurun. Sang ayah berkata kepada guru, "Saya tidak khawatir jika anak saya tidak pandai Matematika. Saya justru khawatir jika dia tidak pandai mengantre."

  • Guru tersebut heran, "Kenapa?" Kemudian, si ayah memberikan jawaban:

  • 1. Matematika bisa dipelajari kapan pun. Belajar intensif satu bulan cukup untuk menguasai Matematika. Sementara itu, dibutuhkan waktu lebih dari 12 tahun untuk bisa mengajarkan kebiasaan mengantre kepada seorang anak.

  • 2. Tidak semua anak kelak akan menjadi ahli Matematika. Ada yang ingin menjadi seorang pelukis, musisi, atlet, artis, dan sebagainya.

  • 3. Ketika dewasa, lebih dibutuhkan kemampuan menjaga etika serta moral ketimbang keahlian menghitung.

  • Sang guru kemudian bertanya, "Memang dengan mengajarkan mengantre, anak bisa memahami Matematika?"

  • Ayah tersebut menjawab, "Tentu saja! Banyak pelajaran yang berkaitan dengan Matematika saat seorang anak belajar kebiasaan mengantre, seperti:

  • 1. Melatih menajemen waktu yang baik. Karena itu, jika urusan ingin cepat selesai, harus datang lebih awal agar memiliki kesempatan berdiri di bagian paling depan.

  • 2. Melatih kesabaran, sama seperti ketika mempelajari rumus-rumus Matematika yang tidak bisa dipahami dalam waktu yang singkat. Selain itu, kadang ada saja gangguan tak terduga yang membuat proses mengantre lebih lama, seperti mati listrik, jumlah orang yang terlalu banyak, gangguan sistem komputer, dan sebagainya.

  • 3. Belajar keteraturan karena dalam mengantre anak-anak diajarkan untuk tidak saling serobot, tapi harus bersedia menunggu giliran.

  • 4. Menjadi kreatif untuk mengisi waktu saat mengantre agar tidak bosan. Di beberapa negara maju, orangtua sudah biasa membawakan anak-anaknya berbagai macam kertas gambar atau kertas lipat untuk mengatasi kebosanan.

  • 5. Belajar mengenai tata krama dan kemampuan bersosialisasi dengan orang lain, yang tidak mungkin bisa didapatkan dari Matematika.

  • 6. Belajar hukum sebab dan akibat. Contoh, ketika terlambat dan mendapat urutan paling belakang, seorang anak harus bisa menerima konsekuensinya karena datang terlalu siang.

  • 7. Mengantre juga bisa melatih anak bekerja sama dengan orang yang baru dikenal. Sebagai contoh, ketika harus ke kamar mandi, maka mau tidak mau dia harus meminta bantuan orang lain untuk menjaga antreannya.

  • 8. Belajar arti kejujuran, tidak hanya pada diri sendiri tapi juga kepada orang lain. Mengantre mengajarkan anak untuk tidak berani bertindak licik dengan mengambil hak orang lain, dan menjauhkannya dari jiwa seorang koruptor.

  • Advertisement
  • Dari kisah di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa mendidik anak untuk memiliki budi pekerti itu lebih penting ketimbang kemampuan dalam bidang akademis. Akademis juga penting, tapi jauh lebih penting jika seseorang memiliki moral yang baik supaya ketika dewasa nanti dia dapat menjadi manusia yang berguna, tidak hanya bagi diri sendiri tapi juga bagi sesamanya.

1 menit saja untuk membagikan artikel ini..

Saya seorang guide paruh waktu di Bali, anak kedua dari 5 bersaudara. Saya sangat menyukai alam dan bertemu dengan banyak orang dari berbagai negara.

Membiasakan anak mengantre, Anda mengajarkannya 8 pelajaran berharga ini

Seorang ayah dipanggil pihak sekolah berkaitan dengan kemampuan akademis anaknya dalam Matematika yang menurun. Ia berkata, “Saya tidak khawatir jika anak saya tidak pandai Matematika. Saya justru khawatir jika dia tidak pandai mengantre." Lho?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr