Mampukah anak tidur sendiri?

Tidur terpisah dengan orangtua, adalah latihan kemandirian yang sangat baik untuk diterapkan sejak dini. Sayangnya belum banyak yang memperhatikan hal ini sebagai sesuatu yang penting. Padahal kemandirian, adalah modal utama seseorang.

1,887 views   |   shares
  • "Anaknya sudah bisa apa?"

  • Adalah pertanyaan umum yang diungkapkan sanak saudara atau kawan-kawan, saat bertemu dengan buah hati kita yang sedang lucu-lucunya. Ya, balita atau anak-anak kecil kita kerap diharapkan untuk menjawab "Sudah bisa baca" atau "Sudah bisa ngitung sampai 100".

  • Padahal, apakah hal tersebut benar-benar penting untuk menjadi kebisaan? Lebih penting mana ketimbang "Sudah bisa makan sendiri" atau "Sudah bisa pakai baju sendiri" atau yang lebih keren "Sudah bisa tidur sendiri". Waaahh..

  • Ya, di budaya kita, kemandirian sepertinya bukan hal utama yang ditekankan oleh lingkungan. Sementara kebisaan seperti menulis, membaca, berhitung menjadi kebanggaan jika sudah bisa dilakukan oleh anak-anak berusia dini. "Saya lebih suka mewariskan pendidikan dan life skills pada anak-anak saya, ketimbang harta yang saya miliki," kata Bill Gate.

  • Kemandirian merupakan salah satu karakter yang akan membentuk anak-anak kita menjadi pribadi unggul di masa dewasanya kelak. Anak yang mandiri dan disiplin, akan jauh lebih mudah menerima pelajaran. Dan akan lebih pintar menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Sayangnya, tidak sedikit dari orangtua yang tidak terbiasa membiarkan anak-anaknya mengerjakan segala sesuatu seorang diri.

  • Perihal tidur terpisah dari orangtua, misalnya. Tidak banyak orangtua di sekitar kita yang mendorong agar anak berani tidur sendiri di kamarnya. Biasanya karena mereka tidak ingin kerepotan menghadapi ketakutan anak akan kesendirian, atau khawatir anak akan ngompol karena belum berani pergi sendiri ke toilet saat tengah malam.

  • Akibatnya, anak menjadi manja dan tidak pernah belajar mandiri. Ia akan terus tidur dengan orangtuanya, bahkan dengan adiknya, hingga besar. Padahal, hal ini akan membuat kualitas tidur orangtua dan anak itu sendiri terganggu. Bayangkan saja, jika si sulung sudah berusia empat tahun lalu memiliki adik bayi yang masih sering terbangun di tengah malam.

  • Saat adiknya menangis, kakaknya ikut terbangun. Saat ibu berusaha menenangkan si bayi, si sulung ikut merengek. Belum lagi tempat tidur yang terasa sempit dan membuat posisi tidur menjadi tidak nyaman. Akibatnya, seluruh anggota keluarga tidur dengan rasa tidak nyaman, lalu bangun dalam keadaan tidak segar. Hal ini berpotensi menyebabkan anak yang lebih rewel serta orangtua yang mudah marah, karena kualitas tidur terganggu.

  • Proses untuk "Menyapih tidur bersama" pada anak, apalagi yang masih berusia balita, memang tidak mudah. Namun bisa dilakukan dengan ketekunan dan kesabaran. Poin penting yang perlu diingat dalam memisahkan anak ke kamarnya sendiri, adalah: sebaiknya dilakukan saat anak sudah lepas ASI. Artinya sudah di atas usia dua tahun. Menurut Dr Sears, usia yang paling tepat untuk mendorong anak tidur terpisah adalah tiga tahun.

  • Advertisement
  • Anda bisa melakukannya dengan melakukan dekorasi kamar anak, dan dilakukan bersama-sama dengan si kecil. Ajak ia memilih warna cat kamar, seprainya, hiasan dindingnya, bahkan penataan barang-barangnya. Ajak ia merapikan sendiri mainan, alat-alat gambar, baju-baju dan sebagainya ke tempat yang mudah dijangkau. Buat kamarnya senyaman mungkin.

  • Setelah itu, mulailah biasakan ia tidur di kamarnya. Awalnya ditemani. Lama-lama tinggalkan saat ia sudah tertidur. Bacakan cerita dan doa sebelum tidur, lalu berikan dorongan dan semangat agar ia berani tidur terpisah. Jika ia terbangun tengah malam dan menangis lalu masuk ke kamar Anda, biarkan ia tenang dulu, lalu ajak ia kembali ke kamarnya. Temani lagi hingga ia tertidur.

  • Jangan lupa ajarkan juga ia pergi ke toilet sendiri, jika tiba-tiba perlu buang air di tengah malam. Jika ia masih meminta Anda menemani, maka temanilah, lalu antarkan lagi ia kembali ke kamarnya. Biarkan ia merasa bahwa kamar itu adalah teritorinya, dan biasakan ia dengan kondisi bahwa apapun situasinya, ia tetap akan kembali tidur di kamarnya sendiri. Perlahan, namun konsisten.

  • Keberanian dan kemandirian tersebut akan melatih si kecil agar tidak terus menerus bergantung pada orangtua. Sebab, betapapun kita menyayangi anak dan memiliki kemampuan besar untuk melindunginya, tidak seorang pun diantara kita yang dapat menjamin bahwa kita akan mampu mendampingi anak-anak seumur hidup mereka. Suatu saat, kita harus merelakan anak pergi dari dunia yang kita bangun, ke dunia yang mereka bangun. Lagipula, kita kan juga bukan Tuhan. Kita tidak akan pernah tahu, kapan harinya kita harus meninggalkan dunia.

  • Saat itu terjadi, apakah kita sudah meninggalkan anak yang mampu berdiri di kakinya sendiri? Atau justru meninggalkan anak manja yang tidak mampu melakukan apapun tanpa bantuan orang lain?

Bagikan kepada teman-teman Anda!

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Mampukah anak tidur sendiri?

Tidur terpisah dengan orangtua, adalah latihan kemandirian yang sangat baik untuk diterapkan sejak dini. Sayangnya belum banyak yang memperhatikan hal ini sebagai sesuatu yang penting. Padahal kemandirian, adalah modal utama seseorang.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr