Mengatasi ketakutan si kecil

Rasa takut adalah sifat bawaan seseorang, sejak lahir. Maka wajar jika anak-anak juga memiliki rasa takut. Namun kadang ketakutan tersebut menjadi kerepotan sendiri bagi orangtua. Jangan khawatir, kenali dengan baik dan atasi dengan lembut.

732 views   |   0 shares
  • Pernah merasa kerepotan karena anak anda tiba-tiba menjadi penakut? Dia yang tadinya berani untuk bermain sendiri di kamarnya, mandi sendiri bahkan tidur sendiri, secara tiba-tiba mengalami ketakutan tanpa alasan yang jelas, dan "mengintili" Anda kemanapun bergerak? Oh, ini sesungguhnya amat merepotkan dan menyebalkan.

  • Namun jangan dulu khawatir dan mulai melakukan ritual-ritual mistis. Sebab, ketakutan pada anak merupakan hal yang wajar selama ia melakukannya dalam koridor aman. Hal ini pernah dibahas tuntas oleh Psikolog Anna Surti Ariani. Menurutnya, ketakutan adalah emosi yang wajar, bahkan merupakan salah satu emosi dasar yang dibawa sejak lahir. "Jadi wajar saja kalau anak takut, asal jangan berlebihan," kata psikolog yang masih membuka praktek di Universitas Indonesia ini.

  • Beberapa indikator takut antara lain: raut muka tegang, nangis, lari mendekat ke orangtua, kadang ada anak yang gemetaran, atau bahkan jadi kaku di tempat. Apa saja sih penyebab takut? 1. Biasanya sih 'perkenalan' yang kurang asyik dengan sumber takut, misal: karena mendadak dan mengagetkan, terlalu besar, tidak terkendali. Maksudnya ketika pertama kali menghadapi si sumber takut itu, perkenalannya kurang persiapan. Karena kurang siap, mendadak, kaget, maka anak jadi mengasosiasikan hal itu sebagai sumber takut, sehingga tiap kali ketemu hal itu, anak jadi takut. 2. Penyebab lain adalah karena anak menganggap orangtuanya juga takut terhadap hal itu. Misal: ibu lari teriak-teriak ketika melihat kecoa, maka anak cenderung ikut takut kecoa. 3. Penyebab lain lagi anak pernah ditakut-takuti terhadap sesuatu, misal: ada polisi lewat dan pengasuh bilang, 'awas polisi tangkep anak gak mau makan'. Contoh barusan itu jadinya anak mungkin akan takut pada polisi.

  • Anak yang punya temperamen sulit juga cenderung lebih mudah takut daripada anak yang santai dan luwes. Untuk antisipasi takut anak, ketika ada hal-hal yang mungkin membuat anak takut, sebelumnya orangtua bisa dekati anak biar anak lebih merasa nyaman. Lalu, bagaimana cara mengatasi rasa takut tersebut?

  • Anna menjelaskan beberapa poin berikut: 1. Ketika anak menunjukkan indikator takut, usahakan peluk anak untuk menenangkannya. Ketika memeluk anak, orangtua jangan berisik! 2. Tenang saja saat peluk anak, tidak perlu alihkan perhatian ke benda lain, tidak perlu bilang 'cup cup' dengan suara keras. Kalau mau bicara, pelan aaja. Semakin heboh orangtua ketika memeluk anak, seringkali anak jadi semakin takut karena tahu bahwa hal itu membuat heboh orangtua, sayang kan tujuan tidak tercapai. 3. Ketika anak sudah lebih tenang, longgarkan pelukan, ajak bicara/lakukan hal lain. 4. Kepada anak yang takut, saya suka mengajak bernyanyi, tentu setelah pelukan tadi ya. Mulai dengan nyanyian lembut, semakin lama semakin riang, pilih lagu anak-anak. 5. Jelaskan sumber takut pada anak dengan bahasa sederhana dan contoh kongkrit. Misal: dengan gambar, dengan melihat bendanya, dengan simulasi, dan lain-lain. 6. Jelaskan prosesnya dengan simulasi agar mengerti. Misal: jelaskan geledek dengan: ayah dan ibu berperan jadi awan, pura-pura tertiup angin, tabrakan. 7. Bisa juga dengan memainkannya. Misal: anak takut pada kucing, maka ajak anak main dengan kucing. Tunjukkan bahwa orangtua oke-oke saja saat memegang dan bermain dengan kucing.

  • Advertisement
  • Ia juga menjelaskan bahwa saat memeluk anak yang ketakutan, hindari mengelus-elus punggung anak dengan ritme yang cepat. Lakukan dengan sangat lembut dan perlahan, sehingga dapat menurunkan rasa takut dan menenangkan anak. Aplikasikan setiap hal tadi secara berulang-ulang, sebab tidak ada yang instan dalam memperbaiki perubahan emosi anak. Memberikan kata-kata positif dan menyemangati agar anak menjadi pemberani pun, akan baik sekali jika dilakukan setiap hari. Hal ini akan terekam di otaknya dan lambat laun membuatnya kembali berani.

  • Oh ya, ada satu hal yang harus paling dihindari saat berhadapan dengan rasa takut anak; memarahi. Apalagi memaksa anak untuk menghadapi ketakutannya tersebut. Dengan diberikan reaksi keras dengan penuh kemarahan, juga paksaan, tidak akan bisa menghilangkan rasa takut. Yang terjadi biasanya adalah rasa takut tadi semakin menjadi-jadi dan malah berkembang menjadi fobia lalu dibawanya seumur hidup.

  • Bersikap lemah lembut dan memberikan perlindungan akan menumbuhkan rasa percaya diri anak, dan lambat laun menghilangkan ketakutannya.

Luangkan waktu sejenak dan bagikan!

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Mengatasi ketakutan si kecil

Rasa takut adalah sifat bawaan seseorang, sejak lahir. Maka wajar jika anak-anak juga memiliki rasa takut. Namun kadang ketakutan tersebut menjadi kerepotan sendiri bagi orangtua. Jangan khawatir, kenali dengan baik dan atasi dengan lembut.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr