Nasib anak-anak korban perundungan di Bangladesh

Banyak anak kecil di Bangladesh yang disiksa, bahkan sampai mati, hanya karena satu kesalahan kecil. Bagaimana dengan nasib anak-anak di Indonesia?

1,050 views   |   shares
  • Banyak anak kecil di Bangladesh yang mengalami kekerasan hanya karena satu kesalahan kecil. Seperti yang terjadi pada Rakib (12). Hanya karena kesalahan sepele, ia mengalami kekerasan sampai nyawanya melayang. Dan Rakib hanya salah satu kasus yang terungkap di surat kabar dari sekian banyak anak di Bangladesh yang menjadi korban.

  • Publik menanggapi pelanggaran hak asasi manusia ini dengan demonstrasi besar-besaran di seluruh negeri. Mereka menuntut keadilan. Para pembela anak mengatakan bahwa kekerasan yang dibiarkan selama puluhan tahun mengakibatkan timbulnya tindak kejahatan ini. Bahkan sampai hari ini tidak banyak yang dilakukan untuk melindungi hak asasi anak di negeri yang sedang berkembang itu.

  • Menurut sebuah forum yang membela hak anak-anak, 292 anak Bangladesh tewas terbunuh di tahun 2014. Selain itu, jutaan anak di Bangladesh diperas tenaganya, dianggap sebagai sumber tenaga murah. "Banyak anak dipekerjakan sebagai pekerja seks komersial, penjaja narkoba, pegawai pabrik tidak resmi, bahkan dimanfaatkan untuk demonstrasi politik dan memanggul senjata," kata Shahana Siddiqui, seorang pembela hak anak yang berpusat di Bangladesh. "Kesalahan kita adalah tidak menganggap anak-anak yang malang itu sebagai anak-anak kecil yang membutuhkan pemeliharaan dan perlindungan."

  • Bangladesh adalah sebuah negara kecil yang memperoleh kemerdekaan dari Pakistan pada tahun 1971. Selama ini negara tersebut sudah mengambil langkah besar dalam beberapa masalah sosial: usia rata-rata penduduknya lebih panjang, ukuran keluarga makin kecil, dua perusahaan lokal raksasa telah membantu banyak keluarga menghindari kemiskinan. Tetapi para ahli menyatakan walau Bangladesh menyelenggarakan Konvensi Hak Anak-anak di tahun 1990, masih banyak yang harus diperbaiki.

  • Kebanyakan keluarga miskin menganggap anak sebagai mulut yang harus diberi makan. Kehidupan anak gadis lebih berat lagi - banyak yang dinikahkan pada usia muda atau dibujuk untuk dijadikan pekerja seks. Bangladesh tidak menganggap anak pekerja sebagai anak-anak melainkan sebagai orang dewasa. "Banyak anak di bawah perlindungan kita adalah anak jalanan yang menderita penganiayaan dari polisi, sesama anak jalanan, dan dari semua orang," ujar Michael McGrath Direktur Selamatkan Anak-anak di Bangladesh dalam sebuah wawancara dengan koran Daily Star.

  • "Kita tidak bisa membiarkan orang-orang berdiam diri selagi anak-anak disiksa, bahkan dibunuh," kata Siddiqui. "Sebuah negara dianggap maju bukan hanya karena pendapatan per kepala, tetapi juga karena adanya jaringan keamanan sosial bagi anggota masyarakatnya yang lemah."

  • Advertisement
  • Bagaimana dengan Indonesia sendiri? Bersyukur bahwa di negara kita sudah sejak lama dibentuk Komisi Nasional Perlindungan Anak untuk mencegah terjadinya tindakan semena-mena terhadap anak-anak, meskipun bukan berarti kasus kekerasan terhadap anak tidak ada sama sekali. Kita sebagai orang dewasa sudah seharusnya lebih peka dalam melindungi anak-anak, karena mereka lemah dan tidak mampu melawan. Indonesia memiliki sumber daya alam berlimpah, tidak ada alasan mengapa anak-anak kita harus terlantar.

Bagikan hasil Anda kepada teman..

Irma Shalimar graduated from BYU-Idaho in 2004 majoring in English Literature and minoring in Family Science and Spanish. She met her husband because of Superman and has 2 grown-up kids. You could know her better through

Situs: https://joojoo.com

Nasib anak-anak korban perundungan di Bangladesh

Banyak anak kecil di Bangladesh yang disiksa, bahkan sampai mati, hanya karena satu kesalahan kecil. Bagaimana dengan nasib anak-anak di Indonesia?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr