Anak pembangkang tidak selalu buruk

Pasti lelah rasanya menasihati anak, terus menerus dibantah. Ingin betul rasanya punya anak penurut. Padahal sebetulnya anak yang mandiri dan mampu bertahan dengan ujian kehidupan seringkali diungkapkan dengan sikap pembangkang. Oh ya?

786 views   |   2 shares
  • Kesabaran memang tidak ada batasnya. Namun kadang, sebagai orangtua, kita kerap merasa stok sabar yang disimpan lama kelamaan terkikis. Apalagi saat menghadapi balita yang sedang mengalami perkembangan dan amat cerdas. Ya, melelahkan, sebab biasanya fase perkembangan kecerdasan ini dibarengi dengan hobi membantah. Bagaimana tidak melelahkan? Berdebat dengan orang dewasa yang sudah bisa diajak menyamakan persepsi saja seringkali membuat kepala berdenyut. Sementara ini, manusia kecil yang pengalamannya jauh di bawah kita, dan pengetahuannya pun tak bisa dibandingkan dengan kedua orangtuanya, kok bisa-bisanya menjawab setiap ajakan, aturan dan permintaan kita.

  • Menurut Angga Setyawan, penulis buku anak juga manusia, keinginan untuk memiliki anak penurut, sebetulnya tidak baik-baik amat. Loh? "Begini, kalau anak terbiasa disuruh menurut, maka ia di rumah akan menurut pada kita. Lah tapi di luar ia menurut pada siapa?" menurutnya. Jadi, menurutnya, di luar ia akan berpotensi menjadi amat mudah menurut pada orang lain karena sudah terbiasa dengan pola tersebut. "Lah terus orang lain itu siapa? Bisakah kita jamin orang tersebut punya pengaruh yang baik?" tambahnya. Karena itu, menurutnya, alih-alih kepingin memiliki anak penurut, sebaiknya kita menjadi pembimbing segala bantahannya. Sebab semakin banyak ia membantah, artinya ia akan tumbuh lebih mandiri dan sanggup mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan risiko. Keuntungannya, tentu saja, mereka akan sanggup mengambil keputusan dan tidak mudah menurut kepada orang lain terutama yang pengaruhnya tidak baik.

  • "Karena itu bersyukurlah dengan anak yang suka ngeyel. Sebab itu adalah bibit awal anak belajar mengambil keputusan dan punya pendirian" ujarnya. Namun, peran orangtua di sini amatlah penting, sebagai pihak yang menyuguhkan menu pilihan keputusan yang bisa dipilih anak dan paparkan risiko masing-masing. Dengan demikian anak terbiasa menimbang-nimbang dulu risikonya sebelum memutuskan mau melakukan apapun. Orangtua juga harus mengingat bahwa perubahan perilaku dari penurut menjadi pembantah pada balita 3-4 tahun, itu normal. Senang membantah orang yang lebih superior - orangtua, pengasuh, nenek, kakak - menurut pakar psikologi perkembangan Erik Erikson, terjadi karena anak tengah mengalami dua tahapan perkembangan. Pertama, tahap otonomi versus rasa malu dan ragu, kedua tahap inisiatif versus rasa bersalah. Pada tahap otonomi versus rasa malu dan ragu, anak mencoba bersikap mandiri dalam tugas tumbuh kembangnya, termasuk melatih motorik kasar dan halus. Perasaan malu dan ragu timbul bila ia merasa tidak diberi kebebasan, lantaran orangtua banyak membatasi. Sedangkan tahap inisiatif versus rasa bersalah adalah tahap ketika anak mulai berinisiatif mencari pengalaman baru dan beraktivitas melalui kemampuan indera-indera. Tahap ini membuatnya tidak mau banyak dilarang.

  • Advertisement
  • Selain itu, menurut Eric, di usia 3-4 tahun anak juga sedang menumbuhkan konsep diri -membentuk sikap- hasil penggabungan kedua tahapan di atas. Jika anak membantah, namun hanya sesekali, itu masih wajar sebab menunjukkan adanya perkembangan kemandirian atau keinginan mengatur diri. Tetapi bila terlalu sering atau bahkan selalu, mesti disiasati dengan kompromistis agar perbedaan pendapat bisa dijembatani dengan baik, dan hubungan tidak rusak gara-gara berbantahan. Jadi, satu-satunya hal yang harus dimiliki orangtua memang hanya kesabaran sebanyak-banyaknya. Lebih banyak dari uang dalam gudang uang paman gober. Karena dengan sabar, kita jadi mampu berpikir lebih bijak menyikapi perkembangan si kecil. Misalnya kita bisa mengubah omelan menjadi candaan. Sabar juga bisa membuat kita tetap konsisten dengan yang wajib dilakukan. Misalnya menyikat gigi atau tidur dan makan. Kita bisa menerapkan disiplin dengan tegas tanpa marah-marah atau mengatakan hal-hal buruk seperti; "Terserah kamulah, mama enggak mau tahu!" atau "Pokoknya kamu harus nurut. Titik!" dengan nada kencang. Ucapan-ucapan semacam ini hanya akan menghambat perkembangan psikologisnya.

  • Dengan sabar, kita bisa mendengarkan alasan-alasan yang dibuat, lalu membahasnya satu persatu dengan contoh, agar anak berpikir dan mengerti bahwa yang dilakukannya tidak selalu benar. Ini juga akan membuat anak mampu mengeluarkan emosi dan mengekspresikan perasaan. Mengalihkan perhatian atau memberi usul untuk melakukan kegiatan serupa, namun lebih aman dan sama menyenangkannya juga bisa menjadi opsi. Maka, mari berhenti berdebat kusir dengan anak. Toh, anak penurut juga tak selalu menjadi pilihan yang baik, ya kan?

Anda suka artikel ini? Bagikan..

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Anak pembangkang tidak selalu buruk

Pasti lelah rasanya menasihati anak, terus menerus dibantah. Ingin betul rasanya punya anak penurut. Padahal sebetulnya anak yang mandiri dan mampu bertahan dengan ujian kehidupan seringkali diungkapkan dengan sikap pembangkang. Oh ya?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr