Bagaimana Saya Belajar untuk Tidak Mengabaikan Tuhan

Percaya bahwa Tuhan itu penuh kasih, saya harus berhenti untuk mengabaikan Dia.

3,035 views   |   1 shares
  • Pernahkah Anda memiliki seseorang yang benar-benar menyebalkan? Anda merasa dia berpikir dia tahu banyak hal daripada Anda, dan kecurigaan yang dikonfirmasi ketika dai berkata, “Kamu tahu, aku selalu merasa lebih baik untuk melakukannya dengan cara ini.”

  • Pernahkah Anda memiliki seorang atasan yang memberi Anda tugas dan kemudian memeriksa Anda setiap langkah, membuat Anda menyelesaikan seperti yang mereka inginkan.

  • Saya memiliki seorang majikan yang luar biasa. Dia memperlakukan kami dengan baik, kemudian, memberi tugas semua karyawannya untuk melakukan pekerjaan. Managemen yang sangat brilian yang pernah saya lihat. Dia hanya memberi tugas. Mereka mengerjakannya. Ada sebuah kepercayaan yang tak terucapkan dengannya. Jika saya bilang saya perlu untuk menjemput seorang anak di sekolah karena dia ketinggalan busnya, dia tersenyum dan menerimanya. Karena rasa percayanya terhadap karyawan-karyawannya, tidak seorang pun dari kami mampu menemukan sesuatu di benak kami untuk mengkhianatinya, berbohong kepadanya, atau mencuri layaknya karyawan yang tidak puas.

  • Suatu hari, saya mendapati diri saya membandingkan dua gaya berbeda yang berkaitan dengan kehidupan saya, keyakinan saya, dan komunikasi saya dengan Tuhan. Kebenaran yang pahit adalah ketika saya mencoba melanggar kehendak Tuhan. Masalah dengan strategi itu adalah bahwa Tuhan mampu melihat segalanya. Namun, kita memiliki pandangan yang rabun mengenai kehidupan kita sendiri bahwa kita hanya melihat apa yang benar di depan hidung kita atau pada saat ini. Kita tidak melihat gambaran besar seperti yang Dia lakukan.

  • Saya menyadari bahwa saya perlu untuk menjadi seperti atasan kami yang luar biasa dan belajar untuk mempercayai.

  • Berikut adalah bagaimana saya memulainya:

  • Yang saya perlukan adalah kepercayaan di kehidupan yang saya telah diberi

  • Saya telah belajar, kemudian belajar untuk mempercayai. Saya memerlukannya agar supaya bisa kembali kepada Tuhan. Walaupun ini tidak selalu kehidupan yang saya impikan, ini adalah kehidupan yang saya perlukan. Tuhan mengetahui dengan tidak terbatas lebih baik daripada apa yang terbaik untuk saya. Menerima hal itu memberi saya sukacita, bahkan di saat-saat pencobaan, karena saya tahu pencobaan-pencobaan itu adalah untuk kebaikan saya.

  • Saya tidak bisa mengambil dan memilih ajaran yang mana dari keyakinan saya yang saya harus ikuti

  • Melibatkan diri saya untuk menjalankan keyakinan saya bukanlah masalah, memilih hal mana untuk diyakini dan mana yang tidak. Itu satu paket. Yang saya perlukan adalah untuk membuktikan diri. Beberapa ajaran tidak mudah untuk diikuti tapi semuanya demi kebaikan saya.

  • Advertisement
  • Saya harus berhenti mengatakan kepada Tuhan apa yang harus dilakukan untuk saya

  • Percaya bahwa Tuhan itu penuh kasih, saya harus berhenti untuk mengabaikan Dia. Itu adalah salah satu hal bagi saya untuk meminta hasrat luhur hati saya. Itu cukup aneh untuk membuat tuntutan yang saya pikir terbaik untuk saya, kemudian mempertanyakan jawaban-Nya dan memberitahu-Nya, “Tuhan, saya kira saya tahu cara yang terbaik.” Sementara saya percaya bisa diterima untuk meminta penjelasan, saya perlu untuk belajar percaya ketika saya tidak menemukan jalan saya.

  • Saya harus berdoa, sebuah percakapan dua arah

  • Bergegas berdoa dengan daftar keinginan, kemudian segera mengerjakan pekerjaan saya tiap hari tidak membawa manfaat apa-apa bagi saya. Saya perlu menyesuaikan komunikasi saya termasuk lebih bersyukur daripada hanya memohon keinginan saja. Kemudian, tenanglah setelah menyelesaikan doa. Bagaimana mungkin Dia memberi saya pencerahan jika begitu banyaknya keributan di kepala saya.

  • Sewaktu saya belajar dan menerapkan gaya “manajemen” ini, saya menemukan sukacita dalam hubungan saya serta peningkatan dalam iman saya. Saya sedang belajar untuk bersantai dan menerima pencobaan yang datang kepada saya. Daripada bertanya, “Mengapa saya?” saya bertanya, “Apa yang bisa saya pelajari dari petualangan yang hebat ini?”

  • Diterjemahkan dan diadaptasi oleh Agung Candra Setiawan dari artikel asli “How I’m learning not to micromanage God” karya Rebecca Rickman.

Bagikan hasil Anda kepada teman..

Becky Lyn adalah orangtua tunggal, ia menghabiskan waktunya sebagai penulis profesional.

Situs: http://www.beckytheauthor.weebly.com

Bagaimana Saya Belajar untuk Tidak Mengabaikan Tuhan

Percaya bahwa Tuhan itu penuh kasih, saya harus berhenti untuk mengabaikan Dia.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr