Konsultasi dengan Psikolog? jangan takut!

Masih banyak orang yang mengerutkan kening jika mendengar kisah seseorang datang dan mengonsultasikan diri atau anaknya ke psikolog. Kebanyakan dianggap memiliki kelainan dan masalah berat. Padahal tidak demikian.

857 views   |   1 shares
  • "Memang anakmu kenapa, kok sampai datang ke psikolog?" adalah pertanyaan yang paling sering saya dengar jika bercerita, dan dimulai dengan kalimat "Kata psikolog anakku sih...". Mungkin kerap timbul rasa kesal di hati mendengarnya, sebab pernyataan tersebut biasanya dibarengi dengan wajah mencemooh atau ketakutan. Mungkin kebanyakan dari masyarakat kita masih menganggap psikolog adalah tempatnya anak bermasalah secara mental.

  • Padahal sebetulnya, tidak ada masalah dengan anak saya. Saya datang ke psikolog karena ingin memiliki seseorang yang bisa "dicurhati" lalu memberi solusi, memberikan cara atau proses menuju hasil akhir yang baik. Sebab perkembangan setiap anak berbeda, membaca buku mengenai pengasuhan atau mengenal setiap fase pertumbuhan, menurut saya tidak pernah cukup. Pasalnya selalu ada kejadian yang tidak bisa terjawab di setiap buku atau artikel. Untuk hal-hal seperti ini, psikolog anak adalah orang yang paling tepat untuk ditanya, bukan?

  • Memang berada dalam grup bersama ibu-ibu lain, untuk saling berbagi hal-hal yang terjadi dengan perkembangan anak, juga baik. sayangnya tidak jarang pendapat yang diberikan sebetulnya kurang cocok untuk diterapkan pada setiap anak. Psikolog anak dan keluarga, Anna Surti Ariani menyarankan para ibu untuk selalu mencari informasi-informasi bermutu dari segala sumber jika dirasa belum mampu membentuk karakter anak sendiri. Karena dengan pengetahuan ibu yang luas, akan siap menghadapi sikap anak yang masih butuh banyak bimbingan dalam menghadapi kehidupannya.

  • Apalagi dengan mudahnya akses informasi belakangan ini, segala hal bisa dicari dengan rajin membaca berbagai artikel di internet, menghadiri berbagai seminar dan workshop terkait tumbuh kembang anak, juga membaca berbagai buku. Tetapi tetap saja, datang dan berkonsultasi secara spesifik mengenai tumbuh kembang anak sendiri, tentu akan membuahkan hasil yang lebih jelas dan rinci sesuai dengan kebutuhan anak tersebut. Dengan datang ke psikolog, masalah yang terjadi atau pertanyaan terkait anak, akan dikotak-kotakkan agar lebih sistematis. Kemudian dibahas satu persatu. Bukankah hal ini amat membantu?

  • Pergi ke psikolog anak, merupakan tindakan Hyper Parenting? Benarkah? Untuk menjawabnya, mari kenali dulu istilah yang juga sering disebut intensive parenting atau hyper-vigilance.Hal ini biasanya mengacu pada pola asuh anak, ketika orangtua memiliki derajat kontrol tinggi terhadap anak. Orangtua berusaha keras untuk mencermati apapun yang dilakukan oleh anak dan segala hal yang diberikan kepada anak, dalam usaha untuk mengantisipasi berbagai permasalahan yang mungkin bisa terjadi sekarang atau yang akan datang.

  • Advertisement
  • Alasan utama orangtua melakukan hal tersebut tentunya didasari oleh rasa sayang terhadap anak dan keinginan agar sang anak, tumbuh menjadi generasi yang lebih baik, terutama dibandingkan dengan keadaan dirinya dahulu. Hanya saja, orangtua macam ini memiliki tingkat kecemasan yang terlalu tinggi, sehingga cenderung mengejar hal tersebut dengan alasan emosional.

  • Selain itu, hyper-parenting terjadi karena orangtua merasa tidak puas dengan pola asuh yang mereka dapatkan semasa kecil. Bisa jadi mereka tidak puas dengan karier atau kehidupan mereka secara keseluruhan. Akibatnya, semua obsesi ditambah ketidakberuntungan itu dibebankan kepada anak. Orangtua berharap anak-anak bisa mendapatkan apa yang mereka tidak dapatkan. Padahal belum tentu hal ini sesuai dengan kebutuhan, keinginan, minat bahkan bakat anak.

  • Hyper Parenting adalah masalah, sementara datang dan melakukan konsultasi dengan psikolog merupakan tindakan menyelesaikan atau mencegah masalah. Ayah Edi, pakar Multiple Intelligences dan Holistic Learning, sangat menganjurkan orangtua Indonesia untuk terlibat langsung dalam perkembangan dan pertumbuhan anak. Hal ini dinilai dapat menunjang pengetahuan orangtua untuk menjadi bekal dalam menagani permasalahan-permasalahan yang kadang kala terjadi dalam masa proses perkembangan anak. Sebab, menurutnya, dari berbagai kasus ternyata masih banyak orangtua yang masih awam dengan berbagai permasalahan yang dihadapi si buah hati.

  • Maka mulailah memiliki pandangan baru mengenai berkunjung ke psikolog. Perannya sama penting dengan dokter anak, dan bisa dikunjungi kapan saja sesuai kebutuhan. Namun perlu diingat agar selektif mencari psikolog anak yang tepat dan bekerja dengan baik. Sama persis dengan mencari dokter anak, pilihlah sesuai kebutuhan dan pastikan izin prakteknya. Jangan lupa juga mencari tahu tarifnya, agar tidak terkejut usai pertemuan.

  • Sebab menjadi ibu, sama dengan menjadi manusia dengan seribu pertanyaan setiap harinya. Mengalami kegalauan dan kecemasan yang terus meningkat. Menjadi ibu juga merupakan proses belajar yang harus dilakukan dengan konsisten. Tidak perlu membatasi diri untuk belajar dari manapun, hanya karena takut dicemooh orang dan dianggap punya anak dengan masalah kejiwaan karena datang ke psikolog.

Anda suka artikel ini? Bagikan dengan teman-teman

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Konsultasi dengan Psikolog? jangan takut!

Masih banyak orang yang mengerutkan kening jika mendengar kisah seseorang datang dan mengonsultasikan diri atau anaknya ke psikolog. Kebanyakan dianggap memiliki kelainan dan masalah berat. Padahal tidak demikian.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr