Sharing itu penting, tapi?

Wajar jika manusia membutuhkan orang lain baik suka maupun duka, tapi ternyata tidak selamanya sharing membuahkan kebaikan. Kok bisa? Ini dia alasannya.

714 views   |   1 shares
  • Sebagai makhluk sosial, manusia pasti membutuhkan kehadiran orang lain dalam hidupnya. Begitu pula dengan kebutuhan manusia untuk dianggap ada, juga membuat manusia membutuhkan pengakuan dari orang lain. Sehingga wajar jika manusia membutuhkan orang lain baik suka maupun duka, tapi ternyata tidak selamanya sharing membuahkan kebaikan. Kok bisa?

  • Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan sebelum kita memutuskan untuk sharing dengan orang lain.

  • Siapa yang melakukan sharing?

  • Kebanyakan dari mereka yang memang sering bercerita dengan orang lain adalah orang-orang yang memang karakternya terbuka. Mudah untuk mengungkapkan masalah bukan hanya secara pribadi tetapi juga dilakukan di media sosial. Selain itu orang-orang yang sangat vokal dalam sebuah komunitas, juga akan sangat mudah untuk melempar bahan diskusi untuk dibagikan dalam sebuah lingkungan itu sendiri. Tetapi bagi mereka yang memiliki karakter tertutup, mungkin akan berpikir berkali-kali untuk menceritakan sesuatu pada orang lain. Dan tentu saja dengan pertimbangan yang sangat lama, bisa saja seorang yang tertutup akan menceritakan hal tersebut, tetapi juga hanya untuk kalangan terbatas.

  • Siapa yang mendengarkan sharing?

  • Bagi seorang yang tertutup, ia akan memilih orang-orang tertentu yang akan ia ceritakan masalah pribadinya. Orang-orang terpercaya ini bisa suami atau istri, saudara, sahabat dekat atau orang lain yang memang memiliki ikatan batin yang sangat kuat. Sehingga tanpa harus banyak bicara, terkadang kita sudah merasa lega karena orang tersebut dapat memahami apa yang kita rasakan. Berbeda halnya dengan orang yang memiliki karakter terbuka, ia akan sangat lantang mengungkapkan perasaannya, baik itu senang, sedih, kecewa, dan marah. Dan orang-orang dengan karakter terbuka, seharusnya juga sudah siap dengan komentar orang lain tentang dirinya, yang dapat dengan gamblang menceritakan apapun tanpa disaring terlebih dahulu, mana yang memang pantas diceritakan dan yang tidak.

  • Apa yang di-sharing-kan?

  • Topik apa yang diceritakan juga sangat beragam, mulai dari masalah rumah tangga, masalah keluarga, masalah anak, masalah pekerjaan, bahkan ketika bermasalah dengan orang lain. Bagi orang-orang yang karakternya terbuka, hal ini akan sangat mudah diceritakan pada orang lain. Meskipun begitu mereka sudah siap dengan berbagai respons yang akan diberikan, entah itu pro atau kontra. Tetapi bagi mereka yang mempunyai karakter tertutup, topik-topik sensitif sangat-sangat dirahasiakan, dan hanya diceritakan pada orang-orang tertentu, atau bahkan dipendam sendiri dan memilih mencari tenaga profesional.

  • Advertisement
  • Tujuan sharing?

  • Kalau ini dikembalikan lagi kepada pribadi masing-masing, apa tujuan mereka menceritakan hal tersebut pada orang lain. Hanya sekedar melampiaskan emosi, agar merasa lebih nyaman. Mencari sensasi. Mencari kesamaan dari orang-orang yang mungkin mengalami hal serupa. Atau murni mencari bantuan dan saran untuk membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi. Who knows ?

  • Media sharing-nya apa?

  • Media disini terbagi menjadi dua, offline atau online. Offlineberarti kita hanya menceritakan pada orang-orang tertentu yang kita percaya secara pribadi. Bisa melalui telepon, pesan, atau diskusi langsung bertatap muka. Tentu saja orang yang kita pilih adalah orang dekat yang sudah mengenal style kita dalam bercerita. Sehingga pesan yang ingin kita sampaikan tidak ambigu dan multitafsir karena subjektifitas pendengar. Berbeda dengan media secara online, misalnya saja media sosial, atau curhat di dalam grup sebuah komunitas. Di mana di sana banyak kepala, banyak orang yang akan membaca dan memberi komentar, baik itu respons positif atau negatif. Kita pun harus sudah siap mendapatkan dukungan dan kritikan secara bersamaan. Risikonya pun juga harus kita terima, ada orang-orang yang support dan ada orang-orang yang tidak menyukai cara kita.

  • Nah, kelima hal ini semoga menjadi gambaran dan catatan buat diri sendiri, sebelum kita memutuskan untuk sharing dengan orang lain. Mau pilih yang mana, semuanya terserah kepada Anda.

Bagikan pada teman dan keluarga..

Profil Penulis Irni, lulusan Sarjana Psikologi UBAYA. Saat ini menetap di Jepang mendampingi suami bersama dua buah hatinya. Aktif menulis di berbagai media dan buku Pengembangan Diri. Baginya menulis adalah media berbagi pada sesama.

Situs: http://www.irniis.com

Sharing itu penting, tapi?

Wajar jika manusia membutuhkan orang lain baik suka maupun duka, tapi ternyata tidak selamanya sharing membuahkan kebaikan. Kok bisa? Ini dia alasannya.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr