Shhh...berhenti bicara! Mari belajar mendengar

Tidak sedikit konflik yang terjadi dalam hubungan suami istri, disebabkan oleh hal sederhana. Salah satunya, rebutan bicara. Kedua pihak ingin didengar, namun tidak ada satu pun yang bersedia menjadi pendengar.

1,398 views   |   shares
  • Rumah tangga adalah institusi terkecil, karena dibangun hanya oleh dua orang. Suami dan istri. Meskipun kecil, namun prinsip dasar ketahanannya tetap sama dengan membangun negara; kerja sama yang baik. karena itu, menjadi wajar jika dalam perjalanannya terjadi konflik dan adu pendapat. Hal ini sehat, jika pada akhirnya membuahkan solusi yang berguna.

  • Sayangnya, masih banyak yang gagal dan berakhir dengan perpecahan. Yang lebih disayangkan lagi, banyak perpisahan yang terjadi hanya karena persoalan sepele, buah dari keegoisan dan saling berebut untuk memertahankan pendapat masing-masing, tanpa ada satu pun pihak yang bersedia menjadi pendengar. Oh, iya. Sesederhana itu. Padahal, sebetulnya menjadi pendengar tidak susah-susah amat. Meski, ya, untuk sebagian orang, mendengarkan adalah hal yang sangat sulit untuk dilakukan.

  • Menurut Keith Davis dan John W. Newstrom dalam bukunya Human Behavior at work-Organizational behavior, keterampilan untuk berkomunikasi secara interpersonal yang baik tidak sekedar mengangkut penyampaian pesan-pesan. Namun juga penerimaan pesan-pesan. Mendengarkan, merupakan metode utama dalam menerima pesan. Sayangnya banyak orang bukan merupakan pendengar yang baik. Riset-riset telah menunjukkan bahwa rata-rata orang hanya menyimpan 25 persen dari apa yang didengarnya.

  • Padahal, menjadi pendengar yang baik, berarti seseorang mampu mendengar, mengerti dan mengingat apa yang dikomunikasikan seseorang kepada kita. Buku tersebut juga mengatakan bahwa, menjadi pendengar membutuhkan dua telinga, satu untuk makna, dan satu untuk rasa. Jadi, menjadi pendengar yang baik memang susah-susah gampang. Sebab, untuk melakukannya, kita harus mampu menahan diri dari rasa egois, menahan diri untuk berbicara, dan menyisakan konsentrasi penuh untuk mendengar.

  • Kita harus mampu menempatkan diri, dalam situasi apa pun. Kapan harus berbicara, dan kapan harus mendengar. Jika semua pasangan mampu melakukan itu, seharusnya konflik akan selalu bisa diatasi dengan baik. Selain menjadi solusi dari konflik, sebetulnya menjadi pendengar pun memiliki banyak keuntungan. Dan tidak hanya dalam hubungan rumah tangga, namun juga dalam menjalankan peran di dunia pekerjaan, hubungan orangtua dan anak, maupun pertemanan.

  • Sebab, saat kita mampu mendengarkan dengan baik, sebetulnya kita juga sedang belajar. Misalnya mendengarkan apa kata bawahan di kantor. Kita tentu akan dipilih menjadi pimpinan yang menyenangkan dan lebih bijaksana. Sebab, kita akan tahu persis apa duduk persoalan yang terjadi. Mengapa hal ini dan itu terjadi. Ketika begitu banyak problem bisa terdengar, maka tentu akan lebih mudah dipetakan dan dicari solusinya.

  • Advertisement
  • Menjadi pendengar yang lebih sederhana pun akan bermanfaat. Misalnya menjadi pendengar "curhat" orang lain. Belajar sabar untuk mendengarkan kisah demi kisah akan membuat kita lebih banyak mengenal dunia. Sebab tidak akan ada cerita yang sama dari setiap mahluk hidup di dunia ini. Bayangkan, kita akan lebih mengerti tentang manusia yang sesungguhnya amat rumit. Dengan mendengar kisah yang berbeda-beda, kita juga akan lebih banyak berempati. Lalu mengambil pelajaran berguna, untuk hidup kita sendiri.

  • Kita akan semakin paham bagaimana cara menjalani hidup dari kisah mereka. Keputusan yang diambil, cara mengatasi masalah dan hubungan sebab-akibat dari apa yang dilakukan seseorang dalam kehidupannya. Jadi kadang, kita tidak harus mengalami sendiri kesedihan yang pernah diceritakan lewat curhat tersebut, sebab kita sudah lebih dulu mengambil pelajarannya. Kita menjadi selangkah lebih maju, dan lebih dulu belajar tanpa harus benar-benar mengalami.

  • Namun ingat, menjadi pendengar yang baik pun butuh teknik. Pertama, tentunya sabar. Sediakan waktu yang cukup dan hindari interupsi. Kedua, menjaga bahasa tubuh kita. Mimik yang menyatakan ketidaksetujuan, memalingkan muka, atau memandang kosong akan membuat lawan bicara menjadi jera dan mengakhiri pembicaraan. Sebaiknya, perhatikan cerita dengan seksama, penuh konsentrasi dan menjaga kontak mata. Berikan atensi penuh, berikan anggukan.

  • Psikolog Roslina Verauli mengaku punya teknik agar selalu berhasil menjadi pendengar yang efektif. Pendengar harus bisa memahami sesuatu dari sudut pandang lawan bicaranya. Intinya, dalam pembicaraan itu, pesan tersampaikan dengan baik, tanpa ada salah komunikasi. "Kalau ada salah komunikasi atau justru bertengkar, itu berarti kita gagal memahami orang lain," katanya.

Anda suka artikel ini? Bagikan dengan teman-teman

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Shhh...berhenti bicara! Mari belajar mendengar

Tidak sedikit konflik yang terjadi dalam hubungan suami istri, disebabkan oleh hal sederhana. Salah satunya, rebutan bicara. Kedua pihak ingin didengar, namun tidak ada satu pun yang bersedia menjadi pendengar.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr