Stunting, apa itu?

Kasus stunting di Indonesia cukup tinggi, bahkan hingga 37 persen anak dinyatakan menderita stunting. Ini bukan jumlah yang sedikit. Hal ini terjadi semata-mata karena asupan gizi yang kurang. Sudahkah kita memperhatikan hal tersebut di rumah?

8,967 views   |   24 shares
  • Pernah mendengar istilah "stunting"? iya, biasanya disebut untuk kasus pertumbuhan anak yang terganggu, karena kurang asupan gizi yang dibutuhkan tubuh. Biasanya dipantau pada anak-anak usia di bawah lima tahun. Tidak hanya berat badan kurang, namun juga tinggi badan.

  • Dan tahukah anda bahwa 7,6 juta anak Indonesia menderita stunting. Jumlah itu berarti ada 37 persen anak Indonesia yang masih membutuhkan perhatian lebih, karena mereka tidak tumbuh dengan baik. Direktur Program Kesehatan dan Gizi Berbasis Masyarakat untuk mengurangi Stunting (PKGBM) MCA-Indonesia, Minarto, mengatakan bahwa salah satu hasil penelitiannya membuktikan banyak orangtua yang belum mengenal istilah stunting. Bahkan hanya sedikit tenaga kesehatan yang memahami permasalahan tersebut.

  • Selain itu, menurutnya, rendahnya tinggi badan anak, salah satu ciri utama stunting, juga masih kerap dianggap masalah keturunan. Padahal sebetulnya komposisi genetik bukan determinan primer yang menentukan tinggi badan. Kendala lingkungan merupakan persoalan yang jauh lebih penting. Karenanya, stunting bukanlah isu yang sederhana. Stunting, tak hanya merugikan pertumbuhan fisik dan kognitif, tapi juga kesehatan anak di masa mendatang.

  • "Kita mengenalnya sebagai fenomena Barker, yaitu dampak lanjutan dari stunting yang berefek pada kesehatan dan produktivitas anak," kata Deputi Menteri PPN/Kepala Bappenas Bidang SDM dan Kebudayaan, Nina Sardjunani.Tingkat kecerdasan yang menurun, menurut Nina, menyebabkan rendahnya produktivitas anak ketika dewasa. Akibatnya, pendapatan yang diperoleh kurang dan tidak menghindarkan dirinya dari garis kemiskinan. Risiko tersebut belum termasuk ancaman diabetes mellitus dan penyakit jantung koroner yang diderita pada usia muda.

  • "Efek ini tentunya bisa mempengaruhi kondisi negara. Kecilnya pemasukan masyarakat berarti pendapatan per kapita negara tersebut rendah. Hal ini berarti negara tersebut dilingkupi masalah kemiskinan," kata Nina. Mengerikan juga ya? Untuk itu, sebagai orangtua, kita juga harus amat memperhatikan asupan gizi yang diterima anak-anak. Sebab, makan banyak tidak berarti membuat anak akan tumbuh sehat, jika makanan tersebut tidak mengandung zat yang dibutuhkan oleh tubuh masing-masing anak.

  • Advertisement
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengatakan bahwa dalam keadaan normal dan keadaan kesehatan baik, keseimbangan antara konsumsi dan kebutuhan zat gizi terjamin, maka berat badan berkembang mengikuti bertambahnya umur. Dalam keadaan abnormal ada dua kemungkinan perkembangan yaitu berkembang lebih cepat atau lebih lambat dari keadaan normal.

  • Karena itu, penting sekali orangtua memperhatikan kurva perkembangan anak. Terdapat metode pemantauan status gizi, di antaranya dmenggunakan antropometri gizi yang berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Ukuran tubuh seperti berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas dan tebal lemak di bawah kulit. Untuk pemantauan status gizi standar penentuan yang digunakan adalah baku antropometri menurut standar World Health Organization. Ini bisa kita lakukan sendiri di rumah.

  • Selain rajin memantau pertumbuhan fisik anak, kualitas gizi anak pun harus segera diperbaiki. Gizi yang tercukupi diharapkan bisa memenuhi kebutuhan anak untuk tumbuh dan berkembang. Sehingga anak tidak lagi tumbuh pendek. "Pemenuhan gizi harus dimulai sejak dalam kandungan. Ketika wanita berencana hamil, pastikan selalu mengkonsumsi asupan nutrisi sesuai kebutuhan. Asupan dalam tubuh ibu menentukan pembentukan tubuh dan tumbuh kembang anak," kata Nafsiah Mboi, Menteri Kesehatan RI.

  • Ibu dengan konsumsi makanan yang adekuat dan bergizi sewaktu hamilnya biasanya melahirkan bayi dengan kondisi kesehatan yang sangat baik. Di sisi lain, ibu dengan status gizi kurang pada masa kehamilannya atau status gizi normal tetapi makan makanan yang berkualitas gizi rendah akan meningkatkan kesempatan anak lahir tetapi secara fungsional prematur, berat dan/atau panjang lahir rendah, immature, atau bahkan cacat. Ini berarti pada dasarnya ibu makan bukanlah untuk dirinya seorang, tetapi untuk janinnya juga. Gizi yang berkualitas baik menjaga ibu agar senantiasa dalam kondisi yang kuat, sehat, dan berstatus gizi baik, sedangkan untuk anak agar janin tumbuh baik sesuai waktunya, serta perkembangan otak dan organ penting lainnya sempurna.

  • Jadi, jangan menyerah untuk terus makan makanan bergizi baik, dan berikan juga anak-anak makanan berkualitas yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Jangan lupa memantau kurva pertumbuhannya setiap saat, ya.

Anda suka artikel ini? Bagikan dengan teman-teman

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Stunting, apa itu?

Kasus stunting di Indonesia cukup tinggi, bahkan hingga 37 persen anak dinyatakan menderita stunting. Ini bukan jumlah yang sedikit. Hal ini terjadi semata-mata karena asupan gizi yang kurang. Sudahkah kita memperhatikan hal tersebut di rumah?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr