Stop marah-marah!

Tidak satu pun dari kita suka dimarahi dan diberi tahu sesuatu dengan nada tinggi. Begitu juga anak-anak. Mereka tidak akan menurut, malah menarik diri. Namun kadang kondisi memang membuat tidak sabar. Lalu bagaimana?

3,858 views   |   12 shares
  • "Mendidik adalah membantu anak berproses menjadi dewasa. Jika kita masih suka marah-marah, dewasakah itu?" –Angga Setyawan, @anakjugamanusia.

  • Kalimat sederhana yang amat menohok di hati, ya? Kadang sebagai orangtua, kita kerap tidak sabar dan memarahi anak. Padahal marah tidak efektif untuk menyampaikan pesan, bahkan membuat anak menjadi semakin berjarak dengan kita.

  • Sulit sekali memang menahan diri marah. Tapi sebenarnya buat apa kita sampai menaikkan volume suara? "Karena merasa tidak didengar oleh anak," ujar Eileen Kennedy-Moore, PhD, penulis buku Smart Parenting for Smart Kids.

  • Bisa jadi benar. Tetapi, semakin kita menaikkan volume suara, makin anak tidak mendengarkan yang kita sampaikan. Apalagi kata 'nakal' dan 'awas' yang melabeli dan mengancam anak tergolong sebagai tindak kekerasan emosional pada anak. Murray Straus, sosiolog dari University of New Hampshire, menambahkan termasuk di dalamnya adalah memberi julukan, mengolok-olok, memaksa, mengancam, memaki, berteriak, juga membentak-bentak.

  • Perilaku agresif yang tergolong serangan psikologis itu sangat jarang disadari para orangtua karena dianggap bagian dari mendidik dan mendisiplinkan anak di rumah. Apalagi dampaknya pun tak terlihat langsung. Tapi percayalah, efek psikologis dari tindakan itu sangat laten dan bersifat jangka panjang.

  • Salah satu dampak psikologis yang tampak, umumnya, anak menjadi tak percaya diri, tidak adaptif, berdaya juang rendah, dan apatis. Tak jarang ada yang tampak sangat agresif di luar, sementara di rumah ia pendiam. Bukan tak mungkin lama-lama ia akan memberontak.

  • Hal ini menjadi bahasan utama dalam buku How to Talk So Kids will Listen and Listen So Kids will Talk yang ditulis oleh Adele Faber dan Elaine Mazlish. Mendengarkan dan memahami perasaan anak adalah kunci dasar menghindari terjadinya kemarahan, diganti dengan diskusi yang nyaman bagi kedua pihak. Mengekspresikan kemarahan boleh saja, namun dengan cara yang tidak menyakiti.

  • Ada baiknya juga dengan berusaha mengubah perilaku orangtua. Misalnya, Anda bisa melakukan perencanaan matang untuk persiapan anak-anak ke sekolah, seperti menyiapkan baju dan bawaan sejak malam, lalu bangun lebih pagi dan bersiap terlebih dahulu sebelum meminta anak bersiap diri ke sekolah. Bagaimana caranya ketika Anda memakai maskara sementara di saat yang sama menyuruh anak juga mengurusi dirinya sendiri?

  • Tidak berekspektasi terlalu tinggi juga bisa menghindari kemarahan. Sebab kedisiplinan setiap anak memang butuh proses. Maka, saat Anda meminta anak untuk membersihkan perlengkapan mainnya, dan semua berjalan lancar di minggu pertama, namun kemudian semua berantakan lagi di minggu berikutnya. Jangan buru-buru marah, bisa jadi karena dia masih kecil, bukannya abai atau tidak mau mendengarkan Anda.

  • Advertisement
  • Namun hal yang paling penting untuk diingat, Anda adalah contoh. Ketika Anda berteriak-teriak, anak akan merekamnya dengan baik. Dan bayangkan, suatu saat mereka akan melakukan hal yang sama di sekolah. Berteriak-teriak, mengeluarkan semua kata-kata yang Anda pernah keluarkan. Jadi, coba bayangkan, Anda menyampaikan kemarahan dengan lembut, dan suatu saat dia akan berlaku sama.

  • Sesaat Anda akan berteriak sekencang-kencangnya, ingatlah, peran sebagai orangtua. Marah-marah tak keruan tidak akan membuat anak menghormati Anda.

Klik pilihan berbagi di bawah ini

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Stop marah-marah!

Tidak satu pun dari kita suka dimarahi dan diberi tahu sesuatu dengan nada tinggi. Begitu juga anak-anak. Mereka tidak akan menurut, malah menarik diri. Namun kadang kondisi memang membuat tidak sabar. Lalu bagaimana?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr