Mengajar anak-anak tentang kelestarian lingkungan

Alam tidak kenal ampun, sekali kita merusaknya, meskipun dengan tidak sengaja, maka kita akan merasakan akibatnya.

716 views   |   shares
  • Baru-baru ini penduduk di sepanjang sungai Animas, negara bagian Colorado dan New Mexico dikejutkan dengan air sungai yang berwarna oranye kekuningan. Sumber kontaminasi air sungai tersebut adalah tambang emas (Golden King Mine) yang sudah mati sejak tahun 1923. Karena sumber pencemaran ini adalah air limbah buang tambang emas, maka air sungai tersebut dicemari oleh metal berat, seperti air raksa, timah, zat besi, arsenikum, asbestos, cadmium, tembaga, sianida, dan sulfur dan lain-lain.

  • Bahan-bahan tersebut kemudian mengendap di dasar sungai sebagai sedimen. Karena jumlah yang sangat besar, maka tidak ada yang dapat dilakukan untuk membersihkannya, kecuali waktu, mungkin dalam waktu ratusan tahun. Itulah bahayanya kontaminasi lingkungan.

  • Dalam kehidupan kita sehari-hari, sebagai makhluk hidup, kita selalu menyisakan limbah dan sampah. Limbah tersebut dapat berupa limbah biologi yang akan segera larut ke dalam tanah dan air, seperti daun, buah-buahan, kayu, dan yang sejenisnya. Di samping yang didaur ulang oleh alam, ada limbah dan sampah yang tidak larut ke dalam tanah dan air, misalnya limbah plastik yang terbuat dari polymer atau polyethylene, yaitu bahan kimia buatan manusia dari limbah buang penyulingan minyak bumi.

  • Pembusukan secara alami (dekomposisasi dan degradasi alami) ini terjadi karena bakteria. Misalnya, kertas koran membutuhkan 5 hingga 6 bulan untuk berbaur dengan alam kembali. Kulit pisang hanya membutuhkan beberapa hari. Sedangkan limbah plastik, karena tidak dapat dimakan oleh bakteria, maka tidak pernah terjadi dekomposisasi alami, kecuali oleh sinar UV matahari. Meskipun limbah plastik pecah menjadi partikel kecil setelah terekspos kepada UV matahari, partikel ini tidak pernah kembali berbaur dengan alam. Itulah sebabnya, orang memperkirakan bahwa limbah plastik akan kembali ke dalam bentuk alamnya dalam waktu yang lama sekali seperti 500 hingga 1000 tahun.

  • Lihat saja di sekeliling kita berapa banyak bahan plastik yang kita gunakan setiap hari. Kita belanja dari pasar tradisional maupun modern, selalu membawa pulang kantung plastik. Kita minum dari botol plastik. Gelas, piring, mangkuk dan beberapa perangkat dapur dan hidup sehari-hari kebanyakan terbuat dari plastik. Daftar plastik tidak ada habisnya.

  • Tanpa kita sadari ketika kita membuang barang-barang yang terbuat dari plastik ini, maka kebanyakan sampah dan limbah ini kembali ke tanah, seperti tempat pembuangan sampah (landfill), dan kadang-kadang secara ceroboh, kita lempar saja ke dalam selokan, sehingga berakhir pada muara-muara sungai atau kanal kota.

  • Advertisement
  • Pada akhir perjalanan sampah tersebut kemungkinan besar kembali ke dalam air tanah dan mengotori sumber air yang makin langka. Kalau sampah atau limbah tersebut sanggup didaur ulang oleh alam, maka sampah dan limbah tersebut tidak berbahaya, tetapi bila limbah tersebut mengandung unsur kimia dan metal berat, maka sumber air yang langka tersebut tidak dapat digunakan lagi, bahkan untuk mencuci pakaian, apalagi untuk mandi dan diminum.

  • Karena kemajuan teknologi maka sekarang kita dapat menikmati hidup lebih praktis. Namun demikian ongkos yang harus dibayar, kadang-kadang juga mahal. Oleh karena itu, kita harus belajar dan mengajar generasi kita berikutnya beberapa hal berikut ini agar kita dapat mengimbangi kemajuan teknologi dengan pengetahuan sehingga tidak merusak lingkungan hidup satu-satunya tempat kita tinggal.

    • Membuang sampah pada tempatnya. Memang hujan tropis biasanya menyebabkan banjir, karena curah hujan yang sangat tinggi, tetapi, bila curah hujan yang kelewat tinggi tersebut ditambah dengan sampah-sampah yang menghambat arus air ke laut, maka banjir di kota-kota akan semakin parah.

    • Sampah yang dapat didaur ulang secara alami (biodegradable) dipisahkan dengan sampah daur ulang (recycling). Meskipun di Indonesia banyak pemulung yang mencari nafkah dari mengumpulkan sampah-sampah yang dapat didaur ulang, alangkah baiknya bila generasi kita juga mulai belajar memisahkannya, sehingga sampah-sampah non biologi tersebut tidak terbawa ke dalam landfill secara tidak sengaja.

    • Mengajar anak-anak pengetahuan dasar dan umum mengenai sampah yang tidak dapat didaur ulang secara alami dan bahayanya kontaminasi lingkungan (polusi).

    • Bahan-bahan kimia yang tak terpakai, seperti cat, minyak tanah, minyak (oli) bekas kendaraan, minyak goreng bekas, dan yang lain sejenisnya, jangan dibuang ke dalam selokan atau tanah. Segala cairan yang meresap ke dalam tanah akan berakhir di sumber air bawah tanah. Memang lapisan tanah, pasir, dan kerikil merupakan saringan alami, tetapi, bila jumlah limbah cairan yang kita buang terlalu banyak dan terlalu cepat, maka kemampuan alam untuk menyaringnya juga tidak akan mampu lagi.

    • Mulai semua pelajaran melestarikan lingkungan dari rumah dan di antara setiap anggota keluarga. Bila setiap keluarga menjaga lingkungannya, maka dunia akan bersih.

1 menit saja untuk membagikan artikel ini..

Sebagai penulis, Effian sangat terinspirasi dengan karya-karya John Grisham, Michael Creighton, David Baldacci, James Patterson dan Dan Brown. Kegiatan favoritnya selain menulis adalah memasak dan melukis.

Mengajar anak-anak tentang kelestarian lingkungan

Alam tidak kenal ampun, sekali kita merusaknya, meskipun dengan tidak sengaja, maka kita akan merasakan akibatnya.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr