Film Inside Out dan pentingnya mengajarkan emosi pada anak

Menonton film tidak melulu salah, apalagi jika film tersebut mampu membantu tugas orangtua untuk menjelaskan sesuatu. Perihal mengelola emosi, diajarkan dengan cara menyenangkan dalam film Inside Out. Anak harus tahu bahwa hal ini amat penting.

2,067 views   |   1 shares
  • Ada film terbaru yang menyenangkan untuk ditonton bersama keluarga. Judulnya Inside Out. Film kartun ini memberikan pengetahuan soal psikologi perkembangan seseorang dan cara kerja otak, dengan cara yang amat mudah dan menyenangkan. Tidak hanya baik untuk pengetahuan anak, bahkan amat berguna bagi orangtua untuk mengajak anak mengenal emosi. Dan membantu mereka agar mampu mengendalikannya.

  • Ya, film ini menceritakan tentang lima emosi dasar manusia; kesenangan, kesedihan, kemarahan, ketakutan dan rasa jijik. Bagaimana seluruh emosi tersebut berkumpul di otak, mengatur kehidupan seseorang setiap saat, hingga memilah keputusan serta menceritakan tentang kapasitas ingatan.

  • Penting, ya penting. Sebab mengenali perasaan lewat ekspresi wajah orang lain, akan membuat anak berempati. Mengenali perasaan diri sendiri kemudian belajar mengekspresikannya, akan membantu seorang anak untuk mengendalikannya dengan baik. hal ini tentunya amat berguna seumur hidupnya.

  • Konsep kecerdasan emosional sendiri mulai dipopulerkan oleh Daniel Goleman pada 1995. Hal ini kemudian menjadi perhatian banyak orang, untuk mengenal karakter tiap anak. Para orangtua mulai percaya bahwa upaya untuk meraih kesuksesan tidak cukup hanya berbekal keterampilan teknis dan pengetahuan ilmiah, tetapi juga dengan kemampuan mengendalikan diri, mempengaruhi orang lain dan bersosialisasi.

  • Secara garis besar, kecerdasan emosional mencakup dua hal, yaitu mengenali dan mengendalikan emosi. Langkah pertama dalam mengajarkan kecerdasan emosional adalah dengan memperkenalkan macam-macam emosi kepada anak dengan menyebutkan nama-nama emosi tersebut. Ketika anak bermuka muram, kita dapat menegaskan emosi yang dialaminya dengan bertanya,"Kamu sedang sedih ya?"

  • Cara lain untuk memperkenalkan emosi adalah dengan menunjukkan raut wajah orang lain, atau tokoh cerita di buku dan film, sambil menyebutkan nama perasaannya. Jelaskan juga penyebab timbulnya perasaan tersebut. Misalnya tokoh tersebut menangis karena kucingnya baru saja meninggal dunia. Orangtua juga dapat menyampaikan penilaian moral atas situasi tersebut. Misalnya menjelaskan bahwa sedih karena kehilangan tidak apa-apa, namun tidak boleh sampai berlarut. Karena setiap manusia harus maju ke depan, dan mengambil pelajaran dari kesedihan yang pernah terjadi.

  • Dengan demikian, anak mengetahui nilai moral dari setiap perilaku. Begitu pula ketika orangtua merasa marah, sedih, bingung, kesal, gembira, atau mengalami emosi lainnya. Orangtua perlu menyampaikan penyebabnya. Emosi diri sendiri pun akan lebih mudah dikenali jika kita mampu mencurahkan isi hati dengan bercerita. Biasakan bertanya mengenai perasaan anak, dan ajak mereka bercerita. Selain ia terbantu untuk mengenali emosinya, orangtua pun menjadi lebih mengenal dan bisa mencarikan solusi atas masalah yang dihadapi si kecil.

  • Advertisement
  • Sebab seringkali anak kecil marah, menangis bahkan mengamuk tanpa sebab yang jelas, karena mereka mengalami kesulitan dalam mengekspresikan perasaan. Hal ini tentunya membuat orangtua serba salah dan kesulitan menenangkannya. Dalam buku The Whole Brain Child karangan Dr Dan Siegel dan Dr Tina Bryson dikatakan bahwa pendekatan yang efektif bisa dengan memadukan fungsi kedua otak anak. Sebab, kemampuan memadukan otak kanan yang emosional dengan otak kiri yang rasional diharapkan dapat membuat mereka memiliki emosi yang lebih seimbang.

  • Ada beberapa cara yang bisa diajarkan. Misalnya menggunakan logika otak kiri untuk memahami perasaan otak kanan. Memarahi anak yang menangis atau marah tidak akan menjadi cara efektif untuk mengatasi emosinya. Cobalah berempati padanya, dengan menerima perasaan yang sedang dikeluarkan tersebut. Setelah tenang, barulah dibahas apa yang tadi terjadi. Selain itu, orangtua bisa juga mengajarkan kepada anak bahwa perasaan itu hanya berlangsung sementara. Ya, seperti di film inside out. Digambarkan bahwa output yang keluar, berupa memori, dalam keseharian kita bisa berupa rasa marah, sedih, jijik, takut atau senang. Dan semua itu akan tersimpan rapi sebagai kenangan di otak.

  • Maka, tekankan pada anak-anak bahwa kita tidak dapat memilih perasaan yang muncul pada diri kita, tetapi harus selalu dapat memilih reaksi kita terhadap perasaan tersebut. Arahkan mereka agar memilih reaksi yang paling tepat dengan berbagai pertimbangan kebaikan dan keuntungan. Misalnya, menangis terlalu lama hanya akan merugikan diri sendiri karena melelahkan dan tidak bisa menyelesaikan masalah. Lebih baik dicari pemecahannya, lalu masalah selesai.

  • Orangtua juga harus belajar untuk meminta maaf pada anak. Sebab terkadang orangtua mengatakan sesuatu yang menyakitkan, berbuat kesalahan dan tidak mampu mengendalikan emosi ketika berhadapan dengan anak. Minta maaf lah, dan jelaskan alasan tindakan Anda agar anak mampu memahami maksud Anda sebenarnya.

Bantu kami menyebarkan

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Film Inside Out dan pentingnya mengajarkan emosi pada anak

Menonton film tidak melulu salah, apalagi jika film tersebut mampu membantu tugas orangtua untuk menjelaskan sesuatu. Perihal mengelola emosi, diajarkan dengan cara menyenangkan dalam film Inside Out. Anak harus tahu bahwa hal ini amat penting.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr