Balita stres karena calistung?

Masih banyak pendapat yang menekankan bahwa prestasi seorang anak adalah pencapaian yang didapatkannya dari kegiatan calistung. Maka diajarkan sedari dini. Padahal ternyata hal ini dapat mengakibatkan stres. Bagaimana solusinya?

2,361 views   |   8 shares
  • Belakangan ini ada begitu banyak kasus anak balita yang mengalami stres. Wah, padahal stres ini kan sesuatu yang berat, mengapa bisa begitu? salah satunya adalah karena dipaksa untuk bisa membaca, menulis dan menghitung sebelum usia SD. Sebab ternyata organ sensorik dan motorik anak baru mencapai kematangan fungsinya di usia 6-7 tahun. sehingga pada saat itulah anak baru siap menulis dan membaca.

  • Menurut Ratih Zulhaqqi, M.Psi, psikolog anak dari klinik Tumbuh Kembang Kancil, anak usia prasekolah bukan tidak bisa diajadi calistung. Namun dengan memaksakan anak untuk mempelajari materi yang seharusnya didapat di bangku SD, maka akan ada hal lain yang terabaikan. Misalnya, karena kurang bermain maka kemampuan bersosialisasinya kurang baik.

  • Efeknya akan semakin terasa pada anak dengan tingkat kecerdasan rata-rata, atau bahkan di bawah rata-rata. Anak-anak dengan kondisi demikian akan lebih merasa terbebani, kemudian stres, jika dipaksa menguasai materi pelajaran SD sebelum waktunya. Hal ini juga diamini oleh Novita Tandy, penulis buku Happy Parenting. Menurutnya masyarakat Asia pada umumnya memiliki cara pandang yang salah tentang pendidikan dan kesuksesan hidup. Kesalahan cara pandang ini berdampak pada kesalahan proses pendidikan.

  • Rata-rata orangtua menganggaap tolak ukur kesuksesan adalah memiliki banyak materi. Karena itu banyaknya kekayaan lebih dihargai daripada cara memperoleh kekayaan tersebut. Maka, pada akhirnya pendidikan didominasi oleh hafalan, bukan pengertian dan anak-anak dididik menjadi orang yang tahu sedikit tentang banyak hal, namun tidak menguasai apapun. Inilah yang menyebabkan kegiatan eksplorasi untuk memenuhi rasa penasaran dan menumbuhkan keberanian anak, di masa balita, kurang mendapat perhatian.

  • Paradigma ini kemudian didukung oleh kurikulum. Menurut Ketua Komisi Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait, anak-anak berusia balita yang mengikuti pendidikan anak usia dini (PAUD) seharusnya tidak diberikan pendidikan baca tulis dan hitung (calistung). "Kurikulum yang ada dibuat PAUD itu seharusnya didesain lebih pada sosialisasi pendidikan kepada anak, seperti berkenalan dengan temannya, bagaimana berinteraksi dan sosialisasi; bukan calistung. Berhitung itu seharusnya dimulai dari kelas I SD," ungkapnya.

  • Dengan diajarkannya calistung pada PAUD ini, ia menilai anak-anak menjadi stres. Demikian pula dengan orangtua dan gurunya yang ikut stres. "Anak kita yang PAUD tidak bisa baca tulis, orangtuanya stres karena tidak bisa memasukkannya ke SD. Begitu seterusnya karena tidak sesuai grade. Ini dikarenakan sistem kurikulumnya memaksa anak harus bisa baca tulis," paparnya.

  • Advertisement
  • Sayangnya, kita tidak selalu bisa mengubah keadaan yang sudah terlanjur ada di dalam sistem pendidikan nasional. Sungguh, memerlukan proses panjang dan berbelit-belit untuk melakukannya. Apalagi Indonesia ini luas sekali. Namun akan selalu ada hal yang bisa dilakukan, meski amat kecil. Mulailah dari diri sendiri, dengan anak-anak kita sendiri.

  • Menurut psikolog Ratih Ibrahim, seharusnya di setiap keluarga terbangun sebuah kesadaran bahwa pendidikan bukan hanya dari sekolah. Alternatif pendidikan itu bisa disediakan oleh orangtua. "Sebetulnya, paling penting, itu disediakan oleh orangtua karena mereka kenal dengan baik psikologis perkembangan anaknya," ujar Ratih yang juga Direktur Personal Growth.

  • Dengan demikian, kata Ratih, kalau orangtua percaya diri akan anaknya dan gaya mendidik mereka, maka anak akan menemukan potensi mereka. "Ini yang tidak bisa diukur dengan nilai," katanya. Orangtua lebih mengerti keadaan psikologis anak, sehingga dapat mengajari anak belajar dengan baik. Namun karena tuntutan kehidupan, banyak orangtua yang tidak dapat mendampingi anaknya belajar, sehingga hanya menyerahkan pada orang lain terutama sekolah. Ada juga orangtua yang tidak peduli dengan pendidikan anaknya, yang penting pergi ke sekolah hasilnya tidak mau tahu.

  • Hal ini juga dituliskan oleh Christine Gros Loh dalam bukunya Parenting Without Borders. Pendidikan mendasar dan pencapaian merupakan hal penting, namun keberadaan dan dukungan keluarga jauh lebih penting. Jika tidak ada pilihan sekolah yang memungkinkan anak tidak diajarkan calistung sejak dini, maka dukunglah mereka saat enggan mempelajarinya. Tidak perlu dipaksa karena orangtua merasa malu dengan pencapaian buruknya di sekolah.

  • Berikan saja ia kepercayaan dan rasa memiliki kepada keluarganya. Menurut Christine, hal ini lambat laun akan memupuk rasa tanggung jawab kepada keluarga. Hal ini merupakan motivasi yang amat baik bagi pencapaian setiap anak. Jika saatnya tepat nanti, ia pasti mampu membaca dan menulis serta berhitung.

Bagikan kepada teman-teman Anda!

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Balita stres karena calistung?

Masih banyak pendapat yang menekankan bahwa prestasi seorang anak adalah pencapaian yang didapatkannya dari kegiatan calistung. Maka diajarkan sedari dini. Padahal ternyata hal ini dapat mengakibatkan stres. Bagaimana solusinya?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr