Jangan coba menyenangkan setiap orang

Selalu memperhatikan perasaan orang lain dan segera turun tangan membantu adalah perilaku yang terpuji. Tetapi, bila menyangkut ‘kesehatan’ seseorang, perilaku semacam ini kemungkinan dapat berdampak negatif bagi dirinya.

3,061 views   |   5 shares
  • Hari Jumat lalu (21/08/2015) 3 turis yang sedang naik kereta api cepat di kota Paris tiba-tiba mendengar suara letusan senjata jenis AK-47. Tanpa pikir panjang, salah satu di antara mereka menerjang penembak tersebut dan bergulat dengannya, kemudian dengan bantuan dua orang lainnya, maka pembunuhan masal yang direncanakan dapat digagalkan.

  • Perbuatan heroik mereka kemudian muncul di seluruh layar TV di dunia dan mereka pun dihadiahi bintang jasa oleh Presiden Perancis. Banyak pemirsa merasa alangkah hebatnya perbuatan tiga orang tersebut. Mungkin ada yang berpikir 'seandainya saja saya yang ada di kereta tersebut …"

  • Tentunya perbuatan tiga pahlawan tersebut dalam melakukan aksinya bukan untuk menyenangkan orang lain atau sekadar mengharapkan pujian.

  • Kisah klasik yang menyindir tentang orang-orang yang selalu ingin menyenangkan orang lain dan mengharapkan pujian adalah sebagai berikut:

  • Pada suatu hari seorang bapak dan anak lelakinya pergi ke pasar ternak untuk menjual keledai mereka. Dalam perjalanan ke pasar tersebut, anak lelakinya naik keledai sedangkan bapaknya berjalan kaki sambil menuntun keledainya. Di tengah jalan mereka bertemu dengan seorang pejalan kaki yang berkata, "Waduh, anak tidak tahu diri, masa bapakmu yang sudah tua disuruh jalan sedangkan kamu yang masih muda naik di atas keledai?"

  • Karena menuruti omongan orang tersebut, maka sekarang giliran bapaknya yang naik keledai sedangkan anaknya berjalan kaki sambil menuntun keledainya. Sekali lagi, di tengah jalan ke pasar, orang lain menyaksikan hal tersebut dan bertanya, "Mau ke mana?"

  • Jawab bapak itu, "Ke pasar menjual keledai ini."

  • Orang itu nyeletuk, "Hah, kapan sampai nya di pasar, kalau berjalan kaki seperti itu? Keburu pasar sudah bubar. Naikilah keledai kalian dan paculah ke pasar."

  • Maka, naiklah bapak dan anak lelaki tersebut ke atas keledai mereka dan dipaculah keledai itu ke pasar. Sesampai di pasar, keledai tersebut kelelahan dan tidak seorangpun mau membeli keledai yang sudah setengah mati tersebut.

  • Moral cerita ini adalah "Anda tidak mungkin menyenangkan setiap orang".

  • Di dunia ini ada banyak orang yang selalu menuruti omongan orang lain hanya sekadar untuk menyenangkan orang lain. Selalu memperhatikan perasaan orang lain dan segera turun tangan membantu adalah perilaku yang terpuji. Tetapi, bila menyangkut 'kesehatan' seseorang, perilaku semacam ini kemungkinan dapat berdampak negatif bagi dirinya.

  • Kita selalu diajari agar kita jangan mementingkan diri sendiri dan selalu bersedia 'berkorban' untuk menolong orang lain. Kalau kita memilih untuk 'berkorban' terus menerus tanpa memikirkan kesehatan dan keselamatan diri, salah-salah kita berakhir mengorbankan orang lain yang mungkin sangat dekat dengan kita. Misalnya, dalam membantu orang kesusahan kemudian kita menyerahkan seluruh penghasilan kita, maka keluarga kita akhirnya yang akan kita korbankan. Tentu saja itu tidak sehat dan tidak selamat.

  • Advertisement
  • Perhitungan masih merupakan unsur penting dalam memilih moral untuk tidak mementingkan diri, kecuali kita tidak memiliki pilihan, seperti dalam kasus peristiwa menggagalkan percobaan pembantaian massal dalam kereta api di Paris hari Jumat lalu tersebut.

  • Kalau Anda adalah orang dengan sifat sebagai berikut:

    1. Merasa bersalah bila membiarkan orang lain dalam kesusahan;

    2. Ingin segera turun tangan membantu teman, keluarga, meskipun menyadari bahwa Anda tidak memiliki waktu dan sumber yang dibutuhkan;

    3. Anda takut disebut orang yang mementingkan diri;

    4. Anda takut konfrontasi bila menolak permintaan seseorang;

    5. Hubungan Anda tidak seimbang. Anda lebih banyak kerja daripada rekan Anda;

    6. Anda takut orang lain tidak menyukai Anda lagi, bila Anda berkata 'tidak' kepadanya;

    7. Anda merasa orang lain memanfaatkan kebaikan Anda;

  • Maka Anda harus belajar:

    1. Mengatakan 'tidak' dan tidak takut kehilangan tali persahabatan. Kalaupun mereka meninggalkan Anda, mungkin mereka hanya ingin memanfaatkan kebaikan Anda. Dengan demikian, Anda pun tidak 'butuh' teman yang demikian.

    2. Menghitung waktu, kemampuan dan sumber lain bila sedang diminta untuk membantu. Turun tangan tanpa perhitungan hanya akan berakhir mengecewakan, marasa dimanfaatkan, dan tidak dihargai.

    3. Belajar mengurus diri dan kepentingan keluarga lebih dulu sebelum turun tangan membantu. Bila diri dan kepentingan keluarga terabaikan karena membantu orang lain, maka akhirnya Anda pun tidak akan puas. Pujian dan gratifikasi eksternal tidak bertahan lama, percayalah.

Bantu kami menyebarkan

Sebagai penulis, Effian sangat terinspirasi dengan karya-karya John Grisham, Michael Creighton, David Baldacci, James Patterson dan Dan Brown. Kegiatan favoritnya selain menulis adalah memasak dan melukis.

Jangan coba menyenangkan setiap orang

Selalu memperhatikan perasaan orang lain dan segera turun tangan membantu adalah perilaku yang terpuji. Tetapi, bila menyangkut ‘kesehatan’ seseorang, perilaku semacam ini kemungkinan dapat berdampak negatif bagi dirinya.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr