Nikmatilah masa-masa si kecil membuat kekacauan sebelum ia beranjak besar

Anda perfeksionis, biasa mengerjakan tugas dengan baik dan terikat dengan jadwal? Berhentilah menjadi orang seperti itu saat bersama anak-anak karena mereka lebih ahli dalam mengacaukan segalanya.

1,577 views   |   1 shares
  • Dua hari yang lalu, saya sibuk mengerjakan pesanan kue kering ketika putra saya datang dan menawarkan bantuan. Saya pikir, mungkin menyenangkan jika ia membantu, maka tugaskan ia mengaduk adonan, sementara saya menuangkan tepung. Awalnya ia memang mengaduk dengan benar sesuai instruksi, tapi lalu ia meletakkan sendok, dan memasukkan tangan ke dalam adonan, dan menjilati adonan di tangannya.

  • Awalnya lucu, namun lama-lama ia menghambat pekerjaan saya. Bosan dengan adonan, ia mulai memutar-mutar telur – dan pastinya membuat saya panik. Setelah itu, ia mulai mengambil choco chips satu persatu. Saat itu, saya menyadari bahwa menjadi orangtua berarti sulit menyelesaikan tugas dengan cepat dan sempurna, selama ada anak di sekitar saya. Dan pasti banyak dari Anda yang merasa demikian pula.

  • Frustasi? Ya, kadang. Namun begitulah menjadi orangtua dari anak balita. Ia berniat baik, tetapi yang terjadi biasanya adalah kekacauan. Mengharapkan tugas selesai sempurna adalah mimpi belaka. Tetapi bagaimana dengan mencatat keuangan rumah tangga, mencuci piring, dan menyelesaikan pekerjaan yang tertunda? Semua harus tetap dituntaskan dengan ritme yang berubah seiring dengan hadirnya anak.

  • Nah, perlukah saya memarahi balita yang sebenarnya sedang mengeksplorasi dunianya? Tentu tidak. Kata orangtua, "Tunggulah hingga ia belasan tahun, dan kamu yang akan sibuk memintanya berlama-lama di rumah mengganggumu." Jadi sekarang saya hanya bisa tersenyum dan berusaha menahan kesal. Belajar untuk melepaskan. Ketika ingin mandi dengan tenang, tetapi tidak bisa karena anak di luar menggedor pintu dan memanggil-manggil. Relakanlah, dan cepat selesaikan mandi.

  • Merelakan adalah satu-satunya cara yang harus menjadi kemampuan setiap orangtua dengan balita. Relakan ketika mimpi harus tertunda karena Anda harus menangani anak karena kini kita adalah milik mereka. Nanti, kita juga harus belajar melepaskan anak pergi ke sekolah, membiarkan mereka tumbuh mandiri dan bahkan merelakan mereka menjalani hidupnya saat sudah mulai dewasa.

  • Kita perlu mengesampingkan ego, dan merelakan segalanya demi anak. Jadi, mulailah terbiasa dengan segala kekacauan akibat ulah anak. Memang hal ini bukan berarti kita tidak berhak memiliki "m

  • e time" atau waktu untuk menjadi diri sendiri yang mampu menyelesaikan segala tugas dengan baik. Ada saat-saat si kecil tidur siang, atau tidur malam. Mulailah memperhitungkan waktu, dan lekas kerjakan segala yang harus diselesaikan dengan efektif sebelum ia bangun. Masaklah dengan cepat, cuci sayuran dan buah sesegera mungkin. Saat mesin cuci sedang bekerja, setrika baju agar tidak ada waktu terbuang. Ini mungkin alasan mengapa menjadi orangtua seharusnya membuat kita menjadi lebih pintar, memiliki kemampuan "membelah diri" karena bisa mengerjakan banyak pekerjaan dalam satu waktu, serta lebih kreatif serta efisien. Kita dipaksa untuk mampu melakukannya.

  • Advertisement
  • Yah mau bagaimana lagi, terimalah dengan lapang dada, dan lepaskan. Relakan. Karena kita sudah bukan kita yang dulu lagi, sebelum kehadirannya.

Bantu kami menyebarkan

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Nikmatilah masa-masa si kecil membuat kekacauan sebelum ia beranjak besar

Anda perfeksionis, biasa mengerjakan tugas dengan baik dan terikat dengan jadwal? Berhentilah menjadi orang seperti itu saat bersama anak-anak karena mereka lebih ahli dalam mengacaukan segalanya.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr