Kenali rasa takut anak

Buah hati Anda sering merasa takut pada benda-benda kecil yang tidak berbahaya, atau hal-hal yang seharusnya tidak mengerikan? Atau ia kerap menjadi penakut jika berada di suatu tempat?

1,658 views   |   5 shares
  • Berjalan-jalan dengan anak adalah kegiatan yang amat menyenangkan. Menghabiskan waktu dengan bersenang-senang, menikmati sinar matahari pagi di taman, dan berolahraga bersama, dapat menyehatkan tubuh serta mendekatkan hubungan orangtua-anak. Namun, bagaimana jika kebahagiaan tadi kemudian terusik dengan jeritan kencang dan tangisan anak saat melihat laba-laba yang tiba-tiba hinggap di tangannya.

  • Ya, laba-laba kecil yang biasa menjalin sarang di antara pohon. Laba-laba yang tidak menakutkan dan bisa hilang lenyap begitu saja dari pandangan dengan sekali tiupan. Buat Anda, binatang mungil ini tidak menakutkan sama sekali. Namun anak Anda, entah mengapa begitu ketakutan. Hal ini akan membuat acara seru Anda berubah menjadi sendu. Kemudian anak akan berubah menjadi si penakut yang enggan menghabiskan waktu di taman.

  • Sayang sekali kan?

  • Untuk itu, sebaiknya Anda mengenal dulu, apa saja yang termasuk rasa takut. Menurut Psikolog Anna Surti Ariani, ada beberapa istilah yang berkaitan dengan rasa takut. Ada khawatir, cemas, dan fobia.

  • 1. KHAWATIR adalah cemas yang wajar untuk memikirkan sesuatu yang belum terjadi. Sebetulnya punya perasaan khawatir itu baik kok, karena bikin kita lebih waspada. Contoh: khawatir ketinggalan barang penting, maka kita akan cek lagi isi tas kita, kumpulkan barang-barang yang perlu dibawa di satu tempat. 2. CEMAS adalah khawatir berlebihan untuk sesuatu yang belum terjadi. Misal: ketika mendung anak cemas akan ada guntur, padahal guntur belum terjadi. Penelitian Eley dkk (2003) mengatakan bahwa anak mulai bisa cemas pada usia sekitar 4 tahun. Kalau masih lebih muda belum bisa cemas. 3. FOBIA adalah ketakutan berlebihan dan cenderung menetap pada sesuatu yang tidak menakutkan. Contoh fobia ruang tertutup, atau hewan kecil, yang sebetulnya tidak apa-apa. Tapi jika dia takut berlebihan bisa dibilang fobia.

  • Selain itu, ada beberapa hal/obyek yang sering membuat anak takut. Tiap usia punya sumber ketakutan sendiri lho. Berikut ini beberapa sumber takut anak menurut "Abnormal Child Psychology 3rd ed" karangan Eric J Mash & David A Wolfe (2005).

    • Usia 0-6 bulan: kehilangan orang yang ada dekat dia (misal: anak bangun tidak ada orang dekat dia), suara keras (misal: geledek, helikopter lewat). - Usia 7-12 bulan: orang asing (jarang/tidak pernah ketemu), juga obyek yang sangat besar atau yang hadir secara tiba-tiba - bikin kaget anak. - Usia 1 tahun: orang asing, luka (milik sendiri/orang lain), toilet (kalau dipaksa toilet training), terpisah dari orangtua. - Usia 2 tahun: suara keras, binatang, ruang gelap, terpisah dari orangtua, mesin yang bergerak sendiri. - Usia 3 tahun: topeng, kegelapan, binatang-binatang tertentu (biasanya yang jarang dilihat, atau yang bergerak tiba-tiba), terpisah dari orangtua - Usia 4 tahun: terpisah dari orangtua, binatang, kegelapan, suara keras/aneh - Usia 5 tahun: binatang, orang yang tampangnya menurut dia jelek/mengerikan, gelap, terpisah dari orangtua, luka di tubuh - Usia 6 tahun: sesuatu supernatural (hantu, penyihir), luka, kilat dan guntur, gelap, tidur sendiri, terpisah dari orangtua - Usia 7-8 tahun: sesuatu supernatural, kegelapan, sendirian, luka di tubuh - Usia 9-12 tahun: ulangan / PR di sekolah, tampil depan teman, luka, kilat dan guntur, kematian, penampilan dirinya Perhatikan bahwa sumber takut ini mirip-mirip saja sebetulnya: gelap, terpisah dari orangtua, binatang, hal-hal yang besar dan tidak bisa kita kontrol dan muncul mendadak. Dengan mengenal jenis ketakutan dan fase ketakutan, orangtua bisa menilai, apa yang sedang dialami seorang anak.
  • Advertisement
  • Jika bentuknya fase karena usia, yang bisa dilakukan hanyalah menjadi pelindung yang baik untuk anak. Temani dan tumbuhkan rasa percaya dirinya perlahan-lahan. Namun jika ketakutan tersebut cenderung berlebihan, maka Anda harus lebih konsisten lagi untuk mendampinginya. Kenalkan anak pada Tuhan, dan ajarkan bahwa Tuhan menjaganya setiap saat. Ceritakan juga bahwa yang ditakutinya kadang merupakan hal yang amat baik.

  • Tapi jika ketakutan tidak juga mereda dan malah bertambah parah, tidak ada salahnya jika Anda mulai berkenalan dengan psikolog keluarga. Mintalah bantuan pada ahlinya, agar Anda tidak menjadi panik dan malah kerap naik pitam karena tidak sabar dengan rasa takut yang dialami anak. Sebab hal ini malah menyebabkan rasa takut makin menjadi.

Klik pilihan berbagi di bawah ini

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Kenali rasa takut anak

Buah hati Anda sering merasa takut pada benda-benda kecil yang tidak berbahaya, atau hal-hal yang seharusnya tidak mengerikan? Atau ia kerap menjadi penakut jika berada di suatu tempat?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr