Keluar dari rumah orangtua dan miliki rumah sendiri. Bisa kok!

Pernikahan juga soal kemandirian. Dan hal itu bisa dimulai dari belajar berani meninggalkan rumah orangtua untuk pindah ke rumah sendiri. Namun memilih rumah memang tidak mudah. Ada begitu banyak hal yang harus dipertimbangkan.

6,048 views   |   0 shares
  • Membangun sebuah keluarga lewat pernikahan, tidak hanya selesai di satu hari saat pesta berlangsung. Namun seumur hidup. Maka, persiapan yang harus dilakukan sebaiknya tidak hanya terfokus pada kemeriahan acara, namun justru ke hal-hal yang harus dilakukan di masa depan.

  • Salah satunya adalah memilih rumah untuk ditinggali. Saat menikah, ada baiknya setiap pasangan mampu memberanikan diri untuk mandiri dalam menjalani kehidupan berumah tangga. Tinggal dengan orang tua memang tidak sepenuhnya salah, namun juga tidak boleh menjadi zona nyaman yang membuat kita enggan keluar dari rumah itu.

  • Untungnya kini kredit kepemilikan rumah tidak terlalu sulit untuk dilakukan. Syaratnya pun kebanyakan mudah untuk dilakukan. Bahkan banyak penawaran menarik yang bisa diterima. Tetapi, memilih rumah sebetulnya sama sulitnya dengan memilih pasangan hidup. Begitu banyak pertimbangan yang harus dipikirkan dengan matang.

  • Misalnya, pemilihan lokasi rumah. Wah, untuk melakukan hal ini, dibutuhkan waktu yang tidak sebentar. Sebab, setiap pasangan harus mampu mengidentifikasi lokasi yang strategis untuk menjalani kehidupan. Kriteria tiap orang bisa berbeda-beda, namun hal-hal yang sebaiknya menjadi pertimbangan adalah jarak dari rumah ke kantor, akses dan kendaraan yang akan digunakan. Cari tahu dengan detail mengenai hal tersebut. Tujuannya tentu agar kita masih bisa memaksimalkan waktu dengan keluarga di rumah.

  • Selain itu, memilih lokasi pun harus dilengkapi dengan pertimbangan jarak ke rumah orangtua, mertua, atau sanak saudara. Lalu keberadaan sekolah, rumah sakit, tempat makan, hingga taman. Kemudian risiko bencana, seperti risiko tawuran antar warga, banjir, juga keamanan lingkungan.

  • Setelah lokasi, sebaiknya kita juga yang menetapkan kriteria rumah yang akan ditinggali. Misalnya, sejak awal, sebelum mulai mencari (entah dari mulut ke mulut, internet, atau berkeliling lokasi yang telah ditetapkan), kita lah yang harus memiliki syarat wajib dari rumah yang akan dipilih. Misalnya harga sesuai kemampuan. Hitung dengan seksama pendapatan perbulan rumah tangga, lalu anggaran perbulan. Akan seperti apa bentuk tabel pendapatan dan pengeluaran nantinya saat sudah ditambah dengan jumlah cicilan rumah.

  • Setelah itu, tentunya bangunan fisik. Tentukan sejak awal, rumah yang dipilih akan seperti apa. Misalnya, rumah yang memiliki sanitasi baik, dan banyak ventilasi. Rumah yang modern atau klasik. Rumah bekas atau baru. Dan sebagainya, sesuai keinginan. Lalu luas rumah yang diinginkan juga penting untuk menjadi bahan pertimbangan. Contohnya, ingin memiliki rumah dengan luas minimum 90m persegi, dengan asumsi, ke depannya masih bisa ditambah tingkat atau diperluas.

  • Advertisement
  • Kemudian barulah mulai mencari. Ingat, jangan terburu-buru. Berikan banyak waktu dalam timeline kita, untuk menjalani proses ini. Sebab, ini kan rumah yang akan kita tempati dalam waktu yang lama. Bisa dimulai dengan pencarian dari internet atau koran, kemudian survei ke wilayah yang dipilih. Lakukan survei dengan menyeluruh. Datangi lokasi yang kita pilih saat hujan, saat panas, saat pagi, siang, sore dan malam.

  • Lakukan penilaian dengan objektif, dan pelajari dengan penuh kehati-hatian. Sebisa mungkin, cari tahu dengan mendalam. Bisa lewat laman rekomendasi orang lain, bisa juga dengan mengobrol dan berkenalan dengan orang sekitar lalu tanyakan hingga ke hal terkecil.

  • Saat akhirnya mendapatkan rumah yang sesuai kriteria, jangan pernah lupa untuk memperhatikan setiap detail dari kondisi rumah tersebut. Hal ini penting, karena nantinya akan berpengaruh pada kondisi perekonomian rumah tangga. Jika rumah tersebut masih dalam kondisi baik, maka tentunya kita tidak perlu mengalokasikan dana yang terlalu besar untuk perbaikan.

  • Amat penting, sebab biasanya proses pembelian sebuah rumah memerlukan biaya yang amat besar. Bukan hanya down payment, dan cicilan, namun juga pembayaran notaris, pengurusan akta, asuransi, dan pajak-pajak. Karena itu, amat penting untuk meminta data mengenai pembayaran listrik, air, dan kebutuhan penting lainnya, untuk kemudian dianalisis sesuai kemampuan kita.

  • Maka, mencari bank yang memberikan penawaran kredit paling menguntungkan dan sesuai kemampuan pun tidak kalah penting. Jangan sampai di tengah-tengah cicilan, kita mengalami kenaikan bunga pembayaran yang membuat perekonomian rumah tangga gonjang-ganjing. Hal ini berpotensi mengakibatkan pertengkaran besar.

  • Poin terakhir yang juga harus dipertimbangkan adalah, rasa. Pilihlah sebuah rumah yang sreg di hati. yang membuat kita nyaman, dan merasa tenang saat pertama kali masuk. Rumah yang menyenangkan dan cocok di hati. Sebab percuma jika hanya mengandalkan pertimbangan objektif saja, namun ke depannya rumah tersebut tidak mampu membuat kita merasa nyaman.

  • Ketidaknyamanan biasanya menjadi pemicu kecil namun berdampak besar pada keutuhan rumah tangga. Maka, pertimbangan terakhir ini, harus dilakukan dalam rangka membangun rumah tangga yang baik hingga akhir hayat.

Anda suka artikel ini? Bagikan..

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Keluar dari rumah orangtua dan miliki rumah sendiri. Bisa kok!

Pernikahan juga soal kemandirian. Dan hal itu bisa dimulai dari belajar berani meninggalkan rumah orangtua untuk pindah ke rumah sendiri. Namun memilih rumah memang tidak mudah. Ada begitu banyak hal yang harus dipertimbangkan.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr