Membangun karakter unggul dari keluarga

Membangun karakter seseorang tidak bisa dilakukan dengan instan, karena bukan hal yang mudah. Hal ini harus dilakukan sejak dini, dan dimulai dari keluarga. Melalui contoh perbuatan dari ajaran kedua orangtua kepada anak.

2,005 views   |   4 shares
  • Salah satu tugas terberat menjalani peran sebagai orangtua adalah menjadi contoh dan panutan bagi anak. Setuju? Berat, sebab kita tidak sempurna dan punya begitu banyak kesalahan. Namun, tidak ingin anak-anak meniru kekurangan tersebut. Sayangnya, anak adalah peniru ulung. Mereka akan menyerap, mengingat dan melakukan hal-hal yang biasa terjadi atau dilakukan oleh orang-orang di lingkungannnya.

  • Saat orangtua tidak mampu menciptakan sebuah lingkungan yang baik untuk tumbuh kembang anak, dalam keluarga, maka akan lebih berat lagi tugas sebagai orangtua ke depannya. Terutama saat anak sudah beranjak besar dan mulai bergaul dengan lingkungan lain di luar keluarga. Tanpa bekal yang cukup dalam pendidikan karakternya, ia akan tumbuh menjadi seseorang yang mudah terhanyut dalam arus tren. Ya, kalau baik. Kalau buruk? Sementara Anda kan juga tak bisa terus menerus menjaga anak agar tidak bergaul dengan sembarang orang.

  • Karena itu, membangun lingkungan yang berkarakter unggul amat penting untuk dilakukan. Novita Tandry dalam bukunya yang berjudul Happy Parenting mengatakan bahwa pendidikan karakter yang bermutu harus dimulai dengan membangun sebuah lingkungan yang berkarakter unggul. Lingkungan, tambahnya, berpengaruh besar dalam pembentukan karakter seseorang.

  • Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan Lingkungan berkarakter unggul? "Artinya lingkungan yang mendukung terciptanya perwujudan nilai-nilai karakter unggul dalam kehidupan. Seperti mencintai Tuhan dan segenap ciptaan-Nya, kemandirian dan tanggung jawab, kejujuran, diplomatis, hormat dan santun, dermawan, suka tolong menolong," katanya. Karakter tersebut pun tidak hanya perplu diajarkan, namun harus dijadikan sebagai kebiasaan. Wah, sebegitu beratnya tugas menjadi orangtua, rupanya ya?

  • Berat memang, jika tidak dilakukan dengan konsisten dan memaksa. Namun sebetulnya menjadi lebih mudah jika kita, orangtua, mulai melakukannya dari diri sendiri kemudian ditularkan kepada seluruh anggota keluarga. Anda ingin anak yang jujur? Maka mulailah bersikap jujur dan terbuka kepada anak. Ajarkan demokrasi dengan membiasakan bertanya pada anak, dan membiarkan ia mengemukakan pilihannya akan segala sesuatu. Hal itu bisa didiskusikan dan dicari solusinya. Mengajak anak terlibat dalam segala urusan rumah, masakan hingga pembagian peran dalam menyelesaikanhal-hal terkait keluarga pun bisa menjadi kebiasaan positif yang ditularkan kepada anak.

  • Di dalamnya pun termasuk kesopanan dan norma yang dilakukan sehari-hari. Anak-anak yang tingkah lakunya sopan merupakan pemandangan indah bagi orangtua. Sayangnya, apa yang tampak belakangan ini justru seringkali sebaliknya. Banyak anak yang biasa berbicara kasar pada orang yang lebih tua. Kata-kata seperti "maaf", "tolong", "permisi", dan "terima kasih" pun kini langka keluar dari mulut seorang anak. Berdasarkan hasil sebuah survei terhadap 100 responden yang terdiri dari para kakek dan nenek, anak-anak zaman sekarang jarang bilang "permisi" ketika meninggalkan meja makan serta enggan menatap mata lawan bicaranya.

  • Advertisement
  • Menurut pakar etiket ternama dari Amerika, Emily Post, "Kesopanan adalah salah satu elemen penunjang kesuksesan seseorang". Kelak, anak yang santun akan lebih mudah bersosialisasi dan beradaptasi dengan aturan yang berlaku di masyarakat. Jadi, bukan semata-mata mendidik balita menjadi juara kelas, orangtua juga perlu mendidik sang buah hati supaya lebih menghargai tata krama.

  • Ya, nantinya, anak akan terbentuk menjadi pribadi yang terbuka dan biasa melakukan berbagai kebiasaan baik di manapun ia berada. Ya, ia pun akan menularkan kebiasaannya itu kepada lingkungan sosialnya. Inilah sebabnya, keluarga merupakan institusi pertama tempat anak membangun karakternya.

  • Pola asuh dan pendidikan yang setiap orangtua terapkan sejak kecil, akan dibawa oleh setiap anak hingga dewasa. Pendidikan karakter ini adalah kunci dari pesat atau tidaknya kemampuan belajar anak dan juga kemampuannya dalam berorganisasi. Anak yang terbiasa dengan pembagian tugas adil, kedisiplinan dan kemandirian, akan membawa bekal sifat kepemimpinan yang baik. Ia akan lebih mudah konsentrasi di kelas, karena sudah paham betul tujuan hidupnya dan mengapa ia harus berusaha keras untuk menggapainya.

  • Anak akan memiliki karakter kuat dan tidak mudah terbawa oleh lingkungan yang buruk. Ia tidak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan dan senantiasa optimis dalam menjalani hari-harinya. Sebegitu besarnya peran keluarga dalam kehidupan seseorang, bahkan dalam menjaga sebuah lingkup pergaulan. Hal ini dapat menyelamatkan sebuah negara, jika setiap keluarga menyadari pentingnya membangun lingkungan berkarakter unggul. Tidak ada anak burung yang mampu terbang saat disuruh dan dipaksa, kan. Ibu burung memberikan contoh.

Anda suka artikel ini? Bagikan..

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Membangun karakter unggul dari keluarga

Membangun karakter seseorang tidak bisa dilakukan dengan instan, karena bukan hal yang mudah. Hal ini harus dilakukan sejak dini, dan dimulai dari keluarga. Melalui contoh perbuatan dari ajaran kedua orangtua kepada anak.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr